Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat benar-benar membawa luka mendalam dan dampak pada berbagai sisi kehidupan. Berita Media Indonesia, 15 Desember 2025, menuliskan bahwa menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 Desember 2025, total korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor mencapai 1.016 jiwa. Kita berdukacita yang amat mendalam. Adapun jumlah warga yang mengungsi mencapai total 624.670 jiwa. Kerusakan tempat tinggal, rumah tangga, lahan kerja, dan fasilitas umum juga sangat luas. Bahkan ada desa yang nyaris habis luluh lantak, dan hingga kini masih ada daerah yang terisolasi.
Dari berbagai dampak yang terjadi, maka salah satu yang amat perlu menjadi perhatian ialah aspek kesehatan saudara-saudara kita di daerah bencana. Sejauh ini, penanganan kesehatan dilakukan bersama oleh berbagai sektor. Selain tentu oleh pemerintah, berbagai organisasi profesi dan universitas juga turun langsung ke lapangan, termasuk yang saya ikuti perkembangannya secara langsung dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas YARSI.
Dengan melihat perkembangan yang ada, maka setidaknya ada tujuh hal yang perlu dilakukan untuk pelayanan kesehatan di daerah bencana Sumatra sekarang ini. Pertama ialah penanganan kasus penyakit yang kini sudah terjadi, baik pada para pengungsi dan juga masyarakat umum yang terdampak bencana.
MEREBAKNYA PENYAKIT
Setidaknya ada tiga jenis kemungkinan merebaknya penyakit menular di daerah bencana, yaitu penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne disease), penyakit menular lewat makanan (foodborne disease), dan penyakit yang menular melalui udara (air-borne disease). Data dari teman-teman di lapangan kini sudah menunjukkan banyaknya kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), gangguan saluran cerna, keluhan di kulit, dll, yang mereka tangani sehari-hari. Untuk ISPA, misalnya, kita ketahui dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.
Kini secara umum dunia sedang menghadapi peningkatan kasus influenza akibat H3N2, yang bukan tidak mungkin juga terjadi di Sumatra. Akan baik kalau Kementerian Kesehatan menjelaskan tentang virus atau bakteri apa yang utamanya kini diderita oleh para pengungsi kita. Selain ISPA, maka pada situasi yang padat, penularan tuberkulosis juga dapat terjadi. Itu perlu diantisipasi dengan baik pula.
Kedua, selain penyakit menular akut, pelayanan kesehatan juga perlu dilakukan untuk menangani penyakit kronis yang mungkin memburuk keadaan karena masyarakat dalam situasi bencana. Mereka yang ada sakit jantung kronis, atau paru kronis, dll bukan tidak mungkin mengalami perburukan status penyakitnya dan membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik.
Hal ketiga, fasilitas pelayanan kesehatan di daerah bencana tentu bukan hanya menangani kasus-kasus penyakit yang langsung berhubungan dengan dampak bencana. Berbagai masalah kesehatan rutin juga harus ditangani, katakanlah seperti pemeriksaan kehamilan, imunisasi rutin, pemeriksaan/kontrol rutin berbagai penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes mellitus dll), obat rutin untuk penyakit menular seperti tuberkulosis dll. Artinya, akan ada dampak pelayanan kesehatan ganda untuk menangani kasus akibat bencana dan juga harus menangani masalah kesehatan yang memang umum terjadi, ada atau tidak adanya bencana di suatu daerah.
PERLU ANTISIPASI KEMUNGKINAN KLB PENYAKIT MENULAR
Keempat, karena ada lebih dari setengah juta pengungsi dan rusaknya tempat tinggal dan fasilitas umum serta belum terjaminnya higiene dan sanitasi, maka perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular. Data ilmiah dari pengalaman bencana banjir di berbagai dunia menunjukkan bahwa mikroorganisme penyebab KLB antara lain Zoonotic leptospira, Salmonella typhi, Vibrio cholerae, hepatitis A, dan parasit.
Dalam air banjir yang melanda dapat saja mengandung tiga bahan, feses manusia, limbah-limbah yang ada, serta patogen berbahaya dari hewan. Ketiganya akan dapat saja berkontak langsung dengan saudara-saudara kita yang kini masih ada di daerah bencana, yang tentunya punya potensi menularkan penyakit pula. Selain itu, pada keadaan sesudah banjir dan ada banyak air tergenang, maka kita harus antisipasi kemungkinan peningkatan penyakit yang ditularkan nyamuk, utamanya demam berdarah dengue dan juga malaria.
Setidaknya ada tiga kegiatan untuk antisipasi kemungkinan KLB penyakit menular, yaitu pencegahan agar tidak terjadi, surveilans yang ketat untuk mengetahui dinamika penyakit yang ada, serta deteksi dini kalau-kalau KLB memang sudah mulai terjadi. Tentu semuanya perlu diikuti dengan kesiapan untuk respons lapangan jika diperlukan nantinya.
Aspek kelima dari pelayanan kesehatan ialah jaminan agar fungsi pos kesehatan, klinik, puskesmas dan rumah sakit di daerah bencana sekarang ini harus dijamin dapat berfungsi dengan segala keterbatasannya. Tentu tiga faktor utamanya ialah sumber daya manusia/petugas kesehatan, alat kesehatan dan obat-obatan, serta sarana dan prasarana gedung/ruangan beserta penunjangnya (listrik, transportasi, dll).
Banyak laporan tentang rusaknya gedung puskesmas dan rumah sakit, termasuk laboratorium dan gudang farmasinya. Ini tentu akan berdampak pada diagnosis dan pengobatan pasien yang kini ditangani, dan karena itu perbaikan segera harus dilakukan.
Selanjutnya, aspek kesehatan keenam ialah sejak sekarang sudah harus mulai diproses bagaimana perbaikan dan restorasi fasilitas pelayanan kesehatan yang rusak akibat bencana. Perlu ada perencanaan dan dukungan anggaran yang jelas. Contohnya saja, dari jurnal ilmiah Nature 2025 disebutkan, pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa pelayanan rumah sakit pascabanjir dapat berlangsung sampai 210 hari sesudah bencana terjadi. Kalau ini juga akan terjadi di Sumatra, jelas perlu sumber daya yang memadai dan pengaturan sistem kesehatan yang baik. Artinya, perlu ketahanan/resiliensi kesehatan yang kokoh dan terjaga baik.
Akhirnya, sebagai aspek ketujuh, kita tekankan bahwa masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh pelayanan kesehatan saja. Kalau tempat tinggal belum tersedia, lapangan kerja belum ada, sekolah masih terbatas, transportasi juga belum lancar, maka masyarakat tentu belum akan dapat hidup tenang, dan tekanan mental pasti akan memengaruhi kesehatan mereka.
Perlu ada upaya sistematis di berbagai bidang agar saudara-saudara kita di daerah bencana dapat segera kembali hidup dan bermasyarakat dengan normal secara sosial dan ekonomi agar derajat kesehatan mereka dapat tetap terjaga baik.
BENCANA memang sering hadir tanpa memberikan ruang memilih, tetapi cara manusia meresponsnya selalu lahir dari pilihan moral dan politik.
ASESMEN formatif merupakan jantung pembelajaran yang berpusat pada proses. Namun, situasi darurat bencana mengubah lanskap pendidikan secara fundamental.
Lepas dari mana yang benar, yang pasti para korban bencana baik di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bahkan sebagian kecil di Jawa, mereka semua saat ini memerlukan bantuan
HARI Guru Nasional tahun ini tidak benar-benar berakhir pada seremoni dan ucapan terima kasih.
Pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu di provinsi kepulauan
Kemenkes menyatakan bahwa nakes Kemenkes menyatakan nakes tetap melayani warga di Desa Cekal dan Desa Pantan Kemuning,Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
BPJS Kesehatan menyatakan kesiapan mendukung arah kebijakan baru Kementerian Kesehatan terkait perubahan sistem rujukan pelayanan kesehatan.
Kemenkes mencatat masih banyak rumah sakit daerah yang belum memenuhi ketersediaan tujuh dokter spesialis dasar. Saat ini, baru sekitar 74 persen dari total 614 rumah sakit
KETIKA divonis mengidap kanker payudara sebelah kanan, Atik merasa dunia seolah runtuh. Akan tetapi, ia menolak menyerah
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved