Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Direktur bidang Saksi Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Lukman Edy, mengatakan, pihaknya menghargai hasil survei Litbang Kompas sebagai produk ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami menghargai hasil survei kompas sebagai produk ilmiah dengan metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar Lukman Edy di Jakarta, Rabu (20/3).
Ia mengatakan, hasil survei itu berguna untuk mengajak masyarakat dan peserta pemilu berpikir rasional dalam konsolidasi demokrasi, khususnya di Pemilu Indonesia 2019.
Menurutnya, TKN membaca hasil survei Kompas dengan cerdas dan cermat. Semua rekomendasi yang ditampilkan survei, akan diperhatikan sebagai bentuk evaluasi kinerja TKN selama enam bulan terakhir.
Meskipun demikian, dia memiliki beberapa catatan terkait survei Kompas antara lain, besarnya tingkat 'undecided voters' atau pemilih belum menentukan sikap dalam survei cukup aneh.
"Agak aneh dengan tingkat popularitas kedua paslon yang tinggi sekali hampir mentok 100%, dan tinggal satu bulan lagi pemilu, masih menyisakan undecided voters 22,4%," kata Lukman.
TKN menilai pertanyaan-pertanyaan di survei Kompas gagal dalam menyelami keinginan pemilih.
"Mungkin faktor kehati-hatian, tetapi tetap kesimpulan kami survei ini terlalu buru-buru sehingga tidak menyiapkan instrumen untuk menggali lebih dalam keinginan pemilih," jelasnya.
Baca juga: Jokowi Ajak Pendukungnya Perkuat Militansi
TKN pun menyimpulkan hasil tersebut adalah gambaran dari pemilih yang militan dan tidak mungkin lagi berubah. Sehingga jika berdasarkan survei itu, peperangan ada di angka 22% undecided voters itu.
"Dan kalau mengikuti tren ke mana undecided voters bergerak, bacaan dari survei Kompas mulai dari Oktober 2018, maka posisi kami tetap unggul di angka 56,8% berbanding 43,2%. Itu angka yang hampir sama dengan lembaga survei kredibel yang lain," terangnya.
Lukman juga mengatakan sebagai sebuah lembaga yang profesional dan kredibel maka Kompas harus mengumumkan siapa yang mendanai surveinya tersebut sebagai bentuk kewajiban di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017.
Di samping itu, Kompas juga harus menjelaskan kepada publik apakah surveinya terpengaruh dengan transaksi lainnya di bisnis Kompas yang lain.
"Seperti kita ketahui Kompas memiliki cabang bisnis yang lain, seperti media cetak, elektronik maupun online. Bisa jadi survei dibiayai sendiri, tetapi ada subsidi dari bidang usaha lain, yang transaksinya terafiliasi dengan subjektivitas hasil survei. Aliran ini mesti terklarifikasi," jelasnya.
Adapun berdasarkan survei internal TKN, elektabilitas Jokowi-Amin tetus bergerak naik hingga angka 63% dengan jumlah undecided voters yang semakin kecil.
Sebelumnya, survei Litbang Kompas menunjukkan ektabilitas Jokowi-Amin berada di angka 49,2%, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4%. Selisih kedua pasangan 11,8%. (OL-1)
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved