Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MENYAKSIKAN siaran langsung televisi dari Istana Negara sejak Senin (21/10) hingga hari ini (Rabu 23/10), kita seolah sedang menonton serial sinetron dan membuat kita tidak sabar akhir ceritanya seperti apa.
Sebagaimana kita ketahui, pasca pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, terhitung sejak Senin (21/10), Jokowi berperan sebagai "sutradara".
Saya sebut sebagai sutradara, sebab dialah yang menjadi sang penentu, cerita itu akan berakhir seperti apa?
Lazimnya, setelah pelantikan presiden, masyarakat bertanya-tanya siapa yang akan dipercaya oleh "presiden baru" sebagai menteri.
Jokowi dan timnya di istana rupanya pandai memermainkan psikologi massa. Ia mengendalikan seluruhnya "drama" Istana.
Saat mengundang orang-orang (tokoh) ke Istana Negara (Kepresidenan) yang diperkirakan akan diangkat menjadi menteri, Jokowi minta mereka mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam.
Masuk ke istana, mereka juga diatur sedemikian rupa, tidak bersamaan, tapi satu per satu. Saya perhatikan, mereka seolah diwajibkan memberikan salam dan senyum kepada wartawan yang juga telah disiapkan di tempat khusus.
Bahkan, saya tidak tahu, ini sengaja atau tidak? Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Tetty Paruntu, pun diundang ke istana mengenakan baju putih. Belakangan diketahui perempuan berusia 52 tahun itu "batal" menjadi menteri.
Kehadiran Prabowo Subianto, "musuh bebuyutan" Jokowi dalam kontestasi pilpres 2014 dan 2019 ke Istana Negara pada hari pertama (Senin 21/10), juga mengundang "drama" baru dan memunculkan pertanyaan, "apa lagi nih maunya Jokowi?"
Prabowo sepertinya diistimewakan oleh Jokowi. Ia diminta datang pada hari Senin ketika calon menteri dari unsur parpol koalisi belum diundang.
Kejutan "drama" ala Jokowi dan Istana ini memunculkan spekulasi dan "gorengan" baru bagi awak media. "Korbannya" adalah NasDem. Diberitakan Partai NasDem kecewa dan akan mengambil posisi sebagai oposisi.
Berita pernyataan lama (normatif) Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pun dimunculkan lagi dengan judul spekulatif bahwa Paloh memberi sinyal partai yang dipimpinnya akan mengambil peran sebagai oposisi.
Saya bisa pahami mengapa berita-berita tendensius itu disebarluaskan (NasDem seolah-olah kecewa karena Prabowo Subianto masuk ke kabinet Jokowi), lantaran Partai NasDem-lah yang sejak 2014 hingga sekarang konsisten dan konsekuen mendukung dan mengawal pemerintahan Jokowi. Dalam Pemilu 2019, partai ini bahkan mengusung tagline: "Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku".
Semua spekulasi itu terjawab setelah tiga tokoh NasDem diundang ke istana keesokan harinya (Selasa 22/10). Mereka adalah Siti Nurbaya Bakar yang tetap dipercaya menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Syahrul Yasin Limpo (Menteri Pertanian); dan Johnny G Plate (Menteri Komunikasi dan Informasi).
Hingga Selasa (22/10) malam, masih ada beberapa calon menteri dan pembantunya yang belum diundang, sehingga memunculkan spekulasi.
Semuanya akhirnya terjawab pada hari ini (Rabu 23/10) setelah Jokowi dan pihak istana membuat "drama" baru mengumumkan para calon menteri sambil lesehan di tangga Istana Merdeka.
Presiden dan para menteri tidak lagi mengenakan kemeja putih, tapi batik, pakaian khas Nusantara kebanggaan bangsa. Perhatikan cara Jokowi mengumumkan nama-nama menteri. Ia cukup membaca dari catatan yang ditulisnya di secarik kertas.
Selesai sudah "drama" Istana meskipun Jokowi tetap membuat kejutan-kejutan ("drama") baru menyangkut posisi beberapa menteri.
Banyak orang, termasuk saya, yang tidak menyangka Nadiem Makarim (bos Gojek) dipercaya Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kejutan lain adalah ditempatkannya mantan jenderal TNI Fahrul Razi sebagai Menteri Agama. Personalia Kabinet Indonesia Maju (KIM) yang hari ini (Rabu 23/10) dilantik punya perspekstif dan harapan baru.
Silakan terka apa motif Jokowi menempatkan Nadiem Makarim sebagai mendikbud, Fahrul Razi (menag), Tito Karnavian (mendagri), dan Prabowo Subianto (menhan)?
Apakah setelah itu akan drama baru? Menurut saya ya akan ada babak baru Indonesia yang lebih maju, aman, damai dan
NKRI tetap terjaga dan terbentengi dari mereka atau pihak-pihak (anasir) yang coba-coba mengganggu kebinekaan kita.
Selamat kepada para menteri, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, dan mengutip pesan Presiden Jokowi di tangga Istana Merdeka, "jangan korupsi".
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
Selain Tom Lembong, masih ada beberapa mantan menteri era Jokowi yang terjerat kasus korupsi. Berikut beberapa mantan menteri tersebut.
Seharusnya Prabowo berkaca pada kabinet pemerintahan Jokowi.
“Setahu saya ada. Kan Pak Prabowo sudah ngomong kalau nama-nama dari kabinet Pak Jokowi yang bagus-bagus akan juga dipakai untuk membantu beliau."
MENTERI Sosial Tri Rismaharini bungkam saat ditanya rencana mundur dari kabinet Presiden Jokowi. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke awak media, Selasa (3/9).
PDIP berharap reshuffle kabinet di akhir masa jabatan ditujukan untuk meningkatkan kinerja. Pasalnya, persoalan perekonomian rakyat mendesak untuk diselesaikan.
Saat ditanya lebih lanjut soal Menteri ESDM Arifin Tasrif yang akan digantikan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Presiden enggan menjawab kabar tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved