Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MAYORITAS publik lebih puas pada pemerintah daerah ketimbang pemerintah pusat dalam penanganan pandemi Covid-19. Mayoritas responden yakni 57,3% menyatakan puas dan 41,1% responden menyatakan tidak puas. Sisanya, 0,3% menjawab tidak tahu. Demikian salah satu temuan survei Radio Republik Indonesia (RRI) dan Indo Barometer.
Dari 57,3% total masyarakat yang menyatakan puas terhadap penanganan pemerintah provinsi, 4% menyatakan sangat puas dan 53,3% menyatakan puas.

Alasan responden puas terhadap penanganan virus korona oleh pemerintah provinsi adalah gubernur lebih tanggap dibanding pemerintah pusat (26,2%), pencegahan penularan Covid-19 di daerah bagus (22,7%), kerja tenaga medis di daerah sudah bagus (10,2%).
Selain itu, jumlah terinfeksi semakin hari semakin menurun (7,6%), kerja nyata gubernur (7,1%), gubernur lebih mengerti daerah dibanding pusat (6,2%), pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di daerah sudah berjalan baik (6,2%).
Selanjutnya, di daerah lebih aman dibandingkan di kota (4,4%), gubernur menekan arus mudik (3,1%), ada bantuan provinsi (1,3%), penanganan pencegahan Covid-19 lebih tertib (1,3%), aturan gubernur tegas (1,3%), distribusi bantuan sudah baik (1,3%), serta imbauan gubernur jelas (0,9%).
Sementara masyarakat yang tidak puas dengan cara penanganan Covid-19 oleh pemerintah provinsi sebanyak 41,1%. Dengan perincian 38,3% tidak puas dan 2,8% tidak puas sama sekali.
Alasan yang membuat masyarakat menyatakan tak puas terhadap penanganan Covid-19 oleh pemerintah provinsi yaitu distribusi bantuan lambat (20,8%), PSBB banyak pelanggaran (14,6%), bantuan tidak tepat sasaran (12,8%), banyak warga di daerah tidak disiplin (11,7%), bantuan tidak merata (10,6%), kurang pengawasan terhadap penerapan PSBB (6,6%), alat pelindunng diri (APD) di rumah sakit kurang memadai (5,1%).
Berikutnya, Gubernur DKI Jakarta selalu berbeda dengan aturan pusat (4,4%), Jakarta terlalu banyak penyebaran Covid-19 (3,6%), penegakan aturan kurang tegas (2,9%), banyak penambahan positif korona (2,6%), penerapan PSBB tidak efektif (1,8%), gubernur sama saja dengan presiden (1,5%), rapid test tidak menyeluruh (1,1%).
Baca juga: Mayoritas Warga tak Puas dengan Cara Jokowi Tangani Covid-19
Survei yang dilakukan RRI dan Indo Barometer tersebut dilaksanakan di 7 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten dan Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan pada 12-18 Mei 2020.
Metode penarikan sampel menggunakan quota dan purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 400 orang dengan margin of error 4,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden dilakukan wawancara via telepon seluler dengan kuesioner. (OL-6)
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved