Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Neno Warisman Terjebak Fanatisme Politik

Dero Iqbal Mahendra
23/2/2019 13:54
Neno Warisman Terjebak Fanatisme Politik
(ANTARA/Ampelsa)

WAKIL Ketua Tim Kampanye Nasional ( TKN) Joko Widodo-Ma' ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menilai doa yang disampaikan oleh Neno Warisman pada acara Munajat 212 di Monas pada Kamis (21/2) bukan sebagai doa. Hal tersebut merupakan orasi politik yang pragmatis dengan berkedok agama.

"Pilihan diksi dalam ucapannya tampak sekali dibuat untuk menggiring opini publik. Seolah-olah hanya merekalah kelompok yang menyembah Allah. Sedangkan kelompok lain yang berseberangan bukan penyembah Allah," tutur Karding di Jakarta, Sabtu (23/2).

Baca juga: Ketua PBNU: Pengandaian Pilpres Sebagai Perang adalah Keliru

Ia justru mempertanyakan bagaimana Neno bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Menurut Karding, pernyataan Neno tidak memiliki suatu ukuran yang membenarkan bahwa jika kelompoknya kalah tidak ada lagi yang menyembah Allah.

Dengan perbuatan Neno berulang dengan memanfaatkan isu agama, Karding menganggap, Neno telah menjadi contoh sempurna yang gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik yang pragmatis. Karding menilai, Neno menafikkan realitas bahwa Jokowi-Amin didukung banyak pemuka agama.

"Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah? Saya mengerti seorang umat beragama tidak bisa melepaskan ketentuan yang telah diatur Tuhan dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk saat berpolitik. tetapi menjadikan nama Tuhan untuk tujuan politik seraya menggiring opini seolah lawan politiknya tidak menyembah Tuhan jelas merupakan hal mengggelikan," tutur Karding.

Pernyataan Neno tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa surga dan Tuhan hanya menjadi bagian dari kelompok mereka semata dan di luar itu tidak termasuk. Oleh sebab itu, Karding memandang Neno bukan fanatik agama, tetapi terjebak dalam fanatisme politik. Sebab, ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya, tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan.

"Orang yang fanatik agama berarti ia mengerti betul tentang nilai-nilai esensial yang diajarkan agama, seperti menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan sesama manusia. Bukan mengklaim seolah kelompoknya yang paling benar dan yang lain salah," terang Karding.

Baca juga: Ma'ruf Amin tak Habis Pikir Pilpres Disamakan Perang Badar

Sebagaimana diketahui, pada kegiatan Munajat 212 Kamis (21/2) kemarin Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) capres 02 Neno Warisman membacakan sebuah puisi kontroversial yang mengkait kaitkan pilpres kali ini dengan suasana perang badar.

Puisi yang Neno kontroversial pada penggalan berikut: "Namun, kami mohon jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak, cucu kami dan jangan, jangan kau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu." (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya