Headline

BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia

Djokovic Pernah Memohon tidak Didiskualifikasi di AS Terbuka

Khoerun Nadif Rahmat
31/8/2025 22:52
Djokovic Pernah Memohon tidak Didiskualifikasi di AS Terbuka
Novak Djokovic.(Youtube US Open)

NOVAK Djokovic dikenal sebagai salah satu petenis terbesar sepanjang masa dengan koleksi 24 gelar Grand Slam. Namun, di balik deretan prestasi gemilang, petenis Serbia itu juga menyimpan kisah kelam yang terjadi di Flushing Meadows lima tahun silam.

Pada AS Terbuka 2020, langkah Djokovic terhenti bukan karena kalah dari lawan, melainkan akibat diskualifikasi yang membuat dunia tenis terkejut. Boris Becker, legenda Jerman sekaligus mantan pelatihnya, bahkan menyebut peristiwa itu sebagai momen terburuk dalam karier Djokovic.

Kala itu, Djokovic tengah melakoni babak keempat menghadapi Pablo Carreno Busta. Situasi pertandingan berlangsung panas ketika ia kehilangan servis dan tertinggal 5-6 di set pertama. 

Dengan kesal, Djokovic memukul bola ke arah belakang lapangan. Tanpa diduga, bola tersebut justru mengenai hakim garis perempuan yang kemudian terjatuh kesakitan.

Djokovic langsung bergegas menghampiri, meminta maaf, dan menunjukkan kepeduliannya. Namun rasa penyesalan itu tak cukup untuk menyelamatkannya. Panitia turnamen, setelah melakukan diskusi panjang dengan wasit utama Soeren Friemel dan supervisor Andreas Egli, memutuskan untuk mendiskualifikasi sang juara bertahan.

Keputusan itu membuat Djokovic kehilangan seluruh poin peringkat dan hadiah uang yang sudah diraih hingga babak tersebut. Meski ia berusaha membela diri dan memohon agar tidak didepak, argumen Djokovic ditolak. Friemel kemudian menjelaskan alasan di balik keputusan tegas tersebut. 

"Poinnya adalah dia tidak memukul hakim garis dengan sengaja. Dia berkata, 'Ya, saya marah, saya memukul bola, bola itu mengenai hakim garis. Faktanya jelas, tetapi itu tidak saya maksudkan, jadi saya seharusnya tidak didiskualifikasi.' Kami semua sepakat bahwa itu tidak disengaja, tetapi faktanya tetap bahwa hakim garis terkena bola dan jelas terluka," ujar Friemel dikutip dari the Mirror US. 

Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Djokovic. Sesaat setelah diskualifikasi, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial. 

"Situasi ini membuat saya benar-benar sedih dan kosong. Saya sudah memastikan kondisi hakim garis dan pihak turnamen mengatakan syukurlah dia baik-baik saja. Saya sangat menyesal telah membuatnya stres. Ini tidak disengaja, ini salah. Saya tidak akan menyebutkan namanya demi menjaga privasinya," tulisnya.

Djokovic menambahkan bahwa ia akan menjadikan insiden tersebut sebagai bahan refleksi. "Terkait diskualifikasi, saya harus kembali merefleksikan diri, mengolah kekecewaan ini, dan menjadikannya pelajaran untuk pertumbuhan saya sebagai pemain dan manusia."

"Saya minta maaf kepada turnamen US Open dan semua pihak terkait. Saya sangat bersyukur kepada tim dan keluarga saya yang selalu mendukung, serta fans yang selalu ada untuk saya. Terima kasih dan maaf."

Becker, yang sempat melatih Djokovic selama tiga musim, mengaku ikut terpukul melihat muridnya harus keluar dari turnamen dengan cara yang tragis. "Saya sama terkejutnya dengan semua orang. Novak dan saya sudah sangat dekat, kami saling menganggap keluarga. Ini mungkin momen paling sulit dalam kehidupan profesionalnya. Dia memang melanggar aturan, jadi keputusan itu benar," ucap Becker.

AS Terburuk 2020 menjadi noda yang tak terlupakan dalam perjalanan Djokovic. Meski kemudian ia bangkit dan menambah koleksi gelar Grand Slam, hingga kini insiden tersebut masih dikenang sebagai salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah tenis modern. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya