Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KEINGINAN masyarakat yang tinggal di wilayah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020 masih tetap tinggi untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS), meski saat ini terjadi pandemi Covid-19. Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan kemungkinan masyarakat hadir di TPS di wilayah yang ada pilkada, yakni 57,2%.
"57,2% pemilih tetap datang ke TPS," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam diskusi hasil survei nasional bertajuk "Politik, Demokrasi, dan Pilkada di Era Pandemi", yang digelar secara daring, Minggu (25/10).
Burhanudin menjelaskan survei yang dilakukan 23 hingga 30 September 2020, melibatkan 1200 orang dengan metode wawancara melalui telepon. Responden dipilih secara acak dari basis data yakni 206 ribu yang pernah diwawancarai secara tatap muka pada Februari 2020.
Dari jumlah itu 27% atau 27% atau 5614 responden dihubungi dan 1200 berhasil diwawancarai melalui telepon dengan sampel yang berasal dari seluruh provinsi terdistribusi secara proporsional. Survei ini memiliki margin of error kurang lebih 2,9%.
Survei juga memperlihatkan bahwa 57,4% responden di wilayah yang menggelar pilkada. Dari jumlah tersebut 47,9% menyatakan cenderung setuju pilkada ditunda sedangkan sekitar 46,3% responden setuju menyatakan pilkada tetap dilanjutkan.
Penolakan pilkada dilanjutkan, terang Burhanuddin, justru berasal dari responden yang wilayahnya tidak menggelar pilkada, 53,3% dari mereka setuju pilkada ditunda. Sebaliknya 39,4% responden yang tinggal di wilayah tanpa pilkada menyatakan tidak apa-apa jika pilkada dilanjutkan.
"Yang menuntut tunda atau tidak sama-sama kuat (di wilayah yang ada pilkada). Justru responden yang tinggal di wilayah yang tidak ada pilkada justru menuntut untuk ditunda," ucapnya.
Selain itu, survei menunjukkan 45,5% responden setuju dengan metode kampanye pilkada kampanye terbatas, 10,7% lainnya menyatakan tidak apa-apa dilakukan kampanye terbuka di tengah pandemi, dan 33,9% responden cenderung menyetujui kampanye virtual. Sedangkan 9,9% tidak menjawab.
Hal lain yang menarik dari survei, terang Burhanuddin, 68,7% responden setuju pilkada serentak menyebabkan kerawanan terhadap penyebaran Covid-19. Tetapi, tidak lantas membatalkan keinginan sebagian pemilih agar pilkada tetap dilaksanakan.
"Ada variabel lain yang menyebabkan mereka ingin pilkada tetap dilaksanakan tahun ini, satu mungkin karena sudah keputusan dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sudah ada sosialisasi, atau merasa bisa memitigasi karena ada aturan dari KPU yang ketat misalnya," terangnya.
Untuk sanksi kepada paslon pelanggar protokol kesehatan selama proses kampanye, Burhanuddin mengatakan 50,3% responden setuju sanksi diskualifikasi, 8,4% setuju dengan sanksi pidana, 16,7% memilih sanksi denda berupa uang, 18,2 % setuju dengan sanksi larangan berkampanye, 5,5% responden memilih tidak menjawab, dan 0,9% setuju dengan sanksi bentuk lain. (R-1)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Struktur insentif politik Indonesia yang masih tersentralisasi membuat kompetisi elit nasional tetap berlanjut di level daerah.
Tanpa perubahan mendasar, parlemen berpotensi semakin dikuasai kelompok bermodal besar.
Taufan menyoroti persoalan ambang batas parlemen yang menurutnya menjadi isu penting dan membutuhkan kajian panjang serta komprehensif agar dapat ditentukan metode yang paling tepat.
Dalam konfigurasi tersebut, Perludem menilai jika kepala daerah dipilih oleh DPRD, maka hasil Pilkada berpotensi terkunci sejak awal.
Yusril berpandangan pilkada tidak langsung melalui DPRD justru selaras dengan falsafah kedaulatan rakyat, sebagaimana dirumuskan dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, menyarankan agar pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) demi melindungi konsumen akhir.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juli 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta hanya mencapai 4,76% (yoy).
Hasil survei nasional ungkap tantangan dan rumuskan arah kebijakan baru.
Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga, bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan.
Berdasarkan survei, mayoritas masyarakat puas dengan kinerja Polri dan berharap dapat menjadi simbol supremasi sipil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved