Senin 22 Agustus 2022, 05:05 WIB

Literasi Kesehatan Mental

Nadia Sabrina Konselor Sekolah Sukma Bangsa Pidie | Opini
Literasi Kesehatan Mental

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

TOPIK kesehatan mental masih sering muncul di berbagai platform media maupun forum diskusi. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental masih rendah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi (Rokom, 2021).

Data ini mengindikasikan betapa perhatian terhadap kesehatan mental masih rendah sekali, terutama bagi remaja. Padahal remaja merupakan subjek yang amat rentan dengan persoalan kesehatan mental akibat emosi yang masih cenderung labil. Mudah marah, merasa putus asa, rendah diri, merasa cemas dan khawatir yang berlebihan merupakan beberapa gejala yang timbul akibat persoalan kesehatan mental. Gejala-gejala ini kerap menghinggapi remaja yang berakar dari berbagai variabel; pengalaman traumatis, percintaan, pertemanan, problematika keluarga, hingga tekanan hidup. Karena itu, isu kesehatan mental menjadi penting untuk mendapatkan atensi bersama.

Sekolah seyogianya menjadi tempat yang memberi ruang selebar-lebarnya bagi promosi kesehatan mental terhadap peserta didiknya. Sebagai contoh, Swiss dan Singapura (katadata.co.id, 2021) adalah negara dengan kesehatan mental terbaik nomor 5 dan 7 di dunia. Kesehatan mental menjadi fokus utama di sekolah-sekolah di kedua negara tersebut.

Berbanding terbalik dengan Indonesia yang mayoritas sekolahnya hanya berlomba-lomba meraih capaian akademik terbaik semata, tetapi abai terhadap kesehatan mental siswanya. Pembentukan karakter akhirnya hanya sebatas jargon promosi semata. Siswa terus berada di bawah tekanan dari sekolah dan orangtua untuk meraih nilai tinggi.

Menurut Nugroho (2022)--mengutip data Riskesdas 2018, sekitar 6,2% penduduk Indonesia usia produktif berpotensi mengalami gangguan mental depresi atau kecemasan. Penderita depresi dan kecemasan berlebihan harus segera ditangani. Jika penanganannya terlambat, akan menjadi lebih buruk dan penderitanya memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

 

Sekolah dan kesehatan mental

Lalu bagaimana caranya agar generasi muda memiliki kematangan emosional yang baik? Untuk mendukung pertumbuhan mental yang sehat, seyogianya ruang pendidikan menyediakan lingkungan pertumbuhan yang positif dan kondusif bagi siswa demi mendorong mereka untuk bersikap positif dalam menghadapi setiap tekanan maupun tuntutan dari lingkungan sekitarnya.

Ada beberapa hal yang sekolah bisa lakukan agar tercipta sekolah yang positif bagi perkembangan mental siswa. Pertama, sekolah perlu memasukkan muatan tentang kesehatan mental ke dalam kurikulum sekolah. Materi ini bisa dilakukan dengan integrasi kurikulum maupun lintas kurikulum. Kedua, sekolah harus menyediakan sistem komunikasi terbuka yang mengandung nilai-nilai keterbukaan, kepedulian, keberanian, dan berjiwa besar.

Sistem komunikasi terbuka menjamin hak siswa berpendapat terhadap hal yang berkaitan dengan sekolah sehingga melatih siswa memiliki kesadaran dan keberanian serta keterampilan untuk berbicara jika terjadi hal yang tidak sesuai aturan main sekolah. Siswa juga bisa memberikan masukan berupa kritik dan saran terkait kegiatan pembelajaran yang dirasa berdampak pada kondisi perkembangan psikologis mereka. Sistem komunikasi ini dapat dilakukan dalam bentuk evaluasi rutin yang dilakukan guru serta konselor sekolah melalui kuesioner.

Ketiga, sekolah harus mengaktivasi wali kelas secara rutin agar memiliki jadwal khusus untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan siswa secara reguler membahas berbagai topik dan masalah yang mengganggu proses belajar siswa. Keempat, sekolah harus bisa memberikan layanan konsultasi maupun kampanye pentingnya kesehatan mental kepada para siswa. Layanan konsultasi dan kampanye ini mengandung nilai-nilai empati, kepedulian, dan kesadaran. Kegiatan ini melingkupi edukasi tentang perubahan yang terjadi di usia transisi, adaptasi di sekolah, cara mengatasi stres dan masalah kesehatan jiwa, edukasi tentang pengenalan gejala gangguan jiwa dan cara mengakses layanan kesehatan jiwa, membantu mereka menghadapi kesulitan, serta mengembangkan keterampilan mengelola stres.

 

Pengalaman terbaik

Pengalaman Sekolah Sukma Bangsa Aceh menunjukkan metode di atas dapat membantu para siswa melewati berbagai masalah dan fase kritis dalam perkembangan kesehatan mental mereka. Kasus yang kerap terjadi ialah masalah perilaku dan psikologis siswa yang berasal dari persoalan keluarga (perceraian orangtua). Masalah ini berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis siswa. Dampak itu tecermin dalam bentuk perilaku keseharian. Siswa menjadi anak yang pemarah dan cenderung kasar secara verbal, bahkan beberapa kali berkelahi dengan siswa lain.

Pada kasus lain, dengan situasi ketika kedua belah pihak orangtua berselisih hingga melibatkan siswa dalam perselisihan tersebut. Akibatnya tumbuh rasa benci dalam diri siswa kepada salah satu pihak. Siswa pun menjadi pemurung serta tidak berkonsentrasi dalam belajar di sekolah. Pada kedua kasus tersebut, sekolah melakukan layanan konseling dan kesehatan mental, juga menerapkan sistem komukasi efektif.

Pertama, layanan konseling invidual yang dilakukan ialah pendampingan siswa mengelola masalah dan kondisi psikologis dirinya, seperti mengajarkan keterampilan mengelola amarah, afirmasi diri dan konsep diri positif, melakukan komunikasi efektif, serta berdamai dengan diri dan keadaan. Kedua, dalam hal membangun lingkungan dengan sistem komunikasi efektif, sekolah melakukan mediasi antara siswa dan pihak yang terlibat maupun mediasi dengan pihak orangtua.

Kedua belah pihak diajak untuk menerapkan nilai-nilai keterbukaan, kepedulian, keberanian, dan saling berjiwa besar dalam menyelesaikan masalah. Di samping itu, dinamika sosial yang positif yang terjalin di lingkungan sekolah (saling menghargai, empati, keterbukaan, kerelaan) membantu dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa.

Dengan beberapa upaya tersebut di atas, siswa dapat mengembangkan keterampilan mengelola kondisi psikologis dirinya dengan baik; siswa mampu mengelola amarah dan menjadi lebih tenang. Siswa juga memperbaiki komunikasi dan hubungan dengan orang di sekitarnya walaupun tidak sempurna seperti sebelumnya.

Berbagai metode tersebut di atas, dari mulai implementasi kesehatan mental dalam kurikulum, membangun sistem komunikasi efektif, hingga layanan dan kampanye kesehatan mental merupakan salah satu contoh dari berbagai pilihan yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah demi mendukung proses pertumbuhan kesehatan mental siswa. Tentunya masih banyak cara lain yang bisa dijadikan alternatif. Upaya tersebut harus dilakukan sekolah agar penyiapan generasi emas Indonesia betul-betul menjadi generasi emas yang sehat secara fisik dan mental pada 2045 mendatang.

Baca Juga

MI/Duta

4 Skenario Ibu Kota Negara

👤Sulfikar Amir Visiting Senior Fellow di Saw Swee Hock Southeast Asia Centre, London School of Economics and Political Science (LSE) 🕔Kamis 29 September 2022, 05:05 WIB
PEMBANGUNAN Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ialah suatu super megaproyek yang memiliki tingkat kompleksitas...
MI/Seno

Bersama Hadapi Perfect Long Storm

👤Suryopratomo Dubes RI untuk Singapura 🕔Kamis 29 September 2022, 05:00 WIB
ANI Ema Susanti hingga 2003 masih tercatat sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Menjadi PMI tentu bukan pekerjaan yang...
Dok Pribadi

Kesejahteraan Dokter, Isu Terlupakan

👤Iqbal Mochtar Pengurus PB IDI 🕔Rabu 28 September 2022, 07:00 WIB
Memberi gaji rendah kepada dokter mengisyaratkan rendahnya apresiasi terhadap profesi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya