Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Angka Golput di Pemilu 2019 Berpotensi Meningkat

Putri Rosmalia Octaviyani
03/2/2019 21:40
Angka Golput di Pemilu 2019 Berpotensi Meningkat
(FOTO: MI/ BARY FATHAHILAH)

ANGKA golput pada pemilu 2019 diprediksi berpotensi meningkat. Hal itu salah satunya karena pemilu yang dilakukan serentak antara presiden dan legislatif.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini. Data yang dikumpulkan Perludem pada penyelenggaraan pemilu di 2009 dan 2014, diketahui terjadi penurunan angka golput pada pemilu legislatif. Di tahun 2009 angka golput di pemilu legislatif sebanyak sekitar 49 juta atau 29%. Pada pemilu 2014, angka golput di pemilu legislatif sebanyak 46 juta atau 24% dari total suara.

Baca juga: Presiden Minta Pendukungnya Redam Hoaks di Sisa Kampanye

Sementara untuk pemilu presiden, terjadi peningkatan angka golput. Pada 2009, angka golput sekitar 43 juta atau 27%. Pada 2014 terjadi peningkatan angka golput menjadi 58 juta atau 31%. Angka golput di pemilu presiden sebelumnya juga mengalami peningkatan di dua periode pemilu presiden 2004. Pada pemilu presiden 2004 putaran pertama angka golput sekitar 31 juta atau 20%, sementara pada putaran kedua ialah 33 juta atau 22%.

Titi mengatakan, pada pemilu 2019 akan ada dua kemungkinan, apakah akan meningkat golputnya atau justru menurun. Hal itu tergantung bagaimana semua pihak dalam mensosialisasikan keberadaan pemilu legislatif yang saat ini cenderung tenggelam keriuhannya karena pemilu presiden. "Kalau kita tidak mampu mengantisipasi tren pilpres di mana narasi publik kita lebih didomimasi oleh pilpres, sangat mungkin angka golput di 2019 akan naik," ujar Titi, di D Hotel, Jakarta, Minggu (3/2).

Lebih lanjut kata Titi, saat ini pemahaman dan perhatian publik masih terlihat lebih tinggi di pemilu presiden. Di sisa waktu sebelum hari pencoblosan 17 April mendatang, kerja keras sosialisasi soal pemilu serentak dan urgensi pengggunaan suara untuk legislatif harus dikuatkan.

"KPU dan Parpol harus betul-betul lebih kerja keras di sisa waktu untuk meyakinkan publik untuk mau memberi suara. Saya juga mengkhawatirkan hal yang sama, dominasi kontestasi pilpre apalagi di tengah banyaknya sensasi dan kontroversi saat ini," pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya