Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Presiden Ma'ruf Amin meminta penanganan terorisme dilakukan secara komprehensif. Hal tersebut mengemuka dalam rapat internal yang digelar oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Istana Wakil Presiden, Jakarta.
"Pak Wapres meminta masukan sekaligus berdiskusi mengenai pembuatan grand design strategi yang lebih komprehensif dalam menghadapi khususnya terorisme," kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian seusai rapat, Jumat (15/11).
Hadir dalam rapat tersebut, antara lain Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, dan Kepala BNPT Suhardi Alius.
Dalam melakukan pencegahan maupun penegakan hukumnya, dikatakan Tito, itu memerlukan kerja sama dari lintas sektoral. "Bukan hanya Kepolisian atau BNPT saja. Strategi pencegahannya melibatkan banyak sekali stakeholder misalnya Kemendikbud, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial dan lainnya," jelasnya.
Rapat tersebut, sambung Tito, juga disepakati bahwa BNPT tetap sebagai sentral utama dalam mengkoordinir harian semua stakeholder baik pemerintah maupun non pemerintah. Hanya saja, sambungnya, itu akan di bawah koordinasi langsung Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
"Selama ini kan koordinasinya di bawah satu Menko, (yaitu) Menko Polhukam. Menko Polhukam tetap, tapi karena ini lintas Menko, seperti Menteri Agama, Mendikbud kan bukan di bawah Menko Polhukam, jadi tidak cukup, sehingga di sini perlu ada koordinasi di bawah lintas Menko," tuturnya.
Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk mengkoordinasi penanganan terorisme pun dinilai tepat. Pasalnya, masalah terorisme berhubungan dengan masalah pemahaman. "Pak Wapres kita adalah ulama besar," imbuhnya.
Dalam rapat tersebut, diutarakan Tito, juga dibahas mengenai pencegahan radikalisme di lingkup ASN terutama di daerah. Untuk mengatasi itu, kata Tito, butuh grand design dalam penanganannya sehingga masing-masing kementerian/lembaga mempunyai tugasnya masing-masing. "Perlu ada grand design sehingga dari setiap kementerian berbuat apa," tandasnya. (OL-8)
Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi menegaskan bahwa DKB merupakan hasil proses pembersihan dan sinkronisasi ketat untuk menghapus data ganda atau anomali.
DIREKTORAT Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat sebanyak 5,5 juta penduduk Indonesia bercerai pada 2025.
Berdasarkan Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II 2025 yang dihimpun, diketahui jumlah penduduk Indonesia mencapai 288.315.089 jiwa. Penduduk laki-laki memiliki jumlah lebih tinggi.
MAYORITAS penduduk Indonesia saat ini berada pada kelompok usia produktif. Hingga Semester II Tahun 2025, sebanyak 199.026.595 jiwa berada di rentang usia 15 hingga 64 tahun.
DKB merupakan hasil proses pembersihan dan sinkronisasi ketat untuk menghapus data ganda atau anomali.
Persentase perekaman KTP-el telah mencapai 97,47 persen, yakni 206.467.957 jiwa dari total wajib KTP sebsar 211.826.747 jiwa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved