Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Jejak Rohani Bung Karno Nyantri di Habib Ali Kwitang

Guntur Soekarno Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/pemerhati sosial Ahmad Basarah Dosen Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Malang
04/12/2025 05:10
Jejak Rohani Bung Karno Nyantri di Habib Ali Kwitang
(Dok. MI)

BUNG Karno ialah tokoh kebangsaan yang dekat dengan para ulama, kiai, dan habaib. Salah satunya dengan Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau yang terkenal dengan Habib Ali Kwitang. Kedekatan kedua tokoh itu intens menjelang kemerdekaan Republik Indonesia pada awal 1940. Bahkan Bung Karno pernah 'nyantri' di kediaman Habib Ali, sekaligus bersembunyi dari incaran kolonial.

Sekitar 1942, ketika tekanan kolonial Belanda dan kemudian kekuasaan Jepang mengimpit ruang gerak para pemimpin pergerakan nasional, Bung Karno pernah menjadi 'santri' di kediaman Habib Ali di Kwitang.

Kisah lisan yang dirawat dengan penuh hormat di keluarga besar Habib Ali menyebutkan Bung Karno 'nyantri' di sana selama sekitar empat bulan. Hal itu pun ditegaskan dalam buku Riwayat Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Sumur yang tak Pernah Kering: Dari Kwitang Menjadi Ulama Besar karya Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Habsyi dan Prasetyo Sudrajat (Yayasan Al-Asyirotus Syafiiyah, 2006).

Kata 'nyantri' di sini bukan istilah administratif sebuah pesantren, melainkan pengalaman spiritual. Bung Karno mengikuti pengajian, berdialog dengan Habib Ali, dan menyelam ke dalam keteduhan rohani yang jauh dari ancaman penjara dan pengawasan intelijen kolonial.

Tempat itu menjadi semacam 'persembunyian rohani' dan fisik sekaligus. Dalam sejarah Masjid Kwitang dan biografi Habib Ali, disebutkan bahwa Bung Karno pernah 'bersembunyi selama dua bulan' di lingkungan masjid ketika pengejaran Belanda semakin intens. Bagi seorang tokoh yang selalu berada dalam sorotan dan bahaya, rumah Habib Ali dan Masjid Al-Riyadh menjadi pelindung yang sunyi. Pelindung yang tidak hanya menyembunyikan tubuh, tetapi juga menjaga nyala batin.

Salah satu momen historis dalam 'kepesantrenan' itu ialah salat Jumat di Masjid Al-Riyadh pada Jumat, 13 November 1942. Pada hari itu, Bung Karno tercatat hadir melaksanakan salat Jumat dengan Habib Ali sendiri berdiri sebagai khatib.

Momen itu memberi penanda bahwa hubungan di antara keduanya bukan sekadar hubungan tamu dan tuan rumah, bukan hanya hubungan antara politikus dan ulama, melainkan juga perjumpaan spiritual antara dua manusia yang mengemban takdir besar atas bangsa ini.

Bayangkan ruangan yang sederhana, kiblat menghadap Barat, dan suara khotbah yang menembus kesunyian. Seruan tentang kehormatan manusia dan pembelaan terhadap kebenaran, sebuah tema yang selalu menggetarkan hati Bung Karno.

Dalam momentum 'jumatan' tersebut, untuk pertama kali Habib Ali berkhotbah dengan menggunakan bahasa Indonesia. Biasanya, beliau selalu berkhotbah Jumat dengan bahasa Arab. Penggunaan bahasa Indonesia Habib Ali lakukan baik dalam rangka menghormati Bung Karno maupun juga dalam rangka memberikan dukungan kepada perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah salat Jumat, Bung Karno diminta jemaah untuk menyampaikan pernyataan. Bung Karno pun menyatakan: “Dalam pancaroba seperti sekarang ini, perlu persatuan yang teguh-kuat yang harus dipelihara dengan seksama. Jika apa yang diamanatkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam kita lakukan, sudah tentu keluhuran bangsa kita tercapai. Dulu, bangsa kita dipandang hina. Akan tetapi, kini setelah timbul perubahan, setelah kekuasaan Belanda dilenyapkan oleh bala tentara Dai Nippon, bangsa Indonesia mendapatkan penghargaan.” (Pustaka Lutfiyah, 2021).

Pidato Bung Karno dan momentum jumatan di Masjid Al-Riyadh Kwitang tersebut diberitakan koran Asia Raya pada 1942 tersebut.

Kwitang pada masa itu bukan sekadar kampung Betawi berhias rumah-rumah kayu, melainkan simpul besar intelektualitas keagamaan dan pusat majelis taklim yang setiap pekannya dipenuhi jemaah dari berbagai penjuru. Habib Ali dikenal sebagai ulama karismatik yang dihormati para habaib, para tokoh pergerakan, dan masyarakat Betawi. Di pangkuan majelis itu, Bung Karno menemukan kembali sesuatu yang sangat langka pada masa sulit: ketenangan batin.

Di ruang tersebut, ia duduk sejajar dengan para santri dan jemaah, tanpa kursi kehormatan, tanpa protokol, dan tanpa pidato. Ia mendengar, mencatat dalam batin, dan barangkali menggenggam kembali keyakinan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak mungkin hanya lahir dari strategi politik dan kekuatan mobilisasi massa. Perjuangan memerlukan tempat untuk menata ulang keberanian. Dalam keheningan itulah Bung Karno mengalami 'nyantri' sebagai proses penyucian batin sebelum mengejar takdir sejarah yang jauh lebih dahsyat.

Bayangkan seorang Sukarno, yang pada hari-hari sebelumnya dipaksa berpindah-pindah dari ruang pengasingan di Ende (1934-1938) hingga Bengkulu (1938-1942), kini duduk bersila di lantai masjid. Seorang pemimpin bangsa yang besar, tetapi sedang dipelajari ulang oleh dirinya sendiri. Di hadapan seorang ulama sepuh yang wajahnya ditandai keteduhan dan wibawa rohani. Di hadapan jemaah yang tidak memandangnya sebagai ikon, tetapi sebagai saudara seiman. Ruangan itu mungkin kecil, tetapi waktu yang mengalir di sana panjang dan dalam.

Pengalaman itu kelak ikut merawat keyakinan Bung Karno bahwa Islam dan nasionalisme tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan. Melalui perjumpaan dengan para ulama, habaib, dan kiai, ia menemukan kedalaman moral yang memperkukuh keyakinannya tentang kemerdekaan sebagai ibadah dan perjuangan sebagai amanat suci dari Tuhan untuk menjaga martabat manusia.

Di Kwitang, Bung Karno tidak hanya bertemu Habib Ali. Ia bertemu dirinya sendiri. Sebuah ruang sunyi yang memberikan tenaga batin untuk kelak berdiri pada pagi 17 Agustus 1945 dan mengucapkan kalimat yang membuat langit Nusantara bergetar: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia!”

 

DEKAT DENGAN KEKUATAN ISLAM 

Relasi Bung Karno dengan Habib Ali Kwitang ialah bagian dari jaringan yang lebih luas: hubungan pemimpin nasional dengan organisasi dan ulama Islam besar di Indonesia.

Dengan Nahdlatul Ulama (NU), tercatat beberapa momentum penting, dengan Bung Karno dekat, didukung, dan dihormati NU. Pada Muktamar Ke-23 NU yang digelar di Surakarta (Solo) pada 25-29 Desember 1962, Bung Karno hadir dan dalam pidatonya menyatakan: “Saya sangat cinta sekali kepada NU.” Pada Muktamar Ke-20 NU pada 8-13 September 1954 di Surabaya, organisasi para kiai ahli fikih dan tasawuf itu bahkan menetapkan Presiden Sukarno sebagai Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah, yakni pemimpinan yang sah menurut syariat Islam, meskipun dalam kondisi darurat, dan memiliki kewenangan.

Keputusan para kiai NU tersebut berangkat dari kondisi ketiadaan khalifah tunggal di dunia Islam. Dalam kondisi yang darurat itu, Presiden Sukarno ialah pemimpin negara muslim yang memiliki kewenangan atas nama syariat. Penetapan Bung Karno sebagai pemimpin yang sah dari perspektif Islam itu diarahkan demi melakukan delegitimasi gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Sementara itu, dengan Muhammadiyah, pada Muktamar Ke-35 yang diselenggarakan di Jakarta pada 25 November 1962, Bung Karno menutup muktamar dan menyampaikan kata legendaris: “Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah.” Ia secara resmi menyatakan dirinya tetap kader Muhammadiyah meskipun sedang memimpin negara.

 

MENJAGA KESEIMBANGAN

Relasi dengan para habaib seperti Habib Ali Kwitang menegaskan Bung Karno telah menjalin dua sumbu: ulama tradisional dan organisasi modernis Islam. Ia menghormati Habib Ali sebagai guru rohani dan titik temu spiritual rakyat Betawi-Hadrami. Ia juga menghargai organisasi Islam sebagai wahana mobilisasi sosial dan kebangsaan.

Kehadiran Sukarno dalam forum-forum besar NU dan Muhammadiyah bukan sekadar formalitas. Di Surakarta, NU membuat keputusan strategis melalui Bahtsul Masail yang bersentuhan langsung dengan kehidupan umat dan bangsa. Dalam konteks itu, Bung Karno berada di antara dua dunia: ia menyerap spirit keulamaan sekaligus mengelola organisasi Islam ke ranah nasional.

Hubungan itu bukan tanpa tantangan karena Bung Karno mesti menjaga keseimbangan antara tuntutan ulama tradisional, dinamika organisasi Islam modern, dan pluralitas bangsa serta kepentingan politik negara. Melalui momen-momen spesifik seperti Muktamar Ke-23 NU dan Muktamar Ke-35 Muhammadiyah, Bung Karno menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme dapat berjalan berdampingan dan sinergis.

Prinsip yang muncul dari pemikiran keislaman Bung Karno ialah bahwa Islam di Indonesia bukanlah sekadar agama privat, melainkan juga kekuatan integratif dari identitas bangsa. Dalam berbagai pidato dan tulisannya, Bung Karno menegaskan bahwa Islam sebagai agama rakyat bisa dijadikan pijakan moral dan sosial guna memperkuat persatuan nasional. Pada saat yang sama, Bung Karno menolak sekularisasi total, menyambut pandangan bahwa hukum-hukum Islam sebenarnya bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan zaman.

Pengalaman 'nyantri' di Kwitang menurut saya menjadi salah satu titik pemahaman riil Bung Karno, bahwa nasionalisme tidak boleh meminggirkan spiritualitas umat besar, yakni umat Islam Indonesia. Ia menyadari bahwa bangsa akan rapuh bila hanya berlandaskan sekadar identitas politik atau ideologis semata, tanpa akar moral-keagamaan. Dengan demikian, Pancasila bagi sang penggali, yakni Sukarno, bukan hanya asas negara, melainkan juga manifestasi dari nilai-nilai yang ia pelajari: dari Islam, dari nasionalisme, marhaenisme, dan dari perlawanan terhadap kolonialisme.

Kisah Bung Karno 'nyantri' di Kwitang ialah kisah tentang pemimpin besar yang tidak malu untuk belajar. Seorang tokoh yang memahami bahwa kekuatan politik membutuhkan dasar rohani dan bahwa kemerdekaan bangsa tidak akan pernah lengkap jika dipisahkan dari akar keagamaan rakyatnya.

Di tengah kehidupan negara dan bangsa yang semakin profan dan pragmatis, epos 'kesantrian' Bung Karno kepada Habib Ali Kwitang semestinya membuat kita menemukan kembali spirit bernegara. Sebagaimana termuat dalam Pancasila, segenap nilai-nilai kebangsaan mesti didasarkan pada keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa. Itu pula yang menjadi dedikasi hidup seorang Sukarno, yang membuat namanya harum baik di dalam negeri, di negara-negara sekular, dan negara-negara Islam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya