Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DULU, ungkapan 'aku berpikir maka aku ada' (cogito ergo sum) dari Rene Descartes demikian masyhur. Kalimat tersebut sesungguhnya mencerminkan sebuah narasi peradaban di zamannya, ketika rasionalitas adalah tema utama keunggulan eksistensi manusia. Manusia dianggap eksis jika ia mampu berpikir.
Di kemudian hari, saat kapitalisme semakin merajalela hingga menciptakan kultur konsumerisme yang akut, muncul ungkapan yang sejatinya merupakan kritis sosial; 'aku mengonsumsi maka aku ada'. Di titik ini, narasi 'rasional' tereliminasi oleh narasi 'emosional'.
Hari ini, di era media sosial (medsos), eksistensi manusia diukur dari ungkapan 'aku selfie maka aku ada' dan 'aku viral maka aku ada'. Kita hidup ketika viralitas menjadi obsesi dan tujuan. Banyak orang, terutama generasi baru, yang rela menghalalkan berbagai cara untuk menikmati gurihnya viralitas. Bahkan sebagian di antaranya tidak ragu melakukan hal-hal memalukan, tidak sopan, amoral, hingga mengancam nyawa (diri sendiri dan orang lain). Tidak heran, di berbagai platform medsos kita dengan sangat mudah menemukan konten-konten yang sengaja diproduksi demi mengejar viralitas. Sebagian di antaranya memang positif, namun tidak sedikit yang jauh dari kata bermanfaat.
Oxford mendefinisikan kata viral sebagai an image, video, advertisement, etc., that is circulated rapidly on the internet (gambar, video, iklan, dan lainnya, yang beredar dengan cepat di internet). Jika dulu misi akan viralitas lebih banyak menjadi area program pemasaran perusahaan demi membangun awareness produk, kini tampaknya obsesi viralitas telah 'terdemokratisasi' di level individu. Siapapun kemudian merasa butuh untuk populer. Bahkan seolah menentukan status sosial seseorang.
Demi sebuah konten, baru-baru ini seorang remaja tewas akibat nekat menghadang truk yang sedang melaju. Ia hanya salah satu contoh dari banyak kasus yang kebetulan mendapatkan eksposur di media massa. Yang cukup meresahkan adalah banyaknya konten-konten, baik foto maupun video, pengumbaran aurat dan keseksian yang tersebar dengan sangat bebas. Bahkan, banyak media mainstream (arus utama) yang justru mengambil materi berita dari konten-konten media sosial yang viral tersebut, demi mendatangkan viewers.
Tampaknya ini merupakan gejala demokratisasi konten, atau lebih jauh dari itu, liberalisasi konten. Siapapun bebas membagikan konten apapun. Semua konten akan aman selama tidak dipersoalkan, tidak melanggar ketentuan platform ataupun UU ITE. Realitasnya lebih banyak yang selamat dibanding yang terjerat. Di era seliberal hari ini, filter konten dikembalikan kepada penggunanya. Sayangnya, tidak semua pengguna bijaksana.
Tentu kita juga bangga, ada sebagian anak muda yang mengisi saluran medsosnya dengan konten-konten positif. Kemasannya entertaining, renyah dan sangat dekat dengan dunia muda, meski terkadang tidak senada sepenuhnya dengan parameter moralitas generasi tua yang konservatif. Namun, selagi keunikan konten tersebut masih dalam batas-batas kepatutan dan toleransi multi-budaya bangsa ini, barangkali mereka perlu mendapat kesempatan untuk berkreasi.
Fenomena ini menjadikan dunia informasi dan hiburan publik tidak sentralistik, dan tidak hanya mampu dilakukan oleh level korporasi seperti selama ini. Bahkan, ada seorang perempuan muda dari pelosok negeri, dengan modal kamera handphone seadanya, mampu memproduksi konten-konten viral, yang belum tentu bisa dihasilkan oleh seorang profesional. Konon, viralitas berkorelasi dengan hoki. Meski demikian, menurut saya tetap ada eksplanasi rasionalnya, mengapa yang satu berhasil dan lainnya gagal.
Berburu viral memang tidak harus dilakukan dengan cara-cara negatif-destruktif. Bahkan seharusnya ini menjadi tantangan bagi anak-anak muda, agar mampu menghasilkan konten-konten viral dengan cara-cara yang lebih elegan dan bermartabat. Kalaupun merasa perlu sesekali melakukan hal-hal ekstrem, tetap harus terukur dan mempertimbangkan risikonya.
Saya pernah menonton konten adu nyali memakan cabai super pedas, seperti paqui atau carolina reaper. Jika semuanya telah dipersiapkan secara terukur, memang menghasilkan konten yang lucu dan seru, dan menciptakan keviralan. Namun, jika itu dilakukan secara membabi buta, akibatnya bisa sangat fatal.
Viralitas memang bermata dua. Produsen konten bisa untung, bisa pula buntung. Selain mereka harus siap dengan risiko dalam proses produksinya, mereka juga harus siap dengan efek viralitasnya. Terkadang pembuatnya tidak dapat memprediksi secara pasti bagaimana reaksi publik. Ada konten yang disangka akan menuai pujian, ternyata sebaliknya memanen hujatan. Apalagi, warganet Indonesia sangat kritis.
Kehati-hatian dalam penyebaran konten juga sepatutnya dimiliki oleh para politisi, apalagi figur-figur yang masuk daftar bakal calon presiden potensial di Pemilu 2024. Viralitas politik memang merupakan investasi yang sangat mahal jika dikonversi secara material. Namun, respons warganet juga sama-sama tidak bisa dikendalikan sebagaimana mereka melihat konten dari kreator lainnya. Apalagi, konten-konten politik hari ini masih kerap direspon warganet secara 'bipolar'. Tampaknya kita masih membutuhkan waktu untuk menyikapi viralitas secara dewasa.
ISRA Mikraj merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam.
Konten di media sosial bisa berupa teks, foto, video, suara, atau siaran langsung, dan interaksi dilakukan melalui like, komentar, share, atau pesan.
Pemahaman terhadap regulasi media sosial di Arab Saudi menjadi hal penting yang wajib ketuhui, baik oleh petugas maupun jemaah haji.
Kemkomdigi bergerak cepat merespons keresahan publik terkait isu dugaan kebocoran data pengguna Instagram dan keamanan fitur reset kata sandi.
Sedang mencari kata kata gamon yang mewakili perasaanmu? Temukan kumpulan caption gagal move on paling menyentuh dan aesthetic untuk media sosial di sini.
DENSUS 88 Antiteror mengidentifikasi sekitar 70 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem.
Istana merespons adanya dugaan teror terhadap sejumlah kreator konten yang kerap mengkritik program pemerintah.
"Setiap orang punya keunikan dan nggak perlu jadi orang lain untuk merasa pede,”
Video yang menampilkan Bonnie Blue, nama panggung bintang film porno asal Inggris, kembali viral dan memicu kemarahan publik.
Andra ST, yang mengawali kariernya dari warnet, berhasil memenangkan kategori Best Performance Kreator dan Most Active Kreator.
Lagu ini berbicara tentang diamnya pasangan dalam sebuah hubungan yang akhirnya menumpuk dan berujung tajam
Jerome Polin menjelaskan bahwa Indonesia telah kehilangan 10 juta hektare hutan selama dua dekade.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved