Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Natal yang Bertubuh di Dunia Digital yang Tak Bertubuh

Sefrianus Juhani (Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero Maumere-Flores)
18/12/2025 21:23
Natal yang Bertubuh di Dunia Digital yang Tak Bertubuh
(Dokpri)

SAAT memasuki masa Adven, kita diajak untuk berhenti sejenak dan mengambil jarak dari ritme hidup yang serba cepat. Kita menengok kembali makna kedatangan yang dirayakan setiap Natal, yakni kehadiran yang tidak hanya turun dalam sejarah, tetapi mengambil tubuh. Kata Latin advenire yang menjadi akar adventus mengingatkan bahwa kedatangan bukan sekadar momentum, melainkan kesiapan batin untuk menyambut. Inkarnasi Kristus meneguhkan hal itu: Sabda memilih merangkul hidup manusia secara langsung dan tak berjarak.

Ironisnya, refleksi ini muncul ketika sebagian besar kehidupan kita justru berpindah ke layar. Percakapan, gagasan, bahkan pencarian makna sering berlangsung dalam ruang yang cepat dan luas, tetapi tak bertubuh. Kita hadir, tetapi tidak sepenuhnya hadir. Kehadiran digital adalah kehadiran yang terdengar tetapi tak menyentuh, tampak tetapi tak menjejak.

Di tengah pergeseran besar ini, muncul pertanyaan krusial: apa arti Natal, perayaan Allah yang menubuh, di dalam dunia yang makin meninggalkan tubuh? Bagaimana pesan inkarnasi berbicara kepada manusia yang lebih sering menatap gawai ketimbang wajah sesama? Apakah kedekatan masih mungkin ketika relasi bergantung pada sinyal? Pertanyaan ini milik semua orang, bukan hanya umat beriman. Dunia digital telah mengubah cara kita bekerja, berelasi, dan memahami diri.

Peringatan Paus Fransiskus tentang pentingnya kedekatan nyata (The Pope’s Prayer Intention for April 2025: For the Use of the New Technologies) dan refleksi Teilhard de Chardin tentang relasi manusia dan teknologi menunjukkan bahwa perubahan digital menyentuh inti kemanusiaan (The Phenomenon of Man, 1959). Natal tahun ini, karena itu, mengundang kita bukan hanya mengenang kelahiran, melainkan untuk menimbang kembali cara hadir.

Tubuh sebagai bahasa pertama Natal

Dalam peristiwa Natal, tubuh menjadi bahasa pertama Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia. Inkarnasi adalah kisah yang mengguncang logika manusia. Sabda yang kekal turun menjadi bayi yang rapuh di Betlehem. Inkarnasi tidak hadir dalam bentuk gagasan, tidak sebagai teori, tetapi sebagai tubuh. 

Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa Allah menampilkan diri-Nya “dalam tubuh manusia sebagai tanda kedekatan tanpa syarat” (Benedict XVI, Jesus of Nazareth). Karl Rahner menambahkan bahwa inkarnasi adalah pilihan Allah untuk memihak dunia manusia, bukan untuk menghindarinya (Rahner, Foundations of Christian Faith).

Pesan itu sederhana tetapi radikal: tubuh itu penting. Tubuh adalah bahasa pertama cinta. Tubuh adalah tempat relasi bertumbuh. Tubuh adalah ruang kerentanan manusia, dan karena itu menjadi ruang wahyu.
Natal menghadirkan Allah yang hadir bukan dari kejauhan, melainkan dari pelukan seorang ibu, dari tangis seorang bayi, dan dari langkah yang menyusuri jalan berdebu. Inkarnasi adalah penegasan bahwa relasi hanya lahir ketika manusia berani hadir dan menyentuh dunia apa adanya.

Ketika dunia digital menjadi ruang tanpa tubuh

Peralihan kehidupan manusia ke ruang digital menghadirkan pengalaman baru, yakni relasi yang makin dimediasi teknologi dan kian menjauh dari kehadiran tubuh. Filsuf Maurice Merleau-Ponty menulis bahwa manusia mengenal dunia melalui tubuhnya: “The body is our general medium for having a world” (Phenomenology of Perception). 

Di ruang digital, tubuh bekerja setengah. Kita berbagi kata, tetapi tidak berbagi ruang. Nicholas Carr menyebut kondisi ini sebagai “kehadiran yang terbelah” (The Shallows). Kita ada di mana-mana, tetapi tidak benar-benar di mana pun.

Namun, Gereja melihat fenomena ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai medan baru. Paus Benediktus XVI menyebut dunia digital sebagai “ruang publik baru”, tempat Sabda dapat menjumpai manusia dengan bahasa zaman (Message for World Communications Day 2011). Paus Fransiskus menegaskan bahwa internet dapat menjadi “jalan perjumpaan”, selama digunakan untuk mendekat, bukan menjauh (Message for World Communications Day 2019).

Ketika sabda mencari tubuh baru di dunia maya

Di tengah pergeseran ruang hidup manusia ke dunia digital, pesan inkarnasi menghadapi medan baru untuk dihayati dan diwujudkan. Jika Natal adalah kisah Sabda yang menjadi daging, tantangan hari ini dapat dirumuskan dalam satu pertanyaan yang sederhana tetapi mendalam: bagaimana Sabda itu menemukan tubuh di ruang digital, ruang yang luas, cepat, bising, dan sering kehilangan wajah manusia?

Pertanyaan ini tidak berhenti pada ranah gagasan, tetapi menuntut jawaban yang diwujudkan dalam cara manusia hadir dan berelasi di ruang digital. Dalam terang inkarnasi, setidaknya ada empat sikap konkret yang dapat dibaca sebagai cara Sabda menemukan tubuhnya di dunia digital hari ini.

Pertama, melalui kedekatan batin. Di tengah arus informasi yang tak henti, dari polemik politik hingga kabar bencana di Sumatra, hening justru menjadi bentuk kehadiran. Tidak setiap tragedi perlu segera dikomentari. Tidak setiap isu politik harus dibalas dengan kemarahan. 

Doa singkat, jeda sebelum menanggapi, kata yang pelan, dan komentar yang teduh menjadi 'tubuh-tubuh kecil' Sabda yang mengembalikan martabat ruang digital. Dalam dunia yang tergesa-gesa menghakimi, hening yang berempati adalah sikap politis sekaligus spiritual.

Kedua, melalui perjumpaan yang memulihkan. Media sosial kerap menjadi arena polarisasi. Kubu melawan kubu, identitas saling menegasikan, korban bencana direduksi menjadi angka, sementara penderitaan nyata tenggelam oleh sensasi. 

Inkarnasi mengajarkan bahwa kehadiran sejati selalu berpihak pada yang rapuh. Di tengah debat politik yang memecahbelah dan respons yang dingin terhadap bencana alam, Sabda menemukan tubuhnya dalam bahasa yang memulihkan. Hal ini tampak dalam respons yang sopan, penolakan terhadap ujaran kebencian, dan keberanian untuk mengingatkan bahwa di balik setiap isu ada manusia dengan luka dan harapan.

Ketiga, melalui kerentanan yang jujur. Budaya digital mendorong pencitraan, seolah segalanya terkendali, baik-baik saja, dan sukses. Namun realitas sosial berkata lain. Banyak warga terdampak bencana kehilangan rumah dan masa depan; banyak keluarga tertekan oleh krisis ekonomi dan ketidakpastian politik. 

Di tengah budaya pamer dan retorika kemenangan, keberanian untuk mengakui keterbatasan, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, menjadi kesaksian profetis. Kerentanan yang matang, bukan eksploitasi luka, membuat solidaritas sungguh mungkin.

Keempat, melalui integritas hidup. Dunia digital memudahkan jarak antara kata dan kenyataan. Janji politik mudah diucapkan, simpati mudah diunggah, tetapi keberpihakan nyata sering absen. Natal justru menegaskan kesatuan yang radikal antara sabda dan hidup. Sabda menjadi daging, bukan slogan. 

Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan bahwa sabda hanya menjadi meyakinkan bila lahir dari kehidupan yang dijalani dengan setia. Dalam konteks sosial hari ini, integritas berarti berani menghubungkan unggahan dengan tindakan, opini dengan tanggung jawab, dan iman dengan kepedulian konkret.

Pada titik ini, kehadiran manusia di ruang digital tidak lagi netral. Kehadiran itu dapat memperpanjang luka, tetapi juga dapat menjadi perpanjangan inkarnasi, yaitu kehadiran yang jujur di tengah manipulasi wacana dan kehadiran yang membumi di tengah krisis politik, bencana alam, dan kegamangan sosial. Di sanalah Natal menemukan maknanya hari ini—ketika Sabda terus mencari tubuh, bukan untuk dipuja, melainkan untuk tinggal bersama yang terluka.

Manusia modern hidup di dua dunia, dunia yang bertubuh dan dunia yang tak bertubuh; tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan menghidupi kemanusiaan secara utuh dalam keduanya.

Natal, dengan pesan kedekatan dan kerentanan menawarkan kompas etis yang penting. Ia mengingatkan bahwa teknologi hanya berguna sejauh membantu manusia saling menjumpai. Jika nilai-nilai ini dipelihara, ruang digital tidak lagi terasa kosong. Ruang digital itu berubah menjadi lahan baru bagi dialog, solidaritas, dan komunitas.

Membawa 'Sabda yang menjadi daging' ke dunia digital bukan berarti menjadikan internet seperti Betlehem, melainkan menghadirkan kehangatan, keautentikan, dan integritas dalam setiap interaksi. Dengan cara itu, manusia tetap dapat menyentuh dan disentuh, bahkan di ruang yang tak bertubuh. Dan di situlah Natal kembali menemukan maknanya, yaitu kasih yang hadir, di tubuh apa pun bentuknya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik