Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Gaet Milenial, Capres-Cawapres Harus Bisa Tawarkan Solusi

M. Ilham ramadhan Avisena
06/4/2019 00:18
Gaet Milenial, Capres-Cawapres Harus Bisa Tawarkan Solusi
Kopitalk bertajuk 'Kemana Suara Milenial Berlabuh, dimoderatori Kepala Divisi Content Enrichment Media Indonesia, Ade Alawi, Jumat (5/4)(MI/Pius Erlangga)

MAKIN dekatnya hari pemilihan membuat pasangan calon presiden-wakil presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno makin gencarr untuk merebut suara generasi milenial.

Dengan jumlahnya yang mencapai sekitar 80 juta dari 187 juta pemilih , kantong suara dari generasi milenial menurut peneliti Departemen Politik dan Perubahan Suara CSIS Arya Fernandes, pantaslah menjadi sasaran yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh kedua paslon.

Oleh karenanya, kedua kandidat haruslah membawa isu yang tidak lagi bersifat makro saja.

"Yang bisa dilakukan adalah, kandidat merubah model kampanyenya, tidak lagi bicara isu yang makro. Tapi harus kepada hal yang lebih spesifik lagi agar bisa menarik perhatian milenial,"  kata Arya  dalam Talkshow Kopitalk Indonesia dengan tema 'Kemana Suara Milenial Berlabuh' yang diselenggarakan oleh Media Indonesia, Koperasi Komunitas Kopi Indonesia, TV Desa dan Most Radio di Ayookopi Iron Samurai, Jakarta, Jumat (5/4).

Selain itu, baik Jokowi-Ma'ruf ataupun Prabowo-Sandi, dapat mendapatkan suara dari generasi milenial bila memerhatikan isu yang strategis untuk generasi milenial itu sendiri, salah satunya ialah pemberantasan korupsi.

"Pemberantasan korupsi adalah isu yang seksi untuk menarik milenial," imbuh Arya.

Membawa isu penguatan demokrasi ke jenjang yang lebih baik juga merupakan hal yang dinilai mampu menarik perhatian milenial.

Arya menambahkan, komitmen kedua kandidat itu menguatkan demokrasi ditengah penurunan indeksnya dalam lima tahun terakhir merupakan hal yang menarik.

Baca juga : Gerakan Ayo Memilih Ajak Milenial tidak Golput

Lebih jauh, berdasarkan pengamatannya, milenial tertarik pula dengan isu lingkungan seperti persoalan sampah dan perubahan iklim yang mengglobal namun jarang digaungkan oleh kedua kandidat.

"Ini jarang dibicarakan orang, isu lingkungan, bagaimana kandidat menyikapi perubahan iklim, sampah dan isu lingkungan lainnya," jelasnya.

Ambassador Generasi Melek Politik, Aurelia Vizal mengatakan, kedua kandidat kerap salah mengartikan apa itu milenial. Menurutnya, milenial sendiri memiliki tiga tingkatan yang berbeda.

"Menurut saya, milenial golongan pertama adalah mereka yang masih SMA, kebutuhannya lebih ke masalah sosial, feminisme, cyber bullying. Kedua, golongan milenial memasuki lapangan kerja, mereka lebih concern ke persoalan binaan kerja yang dijalankan pemerintah. Ketiga, milenial yang sudah punya pekerjaan, mereka cenderung melihat sisi politik ekonomi dan kebijakan pemerintah," terangnya.

Swing voters kerap disandingkan kepada generasi milenial yang masih dalam tahap pengenalan kepada dunia politik di Indonesia sehingga mereka terkesan pasif.

Namun, hal itu dibantah oleh Aurelia, menurutnya kaum milenial justru jauh lebih kritis ketimbang generasi lainnya.

"Anak muda pasif, bukan berarti tidak mau tahu, tapi mereka ingin dijelaskan bagaimana dua kandidat akan bertindak bila terpilih. Milenial akan memilih berdasarkan pada rasionalitas program yang ditawarkan, bukan hanya dengan gaya yang mengaku milenial atau dekat milenial," tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Milenial Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Deny Giovano mengatakan, program yang disampaikan oleh Jokowi telah menrepresentasikan kebutuhan milenial saat ini.

"Kartu KIP dan kartu pra kerja, itu menyesuaikan kebutuhan milenial. Karena keluhan cukup banyak adalah terkait pengangguran dari kalangan milenial," ujar Deny.

Lain halnya dengan kubu Prabowo-Sandiaga, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Tryanza Maulana mengatakan, kubu 02 sudah mewakili kebutuhan generasi milenial. Salah satunya ialah terlibatnya sosok Sandiaga Uno sebagai calon Wakil Presiden.

Baca juga : JRC : Upaya Kedua Kandidat Gaet Milenial Sebatas Gimmick

"Kita merasa milenial tidak hanya menjadi objek politik saja. Pemilihan figur sangat penting, tetapi pelibatan langsung untuk mengambil kebijakan jauh lebih penting. Contohnya adalah Sandi yang mewakili milenial maju menjadi cawapres," ungkapnya.

Lebih jauh, Arya mengatakan, dari pengamatan yang dilakukan, perebutan suara generasi milenial akan sengit. Meskipun begitu, hampir di semua zona wilayah Indonesia, pasangan 01 unggul dikalangan milenial dari pasangan 02.

"Perebutan di segmen milenial akan keras. Walaupun dihampir semua zona, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Bali, Maluku ada dominasi dari 01. Sementara dua daerah 02 lebih dominan, yakni di Jakarta dan Banten," tandasnya. (OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya