Jumat 23 Oktober 2020, 05:13 WIB

Pandemi Covid-19, Menguji Ketahanan Keluarga

Sudibyo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)/ Pusat Kajian Keluarga dan Kelanjutusiaan (CeFAS) URINDO | Opini
Pandemi Covid-19, Menguji Ketahanan Keluarga

MI/PERMANA
Sudibyo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)/ Pusat Kajian Keluarga dan Kelanjutusiaan (CeFAS) URINDO

SAMPAI hari ini, tanda-tanda kapan pandemi covid-19 mencapai titik baliknya belum ada kepastian. Kasus harian pasien terkonfirmasi positif covid-19 masih belum stabil sehingga pada beberapa daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berubah-ubah, sesuai naik-turunnya kasus baru covid-19.

Jumlah kasus baru beberapa hari terakhir ini masih merupakan rekor tertinggi, terkait dengan penambahan jumlah pasien covid-19 dalam sehari.

PSBB yang mulai diberlakukan berimbas pada keluarga, khususnya yang tidak siap menerima keadaan. Mereka bagaikan memasuki era disrupsi yang dalam sekejap mengubah semua gaya dan perilaku kehidupannya.

Tidak mengherankan, kalau kemudian banyak kasus terjadi, seperti konflik keluarga, tindak kekerasan dalam keluarga, konflik sosial, persoalan dalam pola pengasuhan di keluarga, sampai kasus perilaku kesehatan reproduksi yang negatif.

Kesemuanya ini, dampaknya berbeda pada setiap individu, keluarga, dan masyarakat, karena sangat tergantung kepada kelentingan masing-masing. Ingat, stres individu bisa berimbas pada stres keluarga. Ketahanan keluarga lemah bisa berimbas pada lemahnya ketahanan masyarakat, demikian sebaliknya.

Ketahanan keluarga terusik

Dari survei yang dilakukan LIPI pada Mei 2020 di Jakarta, Jawa Barat dan Banten menunjukkan selama pelaksanaan PSBB, sebanyak 3,2% responden mengaku tidak keluar rumah sama sekali. Sebanyak 82,5% hanya keluar rumah untuk membeli keperluan penting. Sebanyak 10,6% keluar rumah untuk bekerja. Sementara itu, sisanya melakukan aktivitas di luar rumah seperti sebelum pandemi covid-19. Ini artinya, sebagian besar waktunya dipakai bersama keluarga di rumah. Dari sisi positif mestinya banyak berkumpul dengan keluarga, kebahagiaan makin meningkat.

Menyimak apa yang disampaikan Kristin Hadfield dan Michael Ungar (2018) bahwa ketahanan keluarga dipengaruhi tiga aspek utama, yaitu aspek ekonomi, sosial, dan psikologis. Imbas korona, pengangguran diprediksi bertambah 5,23 juta orang. Sementara itu, 8,34 juta orang merupakan setengah pengangguran.

Banyaknya jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan pendapatan yang semakin menurun juga menimbulkan tekanan tersendiri pada keluarga. Interaksi sosial juga mulai terganggu, apalagi ketaatan menjalani protokol kesehatan yang terlanggar.

Data menunjukkan, semakin muda umurnya semakin kurang taat menjalani protokol kesehatan (BPS, 2020). Secara psikologis, mulai terganggu apalagi memikirkan ketidakpastian berhentinya pandemi covid-19. Survei BPS (2020) tersebut juga mengisyaratkan adanya ketakutan yang berlebihan untuk keluar rumah, ketakutan apabila ada keluarga yang sakit, dan sebagainya.

Beban psikologis diperparah dengan perilaku anak yang mulai bosan di rumah dan memicu konfl ik dengan orangtua. Apalagi, orangtua yang tidak paham terhadap pengasuhan dan pendampingan pada anak. Orangtua banyak yang kurang memahami tentang pengaruh lamanya anak berinteraksi dengan gadget. Padahal, hal itu bisa memengaruhi perilaku psikososial anak. Termasuk, kemungkinan anak terpapar terhadap pornografi dan pornoaksi.

Lanjut usia (lansia) merupakan anggota keluarga yang paling rentan terhadap covid-19. Secara alami, lansia akan mengalami kondisi immunosenescence, yakni terjadi penurunan kekebalan tubuh pada seseorang sehingga respons imun tubuh terhadap penurunan kekebalan pada seseorang, terhadap pertahanan infeksi kuman dan virus menurun. Akibatnya, lansia lebih mudah terkena infeksi. Bahkan, sering disertai dengan komplikasi yang berat. Kondisi ini bisa menambah stres keluarga dan memperlemah ketahanan keluarga.

Perkuat fungsi keluarga

Dalam siaran pers Mei 2020 yang lalu, Presiden Jokowi mengingatkan kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru. Namun, kehidupan yang berbeda itu bukan kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Intinya, rakyat dan masyarakat atau keluarga tidak perlu cemas menghadapi pandemi covid-19 ini.

Namun, kelentingan keluarga untuk menerima pengaruh luar dan bagaimana mengatasinya sangat variatif. Kesemua ini tergantung dari kekuatan keluarga itu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah (Arash Azadegan, 2017). Tipa-tiap keluarga berbeda tingkat kelentingannya, tergantung pada ketahanan bawaan mereka, ketahanan antisipatif, dan ketahanan adaptifnya.

Kuat atau lemahnya ketahanan bawaan, tergantung cukup atau tidaknya asupan nutrisi. Apabila asupan nutrisinya cukup (benar-benar cukup sesuai dengan yang diperlukan tubuh), akan terbentuk ketahanan tubuh yang kuat dan mempunyai peluang tidak mudah terserang penyakit apapun. Namun, seberapa jauh pengetahuan mereka terhadap nutrisi yang dibutuhkan?

Sementara itu, sebagian besar keluarga tidak menyiapkan langkah antisipatif men- jaga ketahanan keluarganya menghadapi kemungkinan buruk akibat pandemi covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya. Bagi keluarga yang mampu, mungkin bisa mengambil langkah-langkah konkret terutama di bidang ekonomi. Ketahanan antisipatif dapat dilakukan melalui upaya menabung, investasi (saham, deposito, atau lainnya), asuransi kesehatan, atau membuka unit usaha.

Froma Walsh (2016) dalam tulisannya, Family resilience: A developmental systems framework mengingatkan, lamanya waktu menerima stres seperti kepastian covid-19 berhenti. Dia berargumen, konsep ketahanan keluarga mengacu pada keluarga sebagai sistem fungsional, dipengaruhi peristiwa dan konteks sosial yang sangat menegangkan. Pada gilirannya, memfasilitasi adaptasi positif semua anggota dan memperkuat unit keluarga.

BKKBN dengan terus gencar menggelorakan dan mengedukasi keluarga dengan delapan fungsi keluarga sungguh sangat tepat. Ke delapan fungsi tersebut mencakup fungsi agama, fungsi sosial dan pendidikan, fungsi fisik/kesehatan, dan fungsi ekonomi. Lalu, fungsi reproduksi, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, dan fungsi lingkungan, merupakan landasan penguatan ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan fisik psikologis.

Adanya pandemi covid-19 diharapkan mampu memicu pemikiran dan inovasi baru untuk meningkatkan ketahanan keluarga, agar keluarga mampu menjalani kehidupan yang tenteram, mandiri, dan bahagia. Tidak usah menunggu lagi, mari lakukan segera cara-cara melindungi keluarga, tingkatkan ketahanan keluarga, dan perkuat fungsi keluarga. Semoga bermanfaat!

Baca Juga

DOK PRIBADI

Kepemimpinan Transformasional dan Kecerdasan Emosi

👤Dr. Lisa GraciaKailola, S.Sos., M.Pd, Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia, lisa.gracia@uki.ac.id 🕔Kamis 03 Desember 2020, 10:02 WIB
Riset dan kajian ilmiah yang berkembang dua dekade belakangan ini menunjukkan beberapa fakta bahwa kesuksesan seseorang tidak sepenuhnya...
MI/ 	ROMMY PUJIANTO

Perempuan dan Keadilan Elektoral

👤Titi Anggraini Dewan Pakar Kaukus Perempuan Politik Indonesia, Pembina Perludem 🕔Kamis 03 Desember 2020, 04:50 WIB
DEMOKRASI telah menjadi pilihan yang terinternalisasi dalam berbagai sendi tata kelola pemerintahan...
ANTARA News/HO Tokopedia)

Investasi Asing, Antara Mitos dan Solusi Resesi

👤Leontinus Alpha Edison Co-Founder & Vice Chairman Tokopedia 🕔Kamis 03 Desember 2020, 03:40 WIB
BERBAGAI negara di dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah, yakni melawan pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya