Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN libur panjang akhir tahun selalu menjadi waktu favorit masyarakat untuk bepergian bersama keluarga. Meski tersedia berbagai pilihan moda transportasi, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang untuk mencapai destinasi wisata.
Namun, tingginya mobilitas di jalan tol membawa risiko keamanan yang besar. ASTRA Infra bekerja sama dengan Safety Defensive Driving Consultant Indonesia (SDDCI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perilaku berkendara yang berisiko memicu kecelakaan.
Sony Susmana dari SDDCI menekankan bahwa setidaknya ada lima perilaku berbahaya yang wajib dihindari oleh pengemudi saat melintasi jalan tol:
1. Berhenti di Bahu Jalan
Bahu jalan hanya diperuntukkan bagi kendaraan dalam keadaan darurat, bukan untuk beristirahat atau parkir liar. Perilaku ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menghambat arus lalu lintas dan sangat berisiko memicu tabrak belakang.
“Bagi pengguna jalan yang ingin beristirahat, disarankan untuk segera mengunjungi rest area terdekat yang telah dilengkapi fasilitas lengkap,” ujar Group Chief Technical Officer ASTRA Infra, Rinaldi.
Jika rest area penuh, pengendara disarankan keluar melalui pintu tol terdekat untuk mencari tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
2. Mengemudi Agresif
Emosi yang tidak stabil saat macet sering kali memicu pengemudi bertindak agresif, seperti bermanuver zigzag atau menyalip melalui bahu jalan. Perilaku ini membuat kendaraan sulit dikendalikan, terutama dalam situasi mendadak.
3. Lane Hogger (Kecepatan Rendah di Jalur Kanan)
Banyak pengemudi masih belum memahami bahwa jalur kanan hanya digunakan untuk mendahului. Menetap di jalur kanan dengan kecepatan rendah (lane hogger) sangat dilarang karena dapat mengganggu kelancaran arus dan membahayakan kendaraan lain yang melaju lebih cepat.
4. Tidak Menjaga Jarak Aman
Jarak aman adalah kunci utama untuk menghindari kecelakaan beruntun. Sony Susmana menyarankan agar pengemudi menjaga jarak sekitar 60-80 meter jika berkendara dengan kecepatan 80 km/jam.
“Metode ini membantu memastikan pengendara memiliki jarak yang aman dengan kendaraan di depannya,” jelas Sony mengenai penggunaan metode hitungan 3 detik sebagai tolok ukur jarak aman.
5. Memaksakan Diri Saat Lelah
Kelelahan fisik adalah faktor utama penyebab kecelakaan. Pengemudi biasanya akan mencapai titik lelah setelah empat jam berkendara terus-menerus. Jika dipaksakan, risiko terbesar adalah terjadinya microsleep atau hilangnya kesadaran selama beberapa detik.
Tanda-tanda kelelahan yang harus diwaspadai antara lain mata terasa berat, sering menguap, refleks yang melambat, hingga kesulitan menjaga posisi mobil tetap lurus di lajur. Jika gejala ini muncul, segera berhenti dan beristirahat agar perjalanan tetap aman sampai tujuan. (Ant/Z-1)
Mantan gelandang Manchester United dan timnas Inggris, Paul Ince, didakwa mengemudi dalam pengaruh alkohol.
Durasi maksimal pasien jantung dengan kondisi pembuluh darah yang telah terbuka sepenuhnya atau tidak tersumbat diperbolehkan menyetir asal tidak sampai enam jam.
Pengemudi disarankan untuk tidur cukup minimal 6 jam agar tubuh tetap segar dan terhindar dari kelelahan yang bisa membahayakan.
Ketika kita berada di jalan raya, yang paling penting adalah kita sadar bahwa jalan itu bukan punya kita. Itu yang harus kita pahami tentang pentingnya rasa saling menghormati.
Dunia hiburan Korea Selatan berduka atas kepergian aktris muda Kim Sae Ron pada 16 Februari 2025. Sebelum meninggal, ia diketahui menghadapi masalah finansial yang cukup serius.
BMIWI mengkritisi aturan fasilitas alat kontrasepsi pencegah kehamilan dalam ruang ruang formal publik, yaitu sekolah, dalam PP Nomor 28 Tahun 2024.
Sebuah studi menunjukkan bahwa ketika orang tua konsisten dengan diet seimbang, mereka lebih mungkin memberikan makanan sehat pada anak-anak.
Hal yang harus dilakukan oleh Komisi Yudisial, yaitu membuat sistem pengaduan yang mudah diakses
Pola asuh positif pada bayi usia tersebut mampu menurunkan hingga 52% kemungkinan anak berperilaku agresif dan untuk melakukan tindakan penganiayaan pada kemudian hari.
Berteriak adalah salah satu dari delapan strategi disiplin yang dapat memperburuk masalah perilaku pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved