Kamis 07 April 2022, 05:00 WIB

SDG Kesehatan dan G-20 Indonesia

Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Guru Besar FKUI, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes | Opini
SDG Kesehatan dan G-20 Indonesia

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

PARA pemimpin dunia, pada 2015 sudah bersepakat tentang arah pembangunan global, sesuai dengan sustainable development goal (SDG) dengan 17 goal/tujuan, dan 169 target yang harus dicapai pada 2030. Secara umum, sustainable development goals (SDGs) (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan-TPB) adalah, pembangunan yang menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, pembangunan yang menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, pembangunan yang menjaga kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang menjamin keadilan, dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas hidup, dari satu generasi ke generasi berikutnya. SDG berprinsip universal, integrasi dan inklusif, untuk meyakinkan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal atau disebut no one left behind.

 

G-20

Sesudah SDG ditetapkan pada 2015, berbagai negara di dunia dan juga Indonesia sudah melakukan berbagai program dan kegiatan, agar target 2030 dapat tercapai. Hanya saja, kita ketahui bersama sepanjang 2020 dan 2021, bahkan sampai hari ini, kita semua masih berhadapan dengan pandemi covid-19 yang nyaris memengaruhi seluruh sendi kehidupan.

Upaya pencapaian target SDG kemudian jadi terancam, dan untuk itu perlu dilakukan pembahasan mendalam, peran Indonesia sebagai Presidensi G-20 tahun ini menjadi amat penting. Ini juga sesuai dengan tema yang dipilih Indonesia, yaitu Recover together recover stronger yang tentu juga dapat diartikan meliputi aspek SDG ini.

G-20 memang sudah sejak awal berperan penting dalam implementasi SDG di dunia. Segera sesudah SDG di luncurkan pada 2015, pada 2016 diselenggarakan G-20 Hangzhou Summit 2016 yang menyepakati G-20 Action Plan for the 2030 Agenda (G20 2016), yang dalam pertemuan G-20 berikutnya juga banyak dibahas. Pada United Nation SDG Summit 2019, para pemimpin negara G-20 bersama pimpinan dunia lain kembali memberikan komitmennya untuk implementasi agenda 2030, determination to implement the 2030 agenda.

Para pemimpin G-20 dan lainnya juga sepakat perlunya pendekatan yang sistemis dan holistis sebagaimana di bahas dalam Global Sustainable Development Report (United Nations 2019b). Termasuk, mengidentifikasi pintu masuk untuk transformasi, dan upaya transformatif untuk merealisasikan agenda 2030 (United Nations 2019a). Selanjutnya, dalam pertemuan khusus extraordinary covid-19 summit pada 2020, para pemimpin negara G-20 menyampaikan bahwa pandemi memerlukan respons global dan semangat solidaritas yang transparan, nyata dan jelas, terkoordinasi, berskala besar, dan berbasis ilmu pengetahuan/sains.

Jelasnya, dalam konteks ini G-20 kini menghadapi dua tantangan, pertama menangani pandemi covid-19 dan ke dua, melakukan implementasi agenda SDG 2030. Ke dua tantangan ini punya kesamaan, yaitu bersifat global dan memerlukan respons bersama yang universal, integratif, dan transformatif. G-20 dapat melihat pada pengalamannya mengimplementasi agenda SDG sejak 2015 dan menyusun pendekatan yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

 

Kesehatan

Karena kini dalam situasi pandemi covid-19, dari berbagai goal SDG akan baik kalau Presidensi Indonesia setidaknya menyoroti tentang aspek kesehatan dalam SDG. Secara spesifik, untuk bidang kesehatan tercantum dalam SDG Goal 3, yaitu good health and well-being atau kehidupan sehat dan sejahtera, yang antara lain dijabarkan sebagai memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia.

Namun, selain Goal 3, banyak juga goal lain di SDG, yang berhubungan dengan kesehatan, seperti goal 1 Tanpa Kemiskinan, (2) Tanpa Kelaparan, (4) Pendidikan Berkualitas, (5) Kesetaraan Gender, (6) Air Bersih dan Sanitasi Layak, (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, (13) Penanganan Perubahan Iklim, serta goal 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Khusus goal 17 ini jelas amat berhubungan dengan peran Indonesia sebagai Presidensi G-20, yang menjadi sangat sentral dan perlu kita lakukan.

Goal 3 SDG di bidang kesehatan ini meliputi 9 target dari nomor 3.1 sampai dengan 3.9 serta 4 target lainnya, dengan nomenklatur 3.a sampai 3.d. Target yang ada antara lain meliputi mengurangi rasio angka kematian ibu, mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan balita, mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis lainnya, dan memerangi hepatitis, penyakit yang ditularkan lewat air dan penyakit menular lainnya, juga ada target tentang mengurangi sepertiga dari kematian dini yang disebabkan oleh penyakit tidak menular, memperkuat pencegahan dan pengobatan dari penyalahgunaan zat berbahaya. Termasuk, penyalahgunaan narkotika dan penggunaan yang berbahaya dari alkohol, mengurangi setengah dari angka kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas, memastikan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk untuk perencanaan, informasi, dan pendidikan keluarga, dan mengintegrasikan kesehatan reproduksi kedalam strategi dan program nasional.

Dua target lainnya dalam Goal 3 kesehatan ini ialah mencapai cakupan layanan kesehatan universal. Termasuk, lindungan risiko finansial, akses terhadap layanan kesehatan dasar yang berkualitas, dan akses terhadap obat-obatan dan vaksin yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau bagi semua, serta secara substansial mengurangi angka kematian dan penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia berbahaya, dan juga polusi dan kontaminasi udara, air, dan tanah. Sementara itu, empat target lainnya membahas penanggulangan merokok, riset, dan pengembangan dari vaksin dan obat-obatan, pendanaan dan SDM kesehatan, serta manajemen risiko kesehatan nasional dan global.

Pada 28-30 Maret 2022, telah berlangsung pertemuan Health Working Group pertama G-20 Presidensi Indonesia, yang sudah menyelesaikan pembahasan harmonisasi standar protokol kesehatan global dan juga side event tentang tuberkulosis, saya ikut menjadi pembicara tentang tujuh aspek efikasi vaksin covid-19 dan juga tentang bagaimana langkah penyediaan angggaran untuk pengendalian tuberkulosis di dunia.

Sesuai rencana yang ada, di bulan-bulan mendatang akan ada pembahasan membangun resiliensi sistem kesehatan global, serta upaya mengekspansi poros manufaktur global ke negara-negara berkembang, dan berbagi ilmu pengetahuan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap krisis kesehatan. Mengingat amat pentingnya aspek SDG, tentu akan amat baik kalau diskusi SDG juga dapat dibahas dalam Presidensi G-20 Indonesia bidang kesehatan. Setidaknya melalui tiga analisis terlebih dahulu. Pertama, apa yang sudah dicapai dunia dan RI tentang target SDG kesehatan sampai katakanlah akhir 2019, ketika pandemi belum melanda.

Ke dua, selama pandemi dalam setidaknya dua tahun ini, seberapa besar gangguan dari pencapaian target itu, atau lebih jelasnya bagaimana kemunduran program SDG kesehatan yang kita alami bersama. Ketiga, dibuat analisis mendalam tentang proyeksi ke depan tentang pandemi covid-19, sesuatu analisis kesehatan masyarakat menyeluruh yang memang bukan hal yang mudah, melainkan jelas harus dilakukan.

Sesudah dilakukan tiga analisis itu, baru dapat ditentukan langkah selanjutnya, yang setidaknya ada dua pilihan. Pertama, tetap memasang target sesuai SDG kesehatan yang ditetapkan pada 2015 dan dirumuskan langkah besar untuk mengejar pencapaian target pada 2030, delapan tahun lagi sambil terus mengendalikan covid-19. Kedua, mengevaluasi angka-angka target yang akan dicapai.

Kita yakin bahwa apa yang akan dihasilkan dalam Presidensi G-20 RI tentang SDG kesehatan, bukan hanya mengakselerasi pencapaian target kesehatan dunia yang sudah ditetapkan dalam SDG, melainkan juga bahkan akan membawa kehidupan umat manusia yang lebih sehat dan sejahtera. Apalagi Presiden Jokowi sudah mencanangkan perlunya tata ulang arsitektur kesehatan global, yang mungkin dapat dikaitkan juga dengan SDG kesehatan. RI akan menoreh tinta emas dalam pencapaian SDG kesehatan dan juga kesejahteraan umat manusia.

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya