Rabu 13 April 2022, 05:00 WIB

Spiritualitas Puasa, Paradigma Gerakan Islam Berkemajuan

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dewan Pembina Maarif Institute, Komisioner Komnas HAM-RI 2007-2012. | Opini
Spiritualitas Puasa, Paradigma Gerakan Islam Berkemajuan

Dok. Pribadi

 

HIKMAH paling besar ibadah puasa ialah nafsu pemenuhan kebutuhan diri bagi kepentingan orang banyak. Setiap tahun, ibadah itu datang kembali dan kita sambut dengan sukacita (Marhaban ya Ramadan). Sebagai bagian muhasabah, yaitu pertanyaan evaluatif secara sadar dan introspektif, apa bukti puasa diridai Allah beroleh ampunan (kesalahan kita selalu dikoreksi), dengan bukti kehidupan kita menjadi semakin sejahtera?

Hikmah puasa itu signifikan bagi realisasi nilai-nilai Pancasila (sila pertama, kedua, ketiga, dan kelima), bagi kemanusiaan universal dalam kehidupan bersama di tengah pergaulan dunia. Suatu tata nilai ideologis futuristis, guna mengawal pergaulan dunia yang semakin terbuka dengan kompetisi antarbangsa dan individu yang semakin sengit. Itulah maksud wa syahadah keputusan Muktamar Muhammadiyah Makassar 2015 bahwa Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah, yang secara general bermakna perjanjian luhur, yang harus dibuktikan dalam kehidupan empiris berbangsa.

Sejak berdiri satu abad lalu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (sayap perempuan Muhammadiyah) dikenal sebagai gerakan sipil Islam mengabdi bagi kemanusiaan untuk bangsa, bukan bagi dirinya sendiri, seperti maksud hikmah puasa dan basis ideologis Pancasila sebagai perjanjian luhur dan arena persaksian. Landasan idiil Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) ialah ajaran Islam berkemajuan, yang asetnya kini diperkirakan mencapai lebih Rp1.000 triliun. AUM yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara dari Aceh, hingga Miangas, Papua, dan Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya Nasrani tanpa orientasi mengubah keyakinan pengguna jasa AUM-nya, tapi semata-mata bagi kemanusiaan.

AUM gerakan ini ialah media dan wahana pelayanan umat, meliputi 457 rumah sakit, 102 pesantren, 19.951 sekolah, dan 176 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh pelosok hingga ke luar negeri. Selain itu, juga mengembangkan lembaga ekonomi, yaitu 765 bank perkreditan syariah dan 437 baitul mal dengan 21 juta meter persegi tanah wakaf (lihat Abdul Qohar, Mental Muhammadiyah, Dewan Redaksi Media Group).

 

Tanpa gaji dan pertambahan anggota

Pemilik AUM, rumah sakit, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, panti yatim piatu, dan masjid, dengan omzet triliunan rupiah itu tidak menerima gaji atau honorarium. Hanya pengelola AUM sebagai kepala sekolah, direktur rumah sakit, mudir pesantren, rektor perguruan tinggi bersama pejabat, dan karyawan AUM, yang menerima gaji (honorarium). Sepertinya, aktivis gerakan ini setia memenuhi pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan; “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Struktur organisasi tingkat terbawah, yakni rantingnya tersebar di lebih seperempat desa yang ada di negeri ini (83.184) tersebar di 34 provinsi dengan 23 cabang istimewa di luar negeri. Partisipan dan pengguna jasa layanan AUM-nya bisa mencapai puluhan juta orang. Meski demikian, tidak banyak diketahui jika anggota pengikut gerakan ini yang berkartu dengan nomor baku hingga akhir Maret 2022 belum mencapai 1,5 juta orang. Pertambahan jumlah anggota dari Februari 2020 (1.359.408 orang) hingga 2022 (Maret) mencapai 74.358 atau 37.179 orang per tahun.

Pertambahan jumlah anggota Muhammadiyah tersebut terkesan lambat.

Hal ini berbeda dengan pengguna jasa kegiatan gerakan ini yang disebut AUM, setiap tahun bisa mencapai puluhan juta orang. Jika pengguna layanan jasa AUM-nya tiap tahun yang bisa mencapai puluhan juta orang, pengikut gerakan ini bertambah kurang dari 3% per tahun, atau kurang dari 0,01% dari pengguna jasa AUM tiap tahun, yang mencapai puluhan juta orang. Apakah pertambahan jumlah anggota per tahun yang kurang dari 40 ribu itu berarti Muhammadiyah telah gagal?

 

Kemanusiaan lintas batas

Lambatnya pertambahan jumlah anggota tersebut bukan bukti bahwa gerakan ini gagal. Sejak awal, orientasi gerakan Muhammadiyah bukanlah jumlah anggota, melainkan pencerahan dan pemberdayaan umat melalui AUM. Melalui cara demikian, gerakan ini mendorong warga bangsa yang mayoritas memeluk Islam itu menjadi lebih sehat, berdaya, dan mandiri mencukupi kebutuhan sendiri.

Di masa lalu, mayoritas pemeluk Islam negeri ini memandang sekolah modern itu haram. Karena itu, di awal kemerdekaan merupakan barang langka menemukan lulusan SMA, apalagi perguruan tinggi yang santri. Saat ini hampir tidak ada anak-anak santri yang tidak bersekolah.

Tata kelola zakat mal, zakat fitrah, infak, dan sedekah dengan manajemen modern bagi kepentingan publik yang dipelopori Muhammadiyah di masa lalu dipandang sebagai “agama baru”. Saat ini semuanya telah menjadi tradisi gerakan umat. Hal yang sama bisa kita saksikan bagaimana tata kelola penyembelihan hewan korban dan peruntukannya yang tiap tahun nilainya bisa mencapai triliunan rupiah.

Gerakan yang belakangan populer dengan tagline “Islam Berkemajuan” itu, memang sejak awal tidak menempatkan pertambahan jumlah anggota sebagai orientasi. Dalam Azaz PKU yang terbit 1929 disebutkan bahwa pengembangan kegiatan AUM seperti taklim (dakwah), pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, balai kesehatan (rumah sakit), rumah miskin (dulu), panti asuhan, dan masjid/musala itu bukan dengan maksud mengubah keyakinan pengguna jasa AUM menjadi pengikutnya.

Semua AUM didirikan semata-mata bagi layanan kemanusiaan berdasar ajaran Islam (lihat Almanak Muhammadiyah 1929, halaman 120-122).

AUM adalah layanan kemanusiaan Muhammadiyah untuk bangsa, bukan untuk dirinya sendiri. Itulah basis spiritual gerakan Islam Berkemajuan Muhammadiyah, seperti makna “Spiritualitas Luhur” dalam tulisan Ketum Muhammadiyah di harian nasional beberapa hari lalu. Seperti itu pula maksud pernyataan Prof Haedar Nashir, Ketum Muhammadiyah, dalam kuliah umum Pengajian Ramadan 1443 H baru-baru ini, bahwa Pancasila dapat menjadi landasan spiritual etik kebangsaan.

Ketum Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir dalam harian nasional bertanggal 1 April 2022 menulis: “Mereka yang lulus puasa ialah yang sukses menaklukkan jiwa primitifnya menuju kualitas rohaniah paripurna. Itulah puasa sebagai jalan terjal menuju pencapaian rohaniah tertinggi yang tercerahkan, yakni spiritualitas luhur perpaduan harmonis antara nilai-nilai ilahiah dan insaniah, yang terpancar dalam segala kebajikan hidup di muka bumi”.

Lebih lanjut, Prof Haedar menyatakan, “Seperti tawaran Steven Pinker dalam Enlightment Now, manusia di era ini mesti mengembangkan a humanistic sensibility untuk menumbuhkan sentimen empati, seperti kemurahan hati, belas kasih, dan rasa saling memahami. Sifat-sifat empati ini menghidupkan watak alami manusia sebagai makhluk yang “merasa” (sentient), yang saat ini boleh jadi tergerus pola pikir rasional-instrumental, ataupun pandangan keagamaan yang dangkal.”

Aksi kemanusiaan dalam AUM di atas, disebut Dokter Soetomo didasari nilai welas asih yang merupakan basis spiritual Islam berkemajuan Muhammadiyah. Lebih lanjut, Dokter Soetomo, Medisch Adviseur HB (PP) Muhammadiyah, menyatakan bahwa nilai welas asih ialah “tandingan” (baca: kritik) paradigma Darwinisme model modernisasi Eropa, yang berbasis evolusi penyisihan (survival of the fittest).

Dalam modenisasi model Eropa, mereka warga yang lemah dibiarkan tersingkir hilang dari peredaran. Sementara itu, warga yang kuat diberi ruang keluar sebagai pemenang. Dari sini kemajuan atau modernisasi baru bisa berlangsung. Tidak seperti modernisasi model Eropa, pembaruan (modernisasi) yang dilancarkan Kiai Ahmad Dahlan sebaliknya; memberdayakan warga yang lemah untuk tumbuh mandiri, sehat, dan berdaulat. Mereka yang kuat, berilmu, dan berharta dihasung bergotong royong, berderma sesuai kemampuan masing-masing untuk mendukung gerakan pendidikan dan kesehatan, sebagai bagian dari implementasi fungsi ajaran Islam.

Cara yang ditempuh ialah melalui pendidikan dan pesantren luar ruang (guru keliling dan taklim), agar warga menyadari potensi dirinya, meningkatkan kemampuan memahami ajaran Islam dengan penerjemahan Alquran, khotbah dengan bahasa lokal (Melayu), dan membuat sehat dengan rumah sakit. Bersamaan itu, publik dihasung agar memenuhi kriteria dua sifat utama seorang muslim. Sifat utama muslim pertama ialah menjadi guru yang selalu bergerak menyebarkan ilmu di mana, kapan, dan kepada siapa saja. Sifat utama muslim kedua ialah menjadi murid yang selalu haus ilmu, terus belajar kepada siapa saja, di mana, dan kapan saja.

Dalam anggaran dasar pertama yang disahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1914, dinyatakan bahwa gerakan ini bertujuan:

a. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland (sebelumnya: menyebarkan pengajaran agama Kanjeng Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wassalam, kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta), dan

b. Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemajuan agama Islam kepada lid-lidnya (anggota-anggotanya/pen) (setelah perubahan dari sebelumnya: memajukan hal Igama kepada anggota-anggotanya). (Fachrudin, Statuten Reglement dan Extract der Besluit dari Perhimpunan Muhamamdiyah Yogyakarta (Yogyakarta, tt), hlm 1. Lihat juga Mitsuo Nakamura, The Crescent ... hlm 53).

 

Kapitalisasi modal sosio-kultural

Melalui AUM-nya, Muhammadiyah ikut meletakkan landasan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara berbasis kedermawanan filantropis kewelasasihan. Secara bertahap dan kultural, mayoritas warga negeri ini dihasung menyadari tujuan hidup sosialnya berbasis ajaran Islam, bagi kemanusiaan universal.

Persoalannya ialah bagaimana memainkan peran lebih produktif berbasis kewelasasihan dalam dinamika kebangsaan di tengah pergaulan dunia disruptif (anomalis dengan perubahan yang serbacepat dan tidak berpola) berbasis post-truth (sak karepe dewe)? Inilah pekerjaan rumah aktivis milenial gerakan Islam berkemajuan yang akan ber-Muktamar di Surakarta pada akhir 2022.

Modal sosio-kultural yang mapan dan organisasi yang mobile, disertai keikhlasan profesional aktivis Muhammadiyah bukan barang yang sulit untuk mengapitalisasi kewelasasihan bagi karya kemanusiaan lintas batas etnik dan agama. AUM di Kupang, Papua, dan Indonesia Timur ialah bukti bakti kemanusiaan gerakan ini.

Semangat pemurnian sebagai roh gerakan yang tak pernah padam diberi makna lebih sebagai fungsionalisasi ajaran ritual bagi pemecahan kemanusiaan. Hal itu dilakukan dalam kerangka kebangsaan tanpa pandang agama dan etnisitasnya seperti maksud Dakwah Komunitas (baca: Jemaah) yang ditetapkan dalam Tanwir Makassar 1970-an.

 

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya