Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Hikmah dari Bencana

Masmuni Mahatma, Ketua PWNU Babel, Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol Padang
15/12/2025 21:35
Hikmah dari Bencana
Masmuni Mahatma.(DOK PRIBADI)

SETIAP gerak dan diam sepanjang menjalani hidup ini, pasti dalam pengawasan Allah SWT. Suka, duka, sedih, riang, lemah, kuat, sakit, sehat, gelap, terang, tidak bisa lepas dari aliran pantauan Allah SWT. Bahkan bencana banjir bandang yang menimpa masyarakat sekaligus bumi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kabupaten Bandung, dan banjir rob yang mengepung sebagian kota Jakarta, sekali lagi, Allah Maha Tahu. 

Tidak ada yang luput dari kuasa-Nya. Hanya dan harus diakui sungguh-sungguh bahwa sebagian makhluk seperti manusia kebanyakan cukup terlambat dan sulit sekali untuk bisa menangkap isyarat Allah SWT. Tetapi inilah seni hidup. Pasti ada hikmah.
Hidup ini gratis dari Allah SWT. Tubuh, jiwa, dan pelbagai kelengkapan hidup makhluk, termasuk manusia, semua juga dari Allah. Kalau pun ada yang melalui proses interaksi, interkoneksi, jual-beli, tukar tambah, saling berbagi hal antara sesama makhluk, itu bagian dari jalan yang telah Allah sediakan di alam semesta. Tidak perlu dikebiri, apalagi dikhianati. Sebagai makhluk dan hamba, tugas kita cukup jelas, ialah mengabdi, menyembah, dan merealisasikan amanah-amanah ilahi dalam transformasi kebajikan universal. Demikian pula pemikiran dan sikap sosial terhadap keberadaan alam semesta dan kelangsungan naturalistiknya mesti dipijakkan pada jalan Allah.

Jalan Allah, teramat nyata dan realistik. Jalan yang sangat universal. Tidak perlu ditimbang liar dengan logika-logika cenderung parsial. Jalan Allah SWT itu adalah jalan keadilan, jalan keteduhan, jalan amanah, dan jalan kemanusiaan. Jalan yang indah untuk menata dan terus menerus menyalurkan spirit, nilai, komitmen, dan loyalitas atas nama kemakhlukan, kehambaan, serta kekahlifahan. Ini seturut firman Allah, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan Adam dan manusia sebagai khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah:30). Ini tugas luhur, demi mengawal eksistensi dan esensi sendi-sendi (ke)semesta(an) baik langsung maupun tidak langsung.

Tugas Khalifah

Fungsi dan tugas khalifah ialah mengelola bumi dan isinya, memakmurkan bumi demi seluruh makhluk Allah, dan dilarang merusak bumi yang Allah suguhkan bagi makhluk-Nya. “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan oleh Allah dengan baik. Berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan penuh harap. Sungguh, rahmat Allah sangat dekat kepada makhluk yang berbuat kebaikan (QS. Al-A’raf:56). Ini amat lugas bahwa merusak bumi adalah tindakan tidak pernah diridlai Allah. Tindakan yang akan melahirkan hal-hal negatif dan bisa mengundang ketidaksukaan Allah SWT.

Di antara tugas khalifah juga dan ini paling ringan ialah mencermati, menyelami, dan menginternalisasi hikmah dari sebuah bencana. Kurang etis rasanya bila hanya mengklaim dan menyudutkan bahwa bencana atau kerusakan di laut, darat, dan (mungkin) udara, sebagaimana akhir-akhir ini, semata-mata disebabkan kecerobohan dan eksploitasi sadis manusia. Sekira dikategorikan bagian konsekuensi logis dari pengelolaan alam yang kurang sehat secara teknis maupun non-teknis, tidak bisa disangkal. Ini yang mesti diluruskan. Ini pula yang patut ditelaah, dipilah-pilah, demi rekonstruksi yang lebih adaptif-prospektif. Bukan sekadar dihakimi dan didistorsi.

Sebagai khalifah di muka bumi tidak ada seorang pun pantas atau dibenarkan melakukan manipulasi, eksploitasi, kapitalisasi terhadap bumi dan pelbagai hal yang mengitari. Apalagi dengan cara-cara yang jauh sekali dari jalur amanah ilahi rabbi. Sebaliknya, yang perlu dan mendesak dilakukan adalah mengembalikan sakralitas alam semesta yang filosofis dan menyejukkan. Sebab keberadaan alam sama halnya dengan keberadaan makhluk Allah pada umumnya. Ia harus disyukuri, ditelateni, diopeni, diakrabi, dan diolahtumbuhkan lebih produktif bukan diperah-perah belaka demi kepentingan dan keuntungan personal atau komunal. 

Sedari awal leluhur bangsa dan negara mengingatkan bahwa alam merupakan sumber kehidupan. Alam juga memiliki tatakelola dirinya lengkap dengan keajaiban-keajaiban yang berungkali ditampakkan. Relasi manusia dengan alam pun bukan hubungan biasa-biasa, melainkan terbilang mendalam dan kualitatif. Relasi eksistensial, esensial, dan transendental. Wajar banyak yang mensinyalir jika di antara manusia hendak melihat Allah SWT marah, hal itu tergambar kala alam murka. Ilustrasi teramat gamblang dan aktualisasi yang benar-benar realistik. Sekali lagi, tugas khalifah, ialah mengedukasi dan mencerahkan tiada henti sehingga alam tetap indah dan asri.

Menguatkan Iman

Di luar daya ledaknya yang dahsyat, bencana juga bisa melahirkan hikmah yang patut direkontekstualisasi. Pertama, dalam perspektif lebih arif, meletupnya bencana mesti dimaknai dan disikapi layaknya medium sosio-religius demi menguatkan (ke)iman(an). Dari dan untuk penguatan (ke)iman(an) ini, apa dan kapan pun bencana hadir, tidak pernah mengurangi atau mengikis nilai-nilai imani. Sebaliknya, berdasarkan sapaan bencana, setiap diri bergegas untuk introspeksi, muhasabah, mengevaluasi, dan merelokasi pemikiran, perilaku, karakter, mentalitas, serta loyalitas kepada Allah SWT. Sehingga melihat bencana senantiasa dari perspektif imani. Mendahulukan ketakjuban, kerendahan hati, dan syukur yang sedemikian empatik.

Kedua, bisa saja bencana itu bagian dari siklus alam semesta dalam konteks usianya yang kian lanjut. Ini sinyal untuk mendewasakan pola hidup sekaligus orientasi spiritualitas. Jika kecenderungan ini dimaknai positif, maka otokritik terhadap fenomena problematik mengenai iklim semesta maupun mencegah rusaknya lingkungan lebih parah, otomatis menjadi kesadaran sekaligus tanggung jawab kolektif. Tidak terkecuali mereka yang meyakini diri selaku manusia, sahabat alam semesta paling hangat. Kepekaan terhadap penyehatan dan pelestarian lingkungan, yakni konstruksi berbasis ekoteologis akan mengemuka dan dibumikan secara produktif.

Ketiga, tawasau bi al-haq. Pengingat akan kebenaran seruan dan janjinya Allah SWT. Artinya, siapa pun yang tidak lagi memakai nalar imani selama memperlakukan alam, mereka telah menjadi pemantik risiko tidak terduga dalam kehidupan masyarakat bumi. Ini yang sekarang meruntuhkan sebagian besar daerah dan masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kabupaten Bandung, dan lain-lain. Maka pembalakan liar (ilegal logging), perusakan lingkungan karena limbah perusahaan, atau penggalian sumber daya alam yang cenderung pragmatis-manipulatif, seyogianya dihentikan dan dimitigasi semaksimal mungkin agar kerusakan tidak bertambah parah.

Keempat, hikmah dari bencana itu, adalah momentum pengarusutamaan hidup meditatif. Setiap diri matang mengenali kedalaman batini, hidup lebih produktif dan empatik, jauh dari mentalitas destruktif. Hidup dibaluri kesadaran kedirian sejati, mudah menyatu dan berpadu dengan dinamika serta getar aspiratif semesta. Sebab selaku mikrokosmos, tugasnya adalah memahami dan menyelami diri lalu menolong sesama makhluk tanpa pretensi. Tidak lagi terjebak pada ruang dan waktu, pikiran dan bahasa, apalagi kepentingan pragmatis-hedonis-kapitalistik semata. Pijakan utama sepanjang hidup tetap otoritas dan integritas (ke)iman(an).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik