Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengkritik gaya calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno yang kerap mengeksploitasi kasus individu. Seorang pemimpin dinilai harus bisa melihat masalah secara holistik dan komprehensif.
Hal itu disampaikan anggota TKN Jokowi-Amin, Hasbullah Thabrany. Ia menyebut, dalam sejumlah agenda politiknya, Sandi kerap mengangkat kasus individu warga. Namun kasus itu diangkat hanya demi menunjang kepentingan politik Sandi, seperti di dalam debat capres dan cawapres.
Menurut Hasbullah, apa yang dilakukan Sandi tidak akademis. Sebab secara akademis sebuah kasus harus diuji dengan kasus pembanding untuk ditarik kesimpulan. Tanpa sampel pembanding, sebuah kasus sulit dijadikan sebagai kesimpulan.
“Jika cara seperti yang dilakukan Sandi dipakai, maka bukannya akan mengatasi masalah melainkan akan menimbulkan masalah baru,” kata Pakar kesehatan Universitas Indonesia itu dalam keterangan tertulis, Kamis (21/3)
Sebab, kata dia, hanya dengan cara memahami kasus secara umumlah persoalan bisa dituntaskan. "Apa yang dilakukan Sandi dengan mengangkat satu kasus tidak akademis. Sebab sebuah kasus belum tentu mencerminkan masalah yang terjadi," kritik Hasbullah.
Dia menilai, seorang pemimpin harus bisa mengidentifikasi persoalan secara umum. Kegagalan mengidentifikasi persoalan bangsa secara umum menjadi cermin ketidakmampuan seseorang untuk jadi pemimpin.
Baca juga : TKN: Toko Oke Oce Banyak yang Tutup
"Saya lebih menilai Kiai Ma'ruf lebih mampu mengidentifikasi masalah secara akademis," ujar Hasbullah yang berpatokan pada hasil debat cawapres, akhir pekan lalu.
Sandiaga Uno menyebut nama seorang wanita bernama Lies saat menjelaskan isu kesehatan di debat cawapres 2019. Sandiaga juga kerap menyebut beberapa nama saat pidatonya yang diklaim ditemuinya saat melakukan kampanye.
Kritik soal kepemimpinan Sandi juga datang dari Ketua DPRD DKI, Prasetyo Edi Marsudi. Pria yang pernah menjadi mitra kerja Sandi saat menjadi wakil gubernur DKI itu menilai, ketidakmampuan Sandi memotret persoalan secara umum tercermin nyata saat memimpin ibu kota.
Prasetyo merujuk program Oke Oce yang awalnya diidentifikasi sebagai solusi atas sebuah persoalan. Bukannya menjadi solusi, Oke Oce malah dinilai menciptakan persoalan baru.
"Kita melihat Oke Oce gagal di mana-mana dan kini harus ditutup. Ini merupakan bukti nyata kegagalan kepemimpinan Sandi," ujar pria yang juga politikus PDI Perjuangan itu.
Dengan bekal ketidakmampuan itu, Prasetyo heran Sandi malah berani untuk maju sebagai cawapres dengan program Oke Ocenya.
"Program gagal di DKI malah mau dibawa ke pentas nasional oleh Sandi," kritik Prasetyo. (OL-8)
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved