Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA telah ditetapkan Green Climate Fund (GCF), sebuah lembaga pendanaan untuk melawan perubahan iklim yang dibentuk PBB, berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari kegiatan deforestasi dan degradasi hutan.
Lembaga itu pun menyetujui pengucuran dana senilai US$103,8 juta (sekitar Rp1,5 triliun dengan kurs Rp14.000 per dolas AS) sebagai pembayaran berbasis kinerja yang dikenal dengan skema results-based payment (RBP).
Dalam keterangannya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, di tengah pandemi covid-19 dan pemberitaan buruk yang kerap mewarnai sektor kehutanan, capaian itu menunjukkan respons yang mengesankan dari Indonesia terhadap ancaman perubahan iklim.
“Ini juga merupakan wujud peningkatan kepercayaan di dalam negeri dan komunitas internasional,” ungkap Siti, kemarin.
Ia menjelaskan, REDD+ merupakan pendekatan tata kelola hutan yang baik (good forest governance). Konteks terpenting dalam REDD+ ialah deforestasi.
Di Indonesia, deforestasi dipicu banyaknya kepentingan, termasuk perkebunan, pertanian, pertambangan, dan permukiman. Itu sebabnya, tanda ‘plus’ ditambahkan pada singkatan REDD karena pendekatan tata kelola hutan yang baik tidak melulu konservasi dan perlindungan area hutan, tetapi juga mempertimbangkan dan mengarusutamakan beragam aspek, termasuk aspek kemasyarakatan dan tentunya perekonomian.
“Selain itu, hal ini juga memperlihatkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan komitmennya yang tercantum dalam Persetujuan Paris yang telah diratifikasi melalui UU No 16/2016,” jelas Siti.
Sementara itu, kata dia, skema RBP ialah pembayaran berbasis hasil kerja penurunan emisi GRK dalam kerangka REDD+. Data penurunan emisi harus terlebih dahulu diverifikasi lembaga independen yang ditunjuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
“Proses penilaiannya pun dilakukan secara transparan. Karena itu, pencapaian berupa pendanaan REDD+ RBP dari GCF ini bukan sekadar klaim tak berdasar, melainkan pengakuan dunia atas keberhasilan Indonesia mengurangi laju deforestasi secara konsisten dan menurunkan emisi GRK yang sudah diverifikasi sampai 2017,” lanjut dia.
Siti mengatakan, data penurunan emisi GRK yang telah terverifi kasi GCF itu merupakan kinerja pemerintah Indonesia pada periode 2014-2016. Sebelumnya, Indonesia juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah Norwegia dalam skema yang sama senilai US$56 juta. (Gan/E-2)
Peningkatan kapasitas produksi tersebut akan memberikan dampak ganda, baik dari sisi pengurangan impor bahan bakar maupun penurunan emisi gas rumah kaca.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
“Menurut Data KLHK (2023) sampah makanan sebesar 41,4% dari total sampah di Indonesia. Setiap orang menyumbang sampah makanan sebesar 115–184 kg per tahun,”
TERBITNYA Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 dinilai sebagai tonggak penting bagi Indonesia dalam membangun ekonomi hijau.
PT Mitra Kiara Indonesia (MKI), perusahaan terafiliasi Semen Indonesia Group (SIG), mengambil langkah penting menuju dekarbonisasi industri.
WMO laporkan kadar CO2 global capai rekor tertinggi pada 2024. Lonjakan emisi ini mempercepat pemanasan bumi dan ancam keseimbangan iklim dunia.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved