Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAJAR Ilmu Politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman menganggap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie tidak menelusuri fakta dengan seksama terkait penanganan virus korona atau covid-19 di negara demokrasi.
"Faktanya enggak ditelusuri dulu dengan seksama," kata Airlangga kepada Media Indonesia, Kamis (7/5).
Dia memaparkan fakta yang lebih kuat kalau beberapa negara demokrasi, baik secara institusional maupun kualitas demokrasi tidak merosot, yang memiliki kemampuan terbaik menghadapi covid-19.
"Negara demokrasi yang dipimpin perempuan dan tidak terpikat rayuan populisme kanan seperti Selandia Baru, Islandia, Denmark, Australia, Norwegia, dan Taiwan adalah negara-negara yang mampu menjaga ketahanan sosial menghadapi virus korona dengan korban warga meninggal terbatas," papar Airlangga.
Baca juga: Jimly Anggap Negara Nondemokrasi lebih Baik Tangani Korona
Adapun negara demokrasi dengan tingkat kematian terbesar seperti Amerika Serikat, Brazil, dan Inggris, adalah negara-negara dengan kualitas demokrasi sedang terjungkal karena dipimpin oleh kekuatan populis kanan.
Sebab, imbuhnya, pemerintah di negara-negara populis kanan itu lebih mengedepankan pertimbangan ekonomi demi popularitas pemimpin ketimbang keselamatan warga mereka.
Baca juga: Polri Belum Denda Pelanggar PSBB dan Larangan Mudik
Pemimpin populis kanan itu, imbuhnya, memiliki karakteristik tidak percaya dengan peringatan ilmuwan, menyalahkan yang lain, meremehkan peringatan, dan mengutamakan pasar daripada keselamatan warga mereka.
"Sehingga penilaian demokrasi sama dengan rentan korona itu tidak valid," tegas dia.
Menurut dia, kunci menghadapi virus korona bukanlah monopoli negara otoritarian atau nondemokrasi, melainkan kualitas pemimpin di negara yang peduli terhadap warga dengan karakter decisive, peduli, jujur menyatakan bahaya sebagai bahaya, kapasitas teknologi dan akses warga terhadapnya, serta secara ekonomi-politik adalah negara dengan tingkat kompromi terendah terhadap platform ekonomi neoliberalisme.
Baca juga: Dukung Exit Strategy, Kadin: Pabrik Siap Beroperasi Kembali
Di negara demokrasi yang bisa menangani virus korona, kata dia, pemimpin sigap dan hadir di masyarakat. "Mereka hadir dan mengambil kebijakan melindungi warga yang mungkin pahit secara ekonomi. Mereka juga sudah memperhitungkan kepahitan itu dengan menjamin supply chain produk kebutuhan masyarakat. Mereka tinggal menunggu waktu untuk pemulihan ekonomi lebih awal dari negara-negara yang tidak sigap," ujarnya. (X-15)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved