Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN ini, bila menonton televisi, kita akan menyaksikan ingar bingar, pro kontra, apakah dalam kondisi bangsa dan negara dilanda musibah bencana alam saat ini, boleh atau tidak kita menerima bantuan luar negeri. Berbagai pihak sudah menyatakan pendapatnya, terutama para ‘mahawikan’ (figur-figur yang maha mengetahui); intelektual sampai dengan rakyat awam pada umumnya. Celakanya, polemik ini sudah menyentuh dan menyeret-nyeret lembaga kepresidenan kita. Presiden secara terbuka menyatakan kita masih mampu mengatasi bencana tersebut dan belum perlu menerima bantuan luar negeri.
Menurut hemat penulis, Presiden menyatakan demikian sudah barang tentu tidak asal menyatakan pendapatnya begitu saja. Figur sekaliber Prabowo Subianto, bila mengeluarkan pendapat, sudah dikaji sedalam-dalamnya. Apa untung ruginya untuk bangsa dan negara.
Sebagai kepala negara, beliau pasti sudah meminta atau menerima masukan dari para pembantunya yang jumlahnya tidak sedikit. Ada para menteri dan wakil menteri terkait, ada BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), juga sudah barang tentu masukan dari komunitas intelijen kita dan lain-lain.
MANA YANG BENAR, MENOLAK ATAU MENERIMA BANTUAN
Lepas dari mana yang benar, yang pasti para korban bencana baik di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bahkan sebagian kecil di Jawa, mereka semua saat ini memerlukan bantuan, tidak peduli bantuan dari dalam maupun luar negeri. Yang terpenting, penderitaan mereka secepatnya dapat diatasi, seperti pengadaan makanan, air bersih, listrik, pakaian, dan perumahan.
Untuk menjawab hal tersebut di atas, ada baiknya kita membuka kembali ajaran Bung Karno mengenai kebutuhan absolut (mutlak) bagi rakyat yang disingkat ‘Lima P’, yaitu perut, pakaian, perumahan, pergaulan, dan pengetahuan. Dalam P yang kelima, pengetahuan, termasuk di dalamnya pembudayaan.
Di samping itu, kita harus pula berpegang pada ajaran yang lain bahwa kita sah-sah saja menerima bantuan dari mana pun datangnya, asalkan bantuan tadi haruslah benar-benar bantuan yang tanpa syarat-syarat yang merugikan bangsa dan rakyat Indonesia.
Sebagai contoh, di era kepemimpinan Bung Karno, kita pernah menerima bantuan dari Amerika Serikat di bawah Presiden John F Kennedy berupa antara lain pesawat angkut C-130B Hercules sebanyak 1 skuadron tanpa syarat apa pun, apalagi syarat-syarat yang merugikan bangsa dan rakyat Indonesia jelas akan ditolak oleh Bung Karno.
Sebagai rasa terima kasih, Bung Karno mengundang Presiden John F Kennedy untuk berkunjung ke Indonesia, dan untuk itu Bung Karno mendirikan Wisma Tamu yang megah setara dengan hotel berbintang 5 untuk menginap Presiden Kennedy beserta rombongannya. Sayang sebelum Presiden Kennedy berkunjung ke Indonesia untuk memenuhi undangan sahabatnya, Presiden Sukarno, terjadilah peristiwa Dallas yang membuat John F Kennedy tewas dan batal ke Indonesia.
PENUTUP
Kembali kepada permasalahan bagaimana sikap kita sebaiknya mengenai bantuan untuk bencana alam yang saat ini sedang melanda sebagian besar wilayah NKRI, bila kita ikuti apa yang diajarkan oleh Bung Karno maka sejauh bantuan tersebut tanpa syarat-syarat yang merugikan bangsa dan rakyat Indonesia, terimalah bantuan tersebut dengan tangan terbuka. Gunakan bantuan tadi dari mana pun datangnya sesuai dengan kebutuhan absolut (kebutuhan mutlak) dari rakyat yakni ‘Lima P’. Mudah-mudahan, dengan begitu, seluruh rakyat yang saat ini sedang menderita segera akan tertolong dan lepas dari penderitaan, baik lahir maupun batin. Semoga.
BENCANA memang sering hadir tanpa memberikan ruang memilih, tetapi cara manusia meresponsnya selalu lahir dari pilihan moral dan politik.
ASESMEN formatif merupakan jantung pembelajaran yang berpusat pada proses. Namun, situasi darurat bencana mengubah lanskap pendidikan secara fundamental.
BENCANA banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat benar-benar membawa luka mendalam dan dampak pada berbagai sisi kehidupan.
HARI Guru Nasional tahun ini tidak benar-benar berakhir pada seremoni dan ucapan terima kasih.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
SETIAP Desember, peringatan 'Hari Ibu' dipersoalkan karena dianggap meneguhkan ibuisme—perempuan direduksi pada peran domestik dan pengabdian tanpa kuasa.
BUNG Karno ialah tokoh kebangsaan yang dekat dengan para ulama, kiai, dan habaib.
SEKRETARIS Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyebut tragedi di Gaza, Palestina saat ini tidak akan terjadi kalau Presiden ke-1 RI Soekarno (Bung Karno) masih hidup.
KETUA Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI Muhammad Risyad Fahlefi mengajak anak muda untuk terus mengisi kemerdekaan dengan karya yang berpihak ke rakyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved