Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Koperasi Waralaba

Yonvitner Guru Besar Manajemen Sumber Daya Perairan Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB University.
10/2/2026 05:10
Koperasi Waralaba
(Dok. LPPM ITB)

\

MENYIMAK paparan dari salah satu gerai waralaba yang populer di Indonesia saat ini sungguh menarik. Paparan yang sistematik dan mudah dicerna tidak hanya mengesankan kemudahan sistem bisnis, tapi aliran barang juga yang terkoordinasi.

Dalam paparan tersebut disajikan tiga kelas skala usaha. Salah satu yang populer dengan aset Rp400 juta-Rp500 juta sudah dapat beroperasional. Sementara itu, juga hadir skala usaha institusi dengan aset Rp200 juta. Skala usaha perorangan dengan aset Rp45 juta-Rp60 juta juga hadir untuk residensial.

Satu poin penting suksesnya waralaba itu ialah sistem kontrol yang terintegrasi. Informasi input (supply) barang dan output (penjualan) terintegrasi yang memungkinkan pusat kendali merancang tata logistik. Bisa saja satu gerai tidak melapor, tetapi sediaan stok terpantau secara real-time.

Poin penting lainya ialah gerai mini dan resindensial menjadi gerai yang efektif, efisien, dan menguntungkan. Pengelola usaha waralaba kelas minimarket dan residensial dimudahkan mengejar penjualan dan tidak akan khawatir dengan supply.

Ketersediaan material jualan sudah di-manage dengan baik oleh pemilik franchise. Pengelola fokus pada percepatan penjualan dan konsistensi pasar untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan. Kemudahan lain yang juga disuplai ialah energi yang disiapkan agar sistem terus berjalan dengan perangkat genset di setiap gerai.

Sistem kontrol dan pengontrol yang baik dari bisnis waralaba menyiratkan adanya penanggung jawab. Roda bisnis tidak bisa sepenuh dijalankan entitas usaha yang kecil. Rajutan tata kelola logistik yang terintegrasi menjadi kunci keberhasilan gerai mini dan residensial.

 

KOPERASI WARALABA

Genderang ekonomi berbasis masyarakat dan kerakyatan melalui koperasi juga harus disiapkan secara sistematik. Tercatat 73.155 koperasi desa merah putih dan 8.285 unit koperasi kelurahan merah putih. Pemerintah juga menargetkan 1.000 koperasi nelayan merah putih, selain koperasi dan BUM-Des yang sudah berkembang.

Secara kuantitas itu merupakan aura baru ekonomi kerakyatan yang manfaatnya bisa langsung diperoleh masyarakat. Secara kuantitas itu menjadi sebuah fenomena yang fantastis sebagai unit usaha masyarakat karena akan menyangkut puluhan ribu pelaku usaha mikro dan jutaan pengguna dan pemanfaat. Tidak hanya itu, akan mengerek ratusan ribu supplier produk dan bahan baku serta material usaha.

Agar mimpi koperasi maju menjadi realistis, beberapa pertanyaan yang harus dicarikan jawabanya ialah, pertama, apakah koperasi akan dibangun dengan tematik tertentu atau seragam. Kedua, pentingnya merancang sistem bisnis koperasi yang bergerak secara kontinu. Ketiga, perlunya kecukupan energi untuk menjalankan distribusi dan logistik koperasi. Keempat, sistem usaha yang saling menguntungkan anggota kelompok yang perlu diukur.

Tema usaha koperasi menjadi penting karena gerakan masif infrastruktur ekonomi koperasi harus sesuai dengan tema. Tema usaha koperasi bisa terbagi pada tema produksi, pengolahan, pemasaran, dan logistik. Tema produksi itu kemudian juga dapat berbeda menurut komoditas pangan, palawija, dan hortikultura.

Tema perikanan dapat berupa produksi ikan laut, tawar, pengolahan ikan, rumput laut, atau budi daya laut. Begitu juga tema usaha bidang jasa ialah jasa logistik, jasa konservasi, dan jasa pendukung lainnya. Suatu koperasi dapat bergerak pada satu tema usaha atau lebih, bergantung pada kemampuan anggota dan pengelola.

Kedua soal sistem bisnis koperasi ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu skala usaha koperasi, pengendali sistem input dan output usaha koperasi. Skala usaha itu menjadi penting untuk memastikan jumlah anggota terlibat, peran masing-masing, dan besaran usaha yang ditargetkan.

Gerai waralaba seperti penulis sampaikan sudah menetapkan kelas unit bisnis mereka pada aset Rp500 juta. Pada kelas usaha itu, waralaba dengan investor tertentu akan mengejar percepatan bisnis mereka melalui percepatan input dan output. Untuk koperasi penting ditetapkan besarannya dan tanggung jawab anggota. Ketika tanggung jawab anggota tidak dijalankan, unit koperasi harus dapat mencari solusi pengganti atau menata ulang koperasi agar tidak kolaps. Kekuatan koperasi ialah kekuatan anggota sehingga bisnis koperasi bukan bisnis charity, melainkan komitmen tumbuh bersama.

Unsur penting lainya dalam bisnis koperasi ialah sistem tata kendali informasi. Sistem kendali paling tidak harus dibangun sesuai dengan tema usaha koperasi sehingga sinergi bisnis terjalin dan kemanfaatannya bagi negara terpantau. Agar bisnis dan usaha koperasi berjalan, setidaknya sistem kendali tiap provinsi terbangun. Koperasi tanpa sistem informasi yang terkendali akan menjadi buta dalam membaca pasar dan produksi. Sistem bisnis itu menjadi kunci agar tidak terjadi over atau under estimasi bahan baku dan pasar. Dalam artinya sistem ini akan menjaga keseimbangan dan dinamika usaha koperasi.

Ketiga soal energi yang tidak kalah pentingnya bagi kemajuan koperasi. Energi penting untuk menjalankan produksi, mengendalikan sistem bisnis dan prediksi pemacuan usaha. Koperasi tanpa energi hanya akan menjadi warung kelontong kelas kampung yang dikelola tradisional dan sulit untuk bersaing dan maju.

Jaminan ketersediaan pasokan emergi bagi koperasi sangat berarti. Minyak, solar panel, dan gerakan arus laut merupakan sumber energi yang harus disedikan di pusat usaha koperasi. Infrastruktur itu harus disuplai pemerintah tanpa pandang bulu. Koperasi harus menjadi proyek strategis nasional yang harus didukung Kementerian ESDM, perhubungan, dan pihak swasta lainnya.

Bagian keempat catatan untuk koperasi ialah sistem tata kelola internal. Tata kelola internal yang penting ialah target kesejahteraan anggota. Koperasi harus dipastikan, apakah akan menjadi ruang usaha bersama dengan kesejahteraan terbatas atau kesejahteraan maksimum. Kesejahteraan terbatas menjadi isu yang tidak menarik untuk mengembangkan koperasi.

Namun, kesejahteraan optimum yang dapat dicapai anggota menjadi ukuran penting menggerakkan koperasi. Koperasi yang dikelola hanya untuk mencukupi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan hidup minimum atau UMR, menempatkan koperasi pada usaha skala kecil dan mikro. Ketika akan berjuang mendapatkan nilai manfaat lebih besar, berarti koperasi harus bertransfer menjadi usaha industri koperasi. Istilah koperasi industri menyiratkan kepada kita bahwa koperasi dapat besar dengan tetap berbasis anggota. Jika tidak dilakukan seperti itu, koperasi hanya akan jadi instrumen ekonomi level bawah.

Kehadiran koperasi bertujuan menumbuhkan usaha bersama dan kesejahteraan bersama. Dalam menghadapi persaingan modern, koperasi harus bertransformasi menjadi koperasi modern dan industri. Koperasi UMKM menjadi ciri akar tumbuh dan berkembangan koperasi, sementara koperasi industri menjadi ciri usaha kerakyatan yang maju.

Dengan demikian, sebenarnya koperasi dapat maju dan memperjuangkan kesejahteraan. Koperasi dapat unggul dan bersaing dalam skala lokal dan global. Koperasi dapat saling membina dan berkoordinasi menjadi waralaba. Koperasi waralaba dalam usaha bersama akan menggerakkan ekonomi, hingga mazhab ekonomi Pancasila dan ciri ekonomi bangsa terwujud. Mendorong koperasi waralaba ialah upaya mencegah waralaba kapitalis dan penumpukan kekayaan pada orang tertentu.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya