Sabtu 29 Agustus 2020, 13:20 WIB

Bawaslu Sulit Awasi Kampanye Pilkada di Whatsapp

Indriyani Astuti | Politik dan Hukum
Bawaslu Sulit Awasi Kampanye Pilkada di Whatsapp

MI/Ramdani
Bawaslu

 

KANDIDAT kepala daerah saat ini lebih banyak memanfaatkan media sosial dalam berkampanye. Pengawasan terhadap pelanggaran kampanye di media sosial, menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara pemilu.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengakui meskipun telah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk mengawasi pelanggaran kampanye di media sosial, tetapi untuk jenis aplikasi Whatsapp (WA) kesulitan.

"Pengawasan dari segi teknologinya akan susah. WA dari segi teknologi encription (tertutup). Bukan berarti tidak bisa  tapi harus dilakukan secara investigatif," ujar Komisioner Bawaslu Fritz Edward Siregar ketika dihubungi, di Jakarta, Sabtu (29/8).

Fritz menjelaskan saat pemilu 2019,  kampanye melalui aplikasi WA masif dilakukan. Penindakan pelanggaran kampanye di aplikasi Whatsapp, hanya dapat ditindaklanjuti apabila ada laporan dan temuan. Penindakan tidak mustahil dilakukan dengan kerja sama antara Bawaslu dan Kepolisian dalam mengidentifikasi pihak yang membagikan hoaks, berita bohong, ataupun kampanye hitam melalui aplikasi Whatsaap seperti yang terjadi pada pemilu 2019.

"Siapa yang mengirimkannya, penyebarnya. Pada pemilu lalu hal itu terjadi, dikirim lewat WA dan berhasil ditindak polisi," imbuh Fritz.

Diakui Fritz, ada keterbatasan bagi Bawaslu dalam menindak pelanggaran kampanye di media sosial Whatsapp. Sebab tidak diakomodir dalam Undang-Undang No.10/2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Namun, kepolisian dapat menggunakan pasal 14 atau 15 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yakni mengacu pada ujaran kebencian atau penyebar berita palsu untuk menjerat siapapun pelakunya.

"Ini salah satu persoalan penegakan hukum sebab yang melakukan kampanye bukan hanya peserta pilkada dan tim sukses tapi bisa orang lain misalnya simpatisan. Kalau mengacu UU Pilkada, tidak boleh melakukan kampanye seperti itu," papar Fritz. (OL-13)

Baca Juga: 230 Tenaga Kontrak BPS di Sumedang Jalani Rapid Test

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

WP KPK Nilai Tes Kebangsaan Dibuat Untuk Mendepak Pegawai

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Kamis 06 Mei 2021, 07:23 WIB
Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai tes wawasan kebangsaan merupakan jebakan. Tes itu dinilai disiapkan untuk mendepak para...
Dok MI/Rommy Pujianto

Hendardi: Tidak Lolosnya Pegawai KPK Hal Biasa

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 07:11 WIB
Ketua Setara Institute, Hendardi menanggapi kabar tidak lolosnya sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam alih status...
MI/Ramdani

Pegawai KPK jadi ASN, Pakar : Tetap Harus Independen

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 06 Mei 2021, 00:26 WIB
Ia pun menyayangkan adanya pemikiran-pemikiran yang beranggapan bahwa penyidik KPK tidak boleh ASN karena harus...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Citarum Mulai Harum

  Sudah tiga tahun Sungai Citarum dikeroyok. Sampah mulai berkurang, air terlihat lebih bersih.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya