Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Agum Gumelar: Cijantung tidak Identik dengan Prabowo

Rahmatul Fajri
05/2/2019 17:57
Agum Gumelar: Cijantung tidak Identik dengan Prabowo
(MI/MOHAMAD IRFAN)

PULUHAN putra putri Cijantung yang tergabung dalam Bravo Cijantung mendeklarasikan dukungan kepada paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. Hal ini dilakukan untuk memperlihatkan Cijantung memiliki pilihan politik sendiri.

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI/Polri dan Warakauri (PEPABRI dan Warakauri) Jenderal TNI Purnawirawan Agum Gumelar  menjelaskan bahwa Cijantung merupakan kompleks militer yang terdiri dari berbagai satuan Angkatan Darat, Kostrad, Kavaleri, Paspampres, dan Kopassus.

Baca juga: Agum Gumelar: Tuhan Berikan Pemimpin yang Tepat untuk Indonesia

Kompleks militer di Cijantung memang lebih dikenal dengan markas Komando Pasukan Khusus (Kopasus). Akan tetapi, Agum menilai banyak komandan yang menetap di kompleks tersebut, sehingga anggapan hanya satu komandan yang menonjol dinilai tidak tepat. Komandan yang dimaksud adalah mantan Danjen Kopassus yang saat ini maju sebagai capres di Pilpres 2019, Prabowo Subianto.

"Kalau dikatakan Cijantung identik salah satu komandan, itu keliru besar. Cijantung identik dengan nama-nama Danjen. Jadi, tidak benar Cijantung dikonotasikan hanya Kopassus dan hanya seorang komandan," kata Agum ketika menghadiri deklarasi dukungan tersebut, Selasa (5/2).

Sebagai bekas Komandan Kopassus yang pernah tinggal di kompleks militer Cijantung, Agum mengatakan, hak politik para purnawirawan atau anggota keluarga berlatar belakang militer merupakan hal yang wajar. Sehingga, kata Agum, beda pilihan di dalam lembaga itu merupakan hal yang tidak perlu dipertentangkan.

Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan persatuan purnawirawan angkatan darat, laut, dan udara agar bersikap netral karena posisinya sebagai lembaga. Namun, sebagai individu yang tergabung dalam organisasi tersebut mempunyai hak politik yang sama dengan warga sipil.

"Perbedaan ini sifatnya sementara, harus dan akan berakhir ketika Pilpres berakhir, begitu berakhir tidak ada lagi perbedaan. Itulah dewasa dalam berdemokrasi. Jadi aspirasi yang berkembang itu soal biasa," kata Agum.

Agum menjelaskan, perbedaan pilihan politik tidak mengenal wilayah. Masing-masing kandidat memiliki pendukung. Maka dari itu, ia meminta perbedaan itu disikapi dengan bijak.

"Wilayah di mana pun ada perbedaan. Di Cijantung juga demikian. Sekarang deklarasi Jokowi, kemaren deklarasi Prabowo, itu wajar," kata Agum.

Baca juga: DPR Diminta Lebih Terbuka dalam Seleksi Hakim Konstitusi

Sementara itu, salah seorang warga Cijantung, Uta Marsono, mengatakan deklarasi ini untuk menyangkal klaim dari kelompok-kelompok yang mendukung paslon 02 yang mengatasnamakan seluruh anak Cijantung.

"Memang sebagai anak-anak dari kalangan militer diasumsikan pemilih 02. Tapi, kita juga punya pilihan lain yang mempunyai rekam jejak yang baik," kata Uta. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya