Rabu 22 Desember 2021, 05:05 WIB

Mengenal Xi Jinping dalam Mimpi Tiongkok

Supeno Lembang Mahasiswa Magister Filsafat STF Driyarkara | Opini
Mengenal Xi Jinping dalam Mimpi Tiongkok

AFP/Noel Celis
Xi Jinping

 

SLOGAN Mimpi Tiongkok (zhongguo meng) diperkenalkan oleh pemimpin Tiongkok Xi Jinping pada 29 November 2012, beberapa hari setelah terpilih menjadi Sekjen Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dalam kesempatan itu, tujuh anggota Komite Politbiro (Politburo Standing Commitee) sedang mengunjungi sebuah pameran yang bertema Jalan menuju Kebangkitan Kembali (Rejuvenation- Fuxing Zhilu). Xi mengajak semua di Tiongkok untuk bangkit dan mengembalikan kejayaan masa lalu ketika peranan Tiongkok sebagai pemain kelas dunia.

Menurut Xi, mimpi terhebat dan termegah dari bangsa Tiongkok pada masa modern ini ialah merealisasikan pembaharuan bangsa, yakni Tiongkok yang 'makmur, kuat, berbudaya dan negara sosialis modern yang harmonis' pada saat peringatan 100 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 2049. Sebelum itu, sasaran antara jangka menengah ialah menyelesaikan pembangunan 'masyarakat sejahtera tanpa berkelebihan' (moderately properous society/xiaokangshèhuì) pada saat peringatan 100 tahun berdirinya PKT.

Perkembangan ekonomi negeri tirai bambu yang fantastis dalam dekade terakhir ini memberikan legitimasi ke Xi Jinping untuk memperkuat kepemimpinannya menyongsong Kongres Partai ke-20 pada 2022. Ia tidak tertahankan dan tanpa saingan. Oleh karena itu, dunia untuk beberapa waktu ke depan perlu mengakrabkan diri dengan Xi Jinping dan pemikirannya. Itu untuk memahami bagaimana menyikapi kebijakan Tiongkok. Salah satu pintu masuk pemahaman ialah melalui pemahaman Mimpi Tiongkok yang dicanangkannya.

Media barat menuduh Xi Jinping latah dan mencuri ide Mimpi Amerika (American Dreams) yang dicanangkan oleh James Truslow Adams pada 1931. Sebenarnya terdapat perbedaan menyolok. Mimpi Amerika lebih fokus kepada pencapaian tujuan individu, yakni kebahagiaan dan kesuksesan pribadi, sedangkan Mimpi Tiongkok mempunyai dimensi kolektif yang mengakar dalam kemajuan bersama pada tingkat nasional. Mimpi Tiongkok ialah mimpi seluruh bangsa dan perlu digenapi melalui komitmen pribadi– Mimpi Tiongkok adalah Mimpi Saya. Keberhasilan individu tidak akan lengkap tanpa Tiongkok menjadi negara modern.

Mimpi Tiongkok bertumpu pada konsep Kebangkitan Kembali (rejuvenation – fuxing). Bangkit dari abad penghinaan (century of humiliation), yakni ketika Tiongkok dipermalukan mulai dari masa perang candu (1839-1842) sampai berdirinya RRT. Artinya bangkit kembali seperti masa sebelum abad penghinaan tersebut. Kebangkitan kembali berupa semacam tanggung jawab moral untuk kembali berperan seperti dahulu, bukan terbit sebagai negara superpower, tapi menjadi pemimpin dunia secara 'alamiah'.

Lebih dari satu kali Xi mengatakan Tiongkok tidak dapat bersaing menjadi pemimpin global hanya bermodalkan kekuatan militer dan ekonomi saja. Meskipun ini ialah syarat perlu, belum menjadi syarat cukup. Yang perlu diperhatikan ialah aspek moral dan aspek etika. Pemahaman ini menjelaskan bahwa Tiongkok di bawah pimpinan Xi dan Mimpi Tiongkoknya akan berperan dalam keseimbangan kekuatan global sebagai alternatif paham liberalisme global dari Barat. Belt-Road Initiative (BRI) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) ialah contoh-contoh implementasi strategi ini.

Di bawah Xi, Mimpi Tiongkok bukan lagi isu domestik, tetapi memiliki gaung international. Xi mementaskan Mimpi Tiongkok pada panggung international. Pembangunan model Tiongkok ini pastilah berbeda dengan apa yang dikenal sebagai 'Konsensus Washington', reformasi ala Tiongkok tidak ada urusan dengan mendemokratisasikan sebuah negara. Model ini dimaksudkan untuk melegitimasikan bahwa Partai Komunis Tiongkok tidak bubar. Perspektif jangka panjang adalah menyatakan pemerintah Tiongkok mempunyai komitmen kepada kesejahteraan umat manusia tanpa harus melalui legitimasi elektoral.

Mimpi Tiongkok ialah instrumen untuk mengenang kejayaan Tiongkok masa silam dengan aspirasi menjadi pemimpin dunia dalam panggung internasional, meninggalkan paradigma Tiongkok lemah dan pesakitan. Untuk dapat mencapai cita-cita jangka Xi perlu memastikan keberhasilan cita-cita jangka menengahnya yang dikenal sebagai 'masyarakat sejahtera tanpa berkelebihan' (moderately properous society/xiaokangshèhuì). Istilah ini diambil dari warisan ajaran Konfusianisme yang disegarkan kembali oleh Hu Jintao setelah Konfusianisme dihujat pada masa Revolusi Kebudayaan.

Konsep ini diadopsi menjadi strategi Xi yang dinamakan Empat Komprehensif yang menjadi kontribusi teoritis kepada nilai inti partai. Konstitusi Partai mengasosiasikan kontribusi teoritis lima generasi kepemimpinan Tiongkok sebagai berikut, sejalan dengan paham Marxisme-Leninisme terdapat pemikiran Mao (generasi pertama), teori Deng Xiaoping (generasi kedua), Tiga Perwakilan yang dihubungkan dengan Jiang Zemin (generasi ketiga), pandangan saintifik untuk pembangunan Hu Jintao (generasi keempat) dan empat komprehensif Xi Jinping (generasi kelima).

 

Baca Juga

MI/Ebet

Kemandirian Pangan

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 05:00 WIB
KITA barangkali bisa menyebut dengan mudah bahan makanan yang terbuat dari...
Dok pribadi

Manusia Sebagai Penentu Katastrofe

👤Astyka Pamumpuni, dosen teknik geologi, Kelompok Keahlian Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 22:15 WIB
MEDIA massa sering menyebutkan bencana alam melanda Indonesia. Kejadian tsunami Aceh 2004 menjadi salah satu bencana terbesar di Indonesia...
Dok pribadi

Peran Karyawan sebagai Influencer Majukan Perusahaan

👤N Nurlaela Arief, Dosen School of Business and Management ITB 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 21:35 WIB
SAAT ini influencer media sosial menghadapi tantangan terkait keaslian atau...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya