Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Pro-Kontra Wacana Format Lima Set Tenis Putri di Turnamen Grand Slam

Khoerun Nadif Rahmat
04/3/2026 16:26
Pro-Kontra Wacana Format Lima Set Tenis Putri di Turnamen Grand Slam
Ilustrasi(Dok WTA)

WACANA perubahan format pertandingan tenis putri di turnamen Grand Slam dari "best-of-three" menjadi "best-of-five" set mulai babak perempat final memicu perdebatan sengit di kalangan pemain top dunia.

Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, menjadi salah satu sosok yang paling lantang mendukung usulan yang digulirkan oleh Kepala Asosiasi Tenis Amerika Serikat (USTA), Craig Tiley, tersebut.

Bagi Sabalenka, transisi menuju format lima set di fase gugur akhir akan sangat menguntungkan gaya permainannya yang mengandalkan kekuatan fisik. "Ya, mari kita lakukan itu," ujarnya dikutip dari AFP.

Sabalenka meyakini ketahanan fisiknya sanggup meladeni durasi pertandingan yang lebih panjang. "Saya merasa mungkin akan memiliki lebih banyak gelar Grand Slam. Secara fisik saya sangat kuat, dan saya cukup yakin tubuh saya bisa menanganinya. Jadi, mari kita lakukan," sebutnya.

Usulan itu pertama kali dilempar oleh Craig Tiley saat ia masih menjabat di Australia Terbuka awal tahun ini. Menurut Tiley, riset menunjukkan minat penonton justru meningkat seiring durasi pertandingan yang memanjang. Ia menilai olahraga tenis perlu berevolusi untuk menjaga daya tarik bagi pemirsa global.

Namun, antusiasme Sabalenka tidak sepenuhnya diamini oleh rival-rivalnya di sirkuit WTA. Juara bertahan Prancis Terbuka, Coco Gauff, cenderung bersikap hati-hati meski ia merasa memiliki fisik yang mumpuni. Gauff justru mengkritisi skema perubahan format yang hanya dimulai sejak babak perempat final.

"Maksud saya, itu mungkin akan menguntungkan saya karena fisik saya termasuk yang terbaik, tapi saya mungkin tidak ingin hal itu terjadi," kata Gauff.

"Dan jika itu terjadi, saya lebih suka itu dilakukan untuk seluruh turnamen, bukan hanya perempat final. Saya pikir mengubah format di tengah turnamen merusak tujuan dari medan persaingan."

Nada penolakan yang lebih keras datang dari pengoleksi enam gelar Grand Slam, Iga Swiatek. Petenis asal Polandia ini mempertanyakan logika di balik durasi pertandingan yang lebih lama di saat tren dunia justru bergerak ke arah yang serba cepat. Swiatek mengkhawatirkan kualitas permainan akan menurun jika dipaksakan hingga lima set.

"Saya pikir jujur saja ini adalah pendekatan yang aneh di dunia di mana segalanya menjadi lebih cepat. Jadi saya tidak tahu apakah penonton jujur saja akan menyukai itu," cetus Swiatek.

Selain faktor tontonan, Swiatek menyoroti dampak sistemik terhadap kalender turnamen yang sudah sangat padat. Menurutnya, pemulihan pasca-pertandingan lima set yang melelahkan akan memaksa pemain untuk melewatkan lebih banyak turnamen lain.

"Kami tidak pernah berlatih untuk mempersiapkan hal itu, jadi kami perlu mengubah seluruh kalender kami, karena Grand Slam akan menjadi sangat berat sehingga saya pikir kami tidak akan punya waktu untuk bersiap menghadapi turnamen lain," tambahnya.

Pandangan senada diungkapkan petenis peringkat lima dunia, Jessica Pegula. Meskipun ia meyakini para petenis putri sanggup secara fisik untuk bertanding dalam durasi panjang, namun dari sisi manajemen turnamen, hal tersebut dinilai kontraproduktif.

Pegula mempertanyakan bagaimana penyelenggara akan mengatur jadwal yang saat ini saja sudah sering mengalami kendala durasi.

"Saya bahkan tidak tahu bagaimana Anda akan menjadwalkan turnamen. Kita harus menambah durasi minggu. Kita bahkan tidak bisa menyelesaikan jadwal sekarang," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya