Senin 27 Januari 2020, 08:25 WIB

Kepartaian Sederhana Topang Presidensial

Nur Aivanni | Politik dan Hukum
Kepartaian Sederhana Topang Presidensial

MI/Susanto
Sekretaris Fraksi NasDem, Saan Mustopa

 

APAKAH setuju dengan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 5% seperti usulan PDIP?

NasDem 5 tahun yang lalu saja sudah meminta ambang batas parlemen itu 7% untuk pemilu 2019. Ketika ada fraksi yang mengusulkan kenaikan ambang batas seperti PDIP 5%, itu buat NasDem lebih baik. Artinya, ada kesadaran di antara partai-partai untuk menaikkan ambang batas parlemen.

 

Mengapa harus naik?

Ambang batas parlemen kenapa terus dinaikkan, sampai suatu ketika ada pada titik ambang batas yang ideal. Ini terkait dengan semangat dalam rangka penyederhanaan partai politik agar keberadaan partai politik ini sebangun dengan sistem ketatanegaraan kita yang presidensial. Sistem presidensial bisa berjalan efektif kalau ditopang oleh sistem kepartaian yang sederhana. Sistem presidensial tidak akan efektif kalau sistem kepartaiannya multi (partai).

 

Bagaimana dampaknya pada kualitas demokrasi?

Kalau ada partai yang mainstream jumlahnya tidak terlalu banyak justru stabilitas politik menjadi lebih terjaga, sistem presidensial menjadi efektif, dan itu juga semakin memapankan sistem demokrasi kita. Jadi, kualitas demokrasi kita semakin baik. Asalkan proses penyederhanaannya berlangsung alamiah, bukan dipaksakan. Dulu kan dipaksakan (saat) zaman Orde Baru, partai harus tiga.

 

Bukankah hanya akan menguntungkan partai besar?

NasDem kan dulu kalau disurvei cuma berapa, tapi kenyataan di pemilu 9 sekian persen, sudah melampaui 7%. Jadi, kalau mereka yang mendirikan partai baru atau partai lama tidak lolos threshold, kalau dia ingin sungguh-sungguh bisa melampaui threshold, dia harus maksimal mengelola partainya, jangan asal sekadar bikin partai saja. Kan sebenarnya enggak ada partai yang diuntungkan dengan threshold, semua partai berjuang untuk menjadi besar.

 

Bagaimana bila suara rakyat kemudian banyak yang hangus?

Enggak ada yang hangus, toh mereka tetap terwakili. Ketika, misalnya, saya jadi anggota legislatif, toh mewakili semua juga. Kita merepresentasikan semua. Anggota DPR yang ada, walaupun berangkat dari partai yang berbeda-beda, dia merepresentasikan seluruh masyarakat Indonesia. (Nur/P-2)

Baca Juga

Ist

Wasekjen Golkar : Pengamat Tidak Bisa Bedakan Acara Nikah dan Acara Partai

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 18:58 WIB
Sekelas Ray Rangkuti yang katanya pengamat politik, hanya karena Anies Baswedan diundang acara pernikahan anak pengurus Golkar lantas...
DOK Biro Pers/Setpres/Lukas.

Pemindahan Pusat Pemerintahan masih Dikaji

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 23 Januari 2022, 17:15 WIB
Pemindahan IKN juga tidak terlepas dari pemindahan ASN sebagai pegawai yang bekerja di instansi pemerintah...
Antara/Muhammad Adimaja.

ISESS: Arteria Dahlan tidak Berhak Punya Pelat Nomor Polisi

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Minggu 23 Januari 2022, 16:25 WIB
Ia juga menilai Arteria sebagai anggota DPR tak layak melakukan pembohongan kepada publik terkait penggunaan pelat palsu untuk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya