Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBERAGAMAN di Indonesia sudah mengakar sejak lama. Hal itu terbukti dari peran etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia. Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo menyebut, etnis Tionghoa bahkan sudah berperan sejak Sumpah Pemuda.
"Sejak awal negara kita adalah negera kebangsaan. Dalam konteks etnis Tionghoa, besar perannya karena ketika sumpah pemuda yang memberikan tempat adalah mereka,” ungkap Benny, Sabtu (1/2) dalam acara perayaan Imlek yang digelar oleh Forum Bantara Pancasila di Cilandak Town Square, Jakarta.
Benny menambahkan, lagu Indonesia Raya bisa dinyanyikan juga berkat etnis Tionghoa. Menurutnya, Soekarno dan Mohammad Hatta sudah menganggap Etnis Tionghoa sebagai bagian Indonesia.
Berkaca dari kebenaran sejarah tersebut, Benny menegaskan, diera sekarang khususnya dalam konteks perayaan hari besar sudah seharusnya jauh dari kata diskriminasi.
"Sekarang ini kebebasan memeluk agama dan merayakan hari besar sudah bebas dan tidak ada diskriminasi," tegasnya.
Baca juga : Shio Saya Kerbau, Mesti Kerja Lebih Keras
Benny berpesan bahwa generasi milenial harus menjadi modal bagi bangsa Indonesia dengan prestasi, terbuka, dan menghargai kemajemukan.
"Keterbukaan, menghargai kemajemukan dan berprestasi merupakan modal untuk kemajuan Bangsa Indonesia. Mari kita kemas gen pancasila itu sebagai modal kemajuan bangsa," ungkapnya.
Pendiri Positif Movement Inaya Wahid menjelaskan, alasan diperbolehkannya perayaan Imlek sekarang ini karena etnis Tionghoa adalah bagian dari Bangsa Indonesia.
"Selain itu, memperjuangkan peradaban dan kebudayaan ini sesuai dengan UUD 1945 dan keadilan," jelas Inaya.
Inaya menegaskan, keberagaman menjadikan kekuatan Indonesia semakin besar.
Baca juga : Perayaan Imlek Nasional Teguhkan Persatuan dalam Keberagaman
Ketua Panitia Forum Bentara Pancasila Arief Novianto menjelaskan Etnis Tinghoa yang ratusan tahun berada di Indonesia, berbaur dengan keragaman suku lainnya di Indoensia.
"Ini adalah peristiwa kebudayaan yang dirayakan oleh etnis Tionghoa, apa pun agamanya," katanya terkait perayaan Imlek.
Arief mengungkapkan, sepanjang Orde Baru, Imlek tak bisa dirayakan secara terbuka. Baru pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Imlek dirayakan secara terbuka hingga saat ini.
"Namun saat ini di tengah meriahnya perayaan Imlek yang dirayakan di berbagai tempat, kita masih menemukan adanya kecurigaan dan sentimen tertentu pada etnis Tionghoa," tutupnya. (OL-7)
Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno dikenal sebagai sosok pemimpin yang mampu merangkul berbagai kalangan.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan bahwa pendidikan Pancasila harus menjadi arus utama dalam pembentukan karakter generasi muda
PENGUATAN ideologi negara bukan lagi sekadar wacana akademis, melainkan faktor kunci keberhasilan transformasi menuju Indonesia. Pancasila
BPIP bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila
DEWAN Pimpinan Pusat Gerakan Nasionalis (DPP GAN) menggelar audiensi dengan Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina, beserta jajaran.
BPIP meraih predikat Informatif dengan nilai 93,35 pada Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025 oleh Komisi Informasi Pusat (KIP).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved