Senin 28 Desember 2020, 11:15 WIB

KPK Panggil 3 Direktur Eksportir Lobster

KPK Panggil 3 Direktur Eksportir Lobster

Antara
Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito

 

KOMISI Pemberantasan Korupsi, Senin (28/12), memanggil tiga orang direktur perusahaan eksportir lobster sebagai saksi dalam penyidikan kasus suap perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.
  
Para saksi tersebut yakni Direktur PT Grahafoods Indo Pasifik Chandra Astan, Direktur PT Maradeka Karya Semesta Untyas Anggraeni, dan Direktur Utama PT Samudra Bahari Sukses Willy.
  
"Ketiganya dipanggil sebagai saksi untuk tersangka SJT (Suharjito)," ujar Pelaksana tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin.
  
Suharjito merupakan Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada November lalu. Selain Suharjito, KPK juga telah menetapkan enam orang tersangka lainnya, yakni mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (EP), Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF),
  
Berikutnya Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Pribadi Misata (APM), Amiril Mukminin (AM) dari unsur swasta, pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD), dan staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih (AF).
  
Baca juga: KPK Sita Ruko Terkait Kasus di Badan Informasi Geospasial

KPK dalam perkara ini menetapkan Edhy sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang mendapat penetapan izin ekspor benih lobster menggunakan perusahaan forwarder dan ditampung dalam satu rekening hingga mencapai Rp9,8 miliar.
  
Uang yang masuk ke rekening PT ACK yang saat ini jadi penyedia jasa kargo satu-satunya untuk ekspor benih lobster itu selanjutnya ditarik ke rekening pemegang PT ACK, yaitu Ahmad Bahtiar dan Amri senilai total Rp9,8 miliar.
  
Selanjutnya pada 5 November 2020, Ahmad Bahtiar mentransfer ke rekening staf istri Edhy bernama Ainul sebesar Rp3,4 miliar. Dana itu diperuntukkan bagi keperluan Edhy dan istrinya, Safri serta Andreau. Uang itu dipergunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy dan istrinya di Honolulu, AS pada 21 sampai dengan 23 November 2020 sejumlah sekitar Rp750 juta diantaranya berupa jam tangan Rolex, tas Tumi dan LV, dan baju Old Navy.
  
Selain itu, sekitar Mei 2020, Edhy juga diduga menerima 100 ribu dolar AS dari Suharjito melalui Safri dan Amiril. (P-5)

Baca Juga

Dok Kemendikbud RI

Yuk Mengenal Dekrit Presiden 5 Juli 1959

👤Farrel Ardan 🕔Kamis 09 Desember 2021, 09:15 WIB
Dikeluarkannya Dekrit Presiden mendapat dukungan dari rakyat Indonesia. Karena dengan dekrit tersebut membuat kondisi politik di Indonesia...
ANTARA/Galih Pradipta

NasDem Minta Kasus Jiwasraya tidak Pengaruhi Hak Pensiunan

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 09 Desember 2021, 08:48 WIB
"Intinya, masalah Jiwasraya itu tidak boleh mempengaruhi manfaat yang diterima, khususnya bagi polis yang tidak ada kaitan dengan...
dok.ist

Majelis Rakyat Global Indonesia akan Dideklarasikan

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 09 Desember 2021, 07:11 WIB
INISIATOR dari Majelis Rakyat Global Indonesia adalah organisasi masyarakat sipil JAKI dan Indonesian...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya