Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Natal dan Stunting

Tarsis Hurmali Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Ruteng
21/12/2025 22:27
Natal dan Stunting
(Dokpri)

SEGEGAP apapun dunia merayakan Natal, tetap saja titik awal peristiwa dimulai di dalam sebuah keluarga, keluarga biasa, pasangan suami istri baru, miskin-sederhana, di sebuah tempat yang terpencil nun jauh dari Indonesia. 

Kejadiannya juga kejadian biasa, terkait peristiwa awal kehidupan, tentang kelahiran seorang anak. Anak yang dilahirkan itu bertumbuh-kembang, menjadi pemuda, cerdas dan pemberani, yang karya dan ucapan-Nya ditulis. Tulisan itu lalu ikut memengaruhi, langsung dan tidak langsung, tumbuh kembangnya satu supra-kultur mondial yang disebut agama-budaya Kristiani, menyatukan pikiran, pandangan, praktik hidup (dan bahkan bisnis), menjangkau 1,4 miliar orang di seluruh dunia. 

Ibadah pra-Natal, Natal, dan pasca-Natal diisi bacaan-bacaan suci yang terkait dengan peristiwa kelahiran anak. Tentang seorang perawan yang mengandung, tentang perhatian suami terhadap istri yang sedang hamil dan melahirkan anak. Tentang ayah dan ibu yang menjaga buah hati dari bahaya, karena prasangka dan angkara murka. Tentang menjaga anak yang bertumbuh menjadi remaja. 

Jelas, kisah Natal membentangi periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode yang dikenal sebagai masa yang sangat menentukan hidup seorang manusia sampai dia mati. Termasuk apakah dia akan terlahir sehat atau tidak, stunting atau tidak.
  
Keluarga lalu menjadi panggung utama tempat kejadian perkara. Sebagaimana Natal adalah saat di mana panggung dasar cerita utama adalah keluarga, demikian juga, keluarga adalah panggung utama lahirnya stunting.  

Sambil tetap mengapresiasi hasil kerja bangsa kita dalam mengatasi stunting, baiklah jangan juga diabaikan bahwa di beberapa bagian republik tercinta, kasusnya sedikit meningkat lagi akhir-akhir ini. Kejadian stunting pada kelahiran baru cenderung menurun, tapi beberapa yang tadinya (terlahir) sehat ditemukan stunting. Beberapa yang tadinya berhasil keluar dari stunting, terdata stunting lagi pada enam bulan berikutnya.  

Data balita yang dibaca para pihak hanyalah data anak yang terukur stunting. Oleh aturan, sumber daya kita lalu hanya diberikan kepada yang terlihat dalam data stunting. Sementara skala-nilai bebas stunting seorang balita tidak jadi perhatian kita. 

Status bebas stunting anak balita bukan status permanen. Artinya, selama periode baduta selalu ada kemungkinan bahwa seorang anak normal menjadi stunting atau bahkan kembali berstatus stunting lagi. Besar kemungkinan, anak seperti itu adalah anak yang terukur memilik panjang badan di ambang kritis. 

Mudah saja anak normal di ambang kritis jatuh lagi ke kelompok anak stunting pada minggu dan bulan berikut setelah pengukuran. Apalagi kalau anak ditimpa sakit seperti diare, malaria, dan lain-lain. Stunting, kata ahli, tidak terjadi seketika. 

Jelas, bahwa keadaan stunting dan tidak adalah rapor perhatian negara dan terutama keluarga. Setiap enam bulan rapor itu keluar. Bangsa atau daerah bergembira ketika rapornya baik, tapi sedih campur panik gusar ketika sebaliknya. Akan tetapi, sering terlihat bahwa keluarga yang anaknya menjadi stunting tidak panik juga? 

Cerita di ruang rapat koordinasi dan konsolidasi, sepanjang saya ikuti, banyak menyentil perilaku keluarga, yang jadi panggung utama tempat kejadian perkara itu. Ringkas cerita, keluarga tidak memprioritaskan kesehatan anak. Prioritas mereka adalah urusan adat, urusan sosial, membeli pulsa, merokok, judi online, dan lain-lain. Yang diringkaskan lagi dalam penggunaan istilah buruknya mindset masyarakat, mindset keluarga.  

Lalu pertanyaannya adalah sejauh mana sebetulnya intervensi negara yang bernilai triliun itu membenahi panggung utama?  

Kalaulah di satu dua kasus bukti memperlihatkan bahwa pasutri Yusuf dan Mariam (sebut saja namanya begitu) mendapat bantuan PKH atau BLT, terus bagaimana menjamin bahwa bantuan itu digunakan untuk maksud yang ada di dalam pikiran dan kertas rencana kita? 

Kalau anak baduta mereka (sebut saja Yoshua) ditemukan stunting berulang, sementara Yoshua dapat susu dan telur rutin dari negara, Yusuf dan Mariam pun menerima PKH atau BLT, tidakkah kita tergoda untuk berpikir bahwa ada yang salah dengan perilaku pola asuh mereka? Apa yang bisa dibuat seorang Kades terhadap Yusuf yang mungkin saja menggunakan bantuan yang diterimanya untuk berjudi, merokok, minum arak, atau urusan adat yang bahkan merugikan kesehatan? 

Ada dua sikap ekstrem kita berhadapan dengan kasus stunting di keluarga Yusuf. Pertama, putus asa dan membiarkan saja keluarga yang malang itu. Itu tidak dibenarkan mengingat tugas negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Selain itu, bila kita abaikan Yoshua karena perilaku (atau mindset orangtuanya), anak itu akan menjadi penyumbang muramnya masa depan bangsa. Kasus meningkatnya stunting di beberapa daerah mengganggu pikiran kita sebagai suatu bangsa.  

Ekstrim kedua adalah pendekatan yang tampil sekian rupa sampai ada kesan bahwa tanggung jawab atas Yoshua diambil alih oleh pihak di luar orangtuanya, antara lain oleh negara. 

Hal itu tentu saja juga kurang bijak. Benar bahwa Yoshua anak bangsa, tetapi anak itu adalah anak Yusuf dan Mariam. Mereka berkewajiban secara hukum, agama, budaya, moral, dan sosial untuk membuat tumbuh kembang Yoshua terjamin. 

Menarik urusan dasar keorangtuaan dari orangtua ke pihak di luar bisa berdampak jauh sampai soal terganggunya kasih sayang berupa perhatian yang sebagiannya mewujud dalam penyediaan makanan, pakaian, sarana kebersihan yang dicari dan dibangun oleh orangtua dengan susah payah. 

Makanan, selain bergizi perlu juga dicari, penting disiapkan dan disajikan oleh dan dengan hati penuh kasih sayang. Hal ideal yang hanya bisa dibuat oleh orangtua; tidak akan pernah bisa digantikan oleh pihak luar siapapun. Proses bagaimana makanan dicari orangtua memupuk kasih sayang di dalam keluarga. Makanan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi badaniah tetapi juga gizi batin yang memengaruhi keseluruhan karakter seseorang. 

Makanan yang disiapkan orangtua membentuk watak dan jiwa kita. Demi hal yang kiranya semendalam itu, sikap mengambil alih tugas Yusuf dan Mariam adalah tidaklah benar.  

Lebih dari itu, orang seperti Yusuf dan Mariam bisa saja telah berjanji di hadapan Allah, tangan keduanya ditaruh di atas Buku Suci, berjanji untuk bertanggung jawab atas keputusan mereka berkeluarga, salah satunya dalam bentuk menjaga anak-anak yang Tuhan percayakan kepada mereka. 

Dengan mengambil alih tugas keorangtuaan mereka, walau dalam hal ini baru untuk konteks penanganan stunting, ada kemungkinan kita, baik individu maupun lembaga terlibat dalam 'delik' janji dan sumpah palsu di hadapan Tuhan.

Alasan lain untuk mulai mempertimbangkan pentingnya orangtua sebagai pemeran utama dalam hal pencegahan dan penanganan stunting adalah, agar sumber daya negara bisa dihemat untuk urusan dan isu lain, yang sama mendesaknya. Bencana, seperti halnya terjadi di Sumatra saat ini, bisa saja akan terus terjadi, dan betapa banyak dana dan sumber daya yang harus disiapkan. Kesiapsiagaan kebencanaan amatlah penting. 

Sama halnya dengan isu lain, yang terasa kurang diberi perhatian. Seperti halnya disabilitas. Jumlah penyandang disabilitas tinggi di negeri kita, apalagi ditambah dengan mereka yang menjadi disabilitas kalau stuntingnya tidak ditangani dengan baik. Ditambah pula oleh mereka yang tiba-tiba menjadi disabilitas karena bencana. 

Isu kesehatan jiwa jadi satu soal juga. Jumlah ODGJ di daerah kami memprihatinkan tingginya, hanya ada satu RSD di satu provinsi, kebijakan yang sulit konteks wilayah seperti Flores di NTT. Sulitlah mengantar pasien dengan soal kejiwaan melintasi laut ke Kupang, 24 jam pelayaran. 

Sama halnya dengan isu HIV/AIDS. Seorang sahabat yang aktif di Komisi Penanggulangan Aids Daerah memberi kesaksian bahwa jumlah penderita belakangan meningkat. Pemahaman masyarakat tentang penyakit ini rendah sekali, stigma terasa sama sulitnya dengan pengobatannya sendiri. Perhatian kita terhadap topik-topik ini mendesak untuk ditingkatkan, tidak hanya untuk stunting. 

Kiranya Natal 2025--juga perayaan besar keagamaan agama lain--bukan sekadar perayaan gegap gempita cenderung berwarna kapitalistik, tetapi betul menjadi momentum memberi perhatian pada isu tentang sel utama bangsa dan keumatmanusiaan, yakni keluarga.
 
Saya yakin, umat Kristiani seluruhnya akan mendapat kotbah terkait Perayaan Natal sebagai Perayaan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, lewat kotbah guru agama, para Pastor, Uskup, Bapak dan Ibu Pendeta. 

Semoga Natal 2025 menjadi berkat bagi bangsa kita!!!



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik