Rabu 18 November 2020, 23:35 WIB

Vaksin Literasi Untuk Covid-19 Dan Bencana

Suryadi, Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional RI   | Opini
Vaksin Literasi Untuk Covid-19 Dan Bencana

Dok pribadi
Suryadi

BANGSA Indonesia saat ini terus berusaha keras menanggulangi dan menghentikan laju penyebaran virus korona yang telah mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia. Usaha keras pemerintah dalam mengedalikan pandemi dengan cara membuka hubungan akses kerja sama, dan melakukan tahap pengujian kepada 3 dari 10 perusahaan farmasi penghasil bakal vaksin yaitu Sinovac, Sinopharm dan Genexine. 

Vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu, sehingga bisa mencegah terjangkit dari penyakit tertentu tersebut (dalam hal ini covid-19). Melalui hubungan kerja sama pengadaan dan melakukan pengujian vaksin tersebut, rencana ke depannya pemerintah akan melakukan vaksinisasi kepada 160 juta WNI terutama untuk tenaga kesehatan, TNI dan Polri, tenaga pendidik, aparatur pemerintah, dan masyarakat.

Berapa besar rupiah yang dikeluarkan dari dompet negara? Untuk pengadaan vaksin, auto disable syringe (alat suntik), cold chain (pendistribusian suhu dingin), terlebih lagi vaksin tersebut harus disuntikkan sebanyak 2 kali dalam periode tertentu. Total anggaran yang disediakan pemerintah untuk vaksinisasi covid-19 sebesar Rp34,23 triliun. Sebelumnya  anggaran cukup besar dari pemerintah sudah tersedot untuk bantuan sosial ke masyarakat dan UMKM.

Terlepas dari masalah biaya besar yang dikeluarkan, negara wajib hadir untuk memberikan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan warga negaranya. Tetapi perlu direnungkan bahwa penyebaran virus korona dapat dikendalikan dengan cara sederhana dan murah yakni ‘menyuntikkan’ vaksin literasi kepada diri masing-masing individu warga negara Indonesia. Sehingga setiap warga negara memiliki imunitas tinggi/ membentengi diri dengan literasi bagaimana pencegahan dan penyebaran (penatalaksanaan) virus korona. Selain itu vaksin literasi sangat aman, efektivitas tinggi, tidak ada efek samping dan tak membutuhkan vaksin (kimia) berbahan zat, alat suntik, serta cold chain.

Vaksin literasi mengadopsi pengertian dari kata vaksin dan literasi. Literasi adalah literacy yang berkaitan dengan melek huruf, memiliki arti kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.
 
Kaitannya dengan vaksin literasi berarti, ‘menyuntikkan’/mengenali informasi kesehatan (covid-19) yang dibutuhkan, dengan sengaja dibuat kemudian melakukan evaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk merangsang pencegahan dan penyebaran (penatalaksanaan) virus korona dari masing-masing individu/diri setiap warga negara. 

Tentu kita masih ingat dengan bencana gempa bumi dan  tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang Meulaboh yang memicu gelombang tsunami setinggi 30 meter yang mengakibatkan 125 ribu orang tewas. Banyaknya korban tewas tentu tidak terlepas dari belum dilakukannya vaksin literasi kebencanaan (tsunami) pada individu/ diri masyarakat Aceh saat itu. Andai saja, waktu itu masyarakat dengan kesadaran diri sendiri melakukan vaksin literasi kebencanaan (tsunami), mereka akan mudah mengenali gejala awal terjadinya gelombang tsunami.

Masyarakat pesisir pantai ketika gempa terjadi, tetap berdiam diri (shok). Sebagian malah mendekati bibir pantai untuk melihat fenomena air laut tiba-tiba surut drastis, tidak berlari menuju ke dataran yang lebih tinggi. Sehingga banyak masyarakat di pesisir menjadi korban tewas akibat gelombang tsunami.

Berkaca dari bencana Aceh, masyarakat dan bangsa Indonesia kini lebih tanggap/sigap dalam menghadapi bencana gempa bumi dengan atau tidak memicu gelombang tsunami. Masyarakat dengan kesadaran diri ‘menyuntikkan’/ mengenali informasi kebencanaan (tsunami) yang dibutuhkan dan dengan sengaja dibuat. Kemudian melakukan evaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk merangsang pencegahan korban jiwa dari bencana yang terjadi dari masing-masing individu/diri setiap warga negara. 

Ketika bencana gempa bumi terjadi, masyarakat sudah mengenali gejala awal dengan atau tidak memicu gelombang tsunami. Masyarakat di pesisir pantai segera berlari menuju ke dataran yang lebih tinggi (mengikuti rambu jalur evakuasi tersedia), sesaat setelah gempa bumi terjadi. Terlebih ada informasi resmi melalui media elektronik dari pemerintah tentang kemungkinan terjadinya gelombang tsunami. 

Vaksin literasi covid-19 dapat diterapkan aman dan efektif dilakukan untuk individu/diri warga negara yang sehat maupun yang saat ini sedang melakukan isolasi di fasilitas kesehatan (Wisma Atlet). Pertama, masyarakat yang sehat, 'menyuntikkan'/mengenali informasi kesehatan (covid-19) yang dibutuhkan, dengan sengaja dibuat kemudian melakukan evaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk merangsang pencegahan penularan viruscorona dari masing-masing individu/ diri setiap warga negara. 

Kedua, masyarakat yang terinfeksi positif covid-19 dan sedang menjalani isolasi di fasilitas kesehatan tetap diberikan booster vaksin literasi covid-19 dengan video/konten dari para penyintas korona, buku-buku (sumber bacaan)/referensi psikologi penyemangat hidup, hobi/ traveling/tanaman atau majalah/informasi ringan terseleksi. Sehingga terpacu imun dalam tubuh untuk segera sehat. 

Ketiga, pasien  yang telah sembuh jadikan mereka sebagai duta vaksin literasi covid-19, kelak mereka akan menjadi 'tangan pemerintah' dalam memberikan vaksin literasi covid-19 di dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal (RT, RW, Kelurahan) maupun lingkungan tempat kerja. Kita berharap di tengah pro-kontra kriteria vaksin  (kimia) yang tepat dan di tengah pelaksanaan vaksinasi harus memberikan rasa aman dan efektif dalam menangkal virus korona. Vaksin (kimia) bukan satu-satunya cara menghentikan pandemi covid-19.

Bila ketiga langkah di atas dilakukan pemerintah dan diterapkan pada masing-masing individu/diri warga negara, yakinlah bahwa bangsa Indonesia sukses mengendalikan pandemi yang terjadi saat ini.

Baca Juga

MI/Seno

Digitalisasi Perikanan

👤Yonvitner Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IP 🕔Selasa 01 Desember 2020, 02:35 WIB
SILANG sengkarut tata kelola perikanan pada dua era kepemimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan terakhir sebenarnya banyak...
Dok. Istimewa

Berbagi Beban Menahan Laju Resesi

👤Imron Rosyadi Lektor Kepala FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta 🕔Selasa 01 Desember 2020, 02:05 WIB
RESESI ekonomi akibat krisis kesehatan tak...
Dok pribadi

Humanisasi DUHAM

👤Andrey Sujatmoko,  Dosen pada FH Universitas Trisakti dan Sekretaris Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM 🕔Senin 30 November 2020, 21:00 WIB
Tidak dipungkiri bahwa implementasi HAM di setiap negara memiliki kompleksitas yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya