Rabu 03 November 2021, 16:15 WIB

Ambiguitas di Dalam Reframing Dunia Pendidikan

Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada, dan Pemerhati Pendidikan | Opini
Ambiguitas di Dalam Reframing Dunia Pendidikan

Dok pribadi
Odemus Bei Witono,

 

AMBIGUITAS manusia- secara filosofis- dapat menjadi rumit saat antara yang diyakini berbeda dengan yang dilakukan. Kemampuan manusia untuk berkata tidak kerap kali menjadi tumpul di dalam praksis kenyataan hidup. Akibatnya banyak hal yang dilakukan malah tidak sesuai dengan apa yang diyakini.

Manusia membutuhkan pegangan hidup dalam menghadapi dunia yang semakin anonim, karut marut, dan penuh dengan intrik-intrik menyesatkan. Persoalan yang paling nyata dihadapi dunia pendidikan adalah masih minimnya kreativitas dalam pendampingan para siswa di berbagai sekolah. Banyak guru secara ide atau gagasan mempunyai daya kreativitas tinggi, tetapi ketika memasuki ruang-ruang kelas, konsep kreativitas menjadi beku, terbatas, dan dalam banyak kasus tidak dapat diimplementasikan. 

Ada gap pembelajaran antara yang seharusnya (das sollen) dan yang senyatanya terjadi (das sein); antara ide/gagasan kreativitas dan implementasinya. Para guru di ruang kelas seharusnya dan senyatanya secara kreatif dapat mengajarkan dan mendidik para siswa agar mampu belajar dan mengembangkan diri mereka secara optimal. 

Reframing dapat didefinisikan sebagai aktivitas membingkai ulang untuk mengubah cara manusia melihat sesuatu, dan kemudian mengubah pengalaman manusiawi dengan perspektif baru. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan membutuhkan reframing untuk membingkai kembali pemikiran mereka untuk mengatasi 'kebekuan/ketidakkreatifan' para guru dalam mengajar di ruang-ruang kelas. 

Reframing pemikiran- secara kreatif akan- mampu menerjemahkan kurikulum 2013 atau pun merdeka belajar sebagai roh cara bertindak para guru dalam menganimasi program-program edukatif yang dibutuhkan. Menurut Elaine N Aron (1997), reframing merupakan istilah psikoterapi kognitif yang berarti melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, dalam konteks terkini, dengan bingkai baru di sekitarnya. Dengan membingkai kembali kerangka berpikir, kita dituntut untuk terus belajar menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang terus terjadi.
 
Berkaitan dengan reframing berpikir, penulis menjadi teringat akan kisah film yang disutradarai oleh Sidney Lumet, 12 Angry Men. Film tersebut menjadi box office pada 1957. Plot film berkisah tentang perdebatan seru 12 juri dalam suatu ruangan tertutup. Mereka berdebat untuk memutuskan seorang anak, sebagai terdakwa, apakah benar-benar bersalah atau tidak dalam suatu kasus pembunuhan. 

Film berdurasi 96 menit ini memaksa para pemain peran dan penonton untuk mengevaluasi citra diri mereka sendiri dengan mengamati kepribadian, pengalaman, dan tindakan para juri. Awalnya hanya ada satu juri yang membela terdakwa. Akan tetapi setelah melakukan perdebatan yang panjang akhirnya, para juri mendapat informasi yang lengkap, sehingga mereka dapat memutuskan bahwa terdakwa dinyatakan bersalah atau bebas dan tidak bersalah.  

Seperti dalam film 12 Angry Men, manusia membutuhkan informasi yang lengkap dan benar untuk memutuskan sikap dan tindakan dalam mengatasi persoalan hidup. Sebagai manusia, kita tidak bisa begitu saja memutuskan suatu persoalan hanya berdasarkan suka-tidak suka, minoritas-mayoritas, dan inferior-superior. Oleh karenanya untuk membingkai kerangka berpikir yang baru dibutuhkan proses dialektika yang sehat dengan mempertimbangkan diskresi yang akurat.

Dalam membedah persoalan pendidikan, para pengambil kebijakan membutuhkan pisau analisis yang tajam. Dialektika para ahli di bidang pendidikan bersama kelompok pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. Mereka perlu merumuskan kembali kerangka berpikir mengenai implementasi kurikulum di basis-basis sekolah. Rumusan implementasi kurikulum yang lengkap akan menghasilkan blue print pendidikan yang dapat menjadi patokan para guru untuk bergerak secara dinamis guna menganimasi program-program pembelajaran sesuai dengan konteks dan tuntutan zaman. 

Program-program pendidikan yang dirancang oleh para guru secara kreatif akan membuat kurikulum sekolah menjadi hidup, berkembang dan berkualitas. Kreativitas menurut Edward de Bono (1992), merupakan sumber daya manusia yang paling penting. Tanpa kreativitas, tidak akan ada kemajuan, dan kita akan selamanya mengulangi pola yang sama. Kreativitas dalam dunia pendidikan akan terjadi ketika kita melakukan reframing atas apa saja yang sudah dilakukan. Dengan reframing, kita dapat membongkar kebekuan cara berpikir lama menjadi cair, baru, dan inovatif dalam menghadapi perubahan zaman. 

Sejak pemerintah Indonesia mengumumkan secara resmi adanya penderita sakit akibat terkena covid-19, dunia pendidikan di Tanah Air mulai gelisah dan bersiap-siap mengantisipasi model pembelajaran jarak jauh dari rumah. Dalam situasi yang demikian dibutuhkan pemikiran cerdas untuk mengatasi persoalan pendidikan akibat penyebaran virus ini. Pemikiran yang cerdas dapat menghasilkan kreativitas baru para guru secara massal untuk mengatasi persoalan jarak, ruang dan waktu. 

Banyak guru yang awalnya mengalami kebingungan bahkan merasa gagap memberikan materi pembelajaran jarak jauh akhirnya menjadi terbiasa. Ruang-ruang kelas yang awalnya bersekat tembok yang kokoh diganti dengan media daring tanpa batas untuk proses pembelajaran. Dunia pendidikan terasa dilipat dan jarak tidak lagi menentukan. Kecepatan arus informasi pendidikan dalam situasi buruk menjadi yang diutamakan dan hal tersebut dapat dilakukan dalam bentuk daring. 

Jika badai covid-19 suatu saat berlalu, apakah media pembelajaran jarak jauh masih dibutuhkan? Dengan adanya perubahan keadaan, reframing pemikiran akan tetap dilakukan oleh para pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Secara potensial, pendidikan model jarak jauh akan tetap dibutuhkan di masa depan, tetapi dapat diperkirakan bahwa model pendidikan yang demikian akan mengoreksi praktik-praktik pembelajaran di ruang-ruang kelas. Semoga kurikulum pendidikan nasional di masa depan semakin tahan uji dan tidak ambigu terhadap perubahan zaman semakin cepat. 

Baca Juga

MI/Seno

Mencari Sosok Kepala Otoritas Ibu Kota Negara

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Selasa 25 Januari 2022, 05:10 WIB
UNDANG-UNDANG Ibu Kota Negara (UU IKN) telah disetujui mayoritas anggota DPR, Selasa...
MI/Seno

Alarm Megathrust Selat Sunda-Banten, Siapkah Kita?

👤Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG), Chair of Inter-governmental Coordination Group on Indian Ocean Tsunami Early Warning and Mitigation System 🕔Selasa 25 Januari 2022, 05:00 WIB
GUNCANGAN gempa bermagnitudo 6,6 di Provinsi Banten pada 14 Januari 2022 lalu memang bukan merupakan gempa...
Dok pribadi

Menakar Cuan Dari Perhelatan G-20

👤Taufik Rauf, Direktorat Pengelolaan Media Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik  🕔Senin 24 Januari 2022, 21:55 WIB
Gelaran G-20 di Bali dan peluang meraup...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya