Kamis 03 Maret 2022, 08:07 WIB

Pentingkah Kuliah Jurusan Jurnalistik di Era Digital?

Ilham Pangumbara, Aktivis di Lembaga Pers HMI | Opini
Pentingkah Kuliah Jurusan Jurnalistik di Era Digital?

dok.pribadi
Ilham Pangumbara, Aktivis di Lembaga Pers HMI

 

JURNALISTIK sebagai salah salah satu disiplin ilmu dalam Ilmu Komunikasi, yang mempelajari tentang kompetensi, kaidah, etika hingga kode etik jurnalistik (KEJ) bagi seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi. Jurnalistik berasal dari kata Journal yang berarti catatan harian suatu peristiwa yang meliputi kejadian sehari-hari. Kata Jurnal diadobsi dari bahasa Latin yang semula bernama diurnalis, berarti setiap hari atau harian.

Lulusan mahasiswa jurnalistik tak melulu ketika selesai mengenyam dunia akademisnya menjadi seorang Jurnalis atau Wartawan di sebuah perusahaan media massa. Malahan, yang kini aktif menjadi seorang Jurnalis, Reporter atau Wartawan banyak memiliki latar pendidikan yang bukan dari Ilmu Komunikasi, khususnya Ilmu Jurnalistik. Sebut saja Karni Ilyas dan Najwa Shihab, ternyata Bang Karni? dan Mbak Nana? sapaan akrab bagi keduanya adalah lulusan Ilmu Hukum.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Remotivi bersama Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia menunjukan, 65% mahasiswa tidak memprioritaskan karir jurnalistik sebagai pilihan pekerjaan selepas lulus dari bangku perkuliahan. Faktor yang mempengaruhi diantaranya, profesi jurnalis memiliki dampak sosial yang mengundang risiko kekerasan hingga mempertaruhkan jiwa, kurangnya perlindungan bagi seorang jurnalis yang kini sering mengalami tindakan persekusi hingga peretasan, profesi ini dianggap memiliki pristise dan idealisme.

Era disrupsi dalam dunia teknologi dan informasi sangat mempengaruhi kinerja bagi seorang jurnalis, perubahan secara fundamental dan terjadinya inovasi yang sangat besar juga mengubah paradigma baru bagi mahasiswa di era industri 4.0 seperti saat ini. Internet menjadi jalan pintas bagi setiap orang untuk mempelajari sesuatu, hal yang sulit didapat bagi mahasiswa era 90-an ketika ingin belajar sesuatu harus mencari dan membeli buku sebagai sumber pengetahuan.

Kini tayangan sosial media mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Youtube hingga Tiktok dan platform digital lainnya adalah industri di era kekinian? yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah bahkan dapat dijadikan sebagai alternative pekerjaan, terlebih dimasa pandemic Covid-19 yang mengharuskan untuk mengurangi mobilitas diluar rumah dan mengurangi tatap muka
dengan orang lain.

Semua orang bisa menjadi penyiar, semua orang bisa menjadi penulis, semua orang bisa menjadi artis dan semua orang bisa menjadi jurnalis atau wartawan tanpa harus memiliki background jurnalistik. Berbekal layanan internet untuk mengakses berbagai platform digital di atas, seseorang dapat dengan mudah mempelajari jurnalistik atau jurnalisme sebagai bidang kajian
keilmuan. Pengetahuan yang didapat dari kuliah 'kilat' tersebut menjadi solusi seseorang untuk dapat menulis di Blog maupun media sosial atau bahkan mendirikan website mandiri untuk mewadahi ide atau gagasan yang diperoleh dari buku 'Kiat-kiat Menjadi Jurnalis, Tata Cara Menulis dan Cara Cepat Menembus Redaksi Media Online.

Jika menulis masih dirasa sulit dan memerlukan kompetensi, maka membuat Podcast atau Siniar adalah solusinya, yang dapat menyiarkan dan mengulas topic tertentu, seperti berita, musik dan sebagainya yang dibuat dengan format digital, baik audio maupun video yang di publikasikan di kanal Youtube, Spotify, iTunes atau media serupa. Kekinian, Channel Podcast menjamur di kanal Youtube semenjak suksesnya Deddy Corbuzier membangun Podcast ‘Close The Door’ yang kini jumlah Subscriber-nya mencapai 17,7 Juta.

Dalam Podcast ini teknik wawancara (interview) adalah salah satu mata kuliah atau bahan ajaran bagi mahasiswa jurnalistik, dan menjadi modal awal bagi jurnalis dalam melakukan liputan atau siaran langsung (live reporting). Banyak kalangan biasa, publik figur, musisi hinga politisi menjadi penanya untuk narasumber yang dihadirkan. Namun tak sedikit dari mereka yang ketika bertanya (interview) terlihat seperti tidak memahami dan menguasai topik utama yang diulas atau yang sedang dibahas. Kaidah dan etika bertanya kepada narasumber jelas memerlukan kompetensi yang wajib dipelajari bagi si empunya Podcast.

Proses kerja jurnalistik diatur dalam Undang-undang Pers No: 40 Tahun 1999 Tentang Pers, di dalamnya jelas mengatur seluruh rangkaian bagaimana bekerja menjadi seorang jurnalis atau wartawan profesional. Pengetahuan yang didapat instan dari sumber digital memang mampu menghantarkan seseorang bekerja sebagai jurnalis dalam media massa baik Koran, Majalah atau
berbasis online (Siber). Namun, etika dan kewajiban sebagai insan pers untuk memihak kepentingan publik belum tentu dimiliki bagi jurnalis tersebut.

Lantaran itu, diperlukan pendidikan bagi seorang jurnalis, di tengah maraknya media online yang tidak terverifikasi oleh Dewan Pers dan menjamurnya Podcast yang tidak proporsional serta tidak mendidik, tak jarang menimbulkan berbagai spekulasi ditengah majemuknya bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, tradisi dan keanekaragaman lainnya. Akibat adanya pemberitaan yang tidak sesuai (hoax), ujaran kebencian (hate speech) maupun tayangan yang menampilkan isu-isu SARA.

Pendidikan memang tidak menjamin sesorang menjadi seperti apa yang diinginkan, namun pendidikan menjamin sesorang mengetahui kewajiban dan larangan dalam menjalankan tugas sesuai kompetensi atau bidang keahlian yang dimiliki, salah satunya jurnalistik. Mahasiswa yang memiliki idealisme tinggi, ingin mengembangkan karir sebagai jurnalis atau wartawan berdiri dalam persimpangan yang membingungkan.

Satu sisi ia berharap ketika lulus kuliah bisa bekerja sebagai wartawan professional, namun pada sisi lainnya seperti momok yang menakutkan. Akibat banyaknya jurnalis media massa yang mengalami tindakan tidak menyenangkan, mulai dari adanya persekusi, perundungan hinga peretasan akun sosial media.

Baca Juga

MI/Ebet

Ironi di Balik Inflasi

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 03 Juli 2022, 05:00 WIB
SUATU kali saya menemukan tempe goreng yang ukurannya lebih tipis daripada...
Dok. pribadi

Misi Damai Jokowi

👤Ahmad Syaifuddin Zuhri Mahasiswa PhD Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU) Tiongkok, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok, dan Direktur Sino-Nusantara Institute 🕔Sabtu 02 Juli 2022, 05:00 WIB
USAI sudah kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden...
MI/Vicky G

Prabowo Subianto, Antara Bibit-Bobot-Bebet dan Rekor Capres

👤Eko Suprihatno, Editor Media Indonesia 🕔Jumat 01 Juli 2022, 11:33 WIB
Artinya, Prabowo bisa mencatat sejarah baru bagi Indonesia karena merupakan kali keempat ia menjadi calon...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya