Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Harapan Klub untuk Ketua PBSI Baru, Harus Rangkul Semua Pihak

Akmal Fauzi
12/11/2020 20:23
Harapan Klub untuk Ketua PBSI Baru, Harus Rangkul Semua Pihak
Ketua Umum PBSi Agung Firman Sampurna(MI/R. Muhammad Zen)

KETUA Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) terpilih, Agung Firman Sampurna diharapkan merangkul semua pihak untuk meningkatkan prestasi bulutangkis tanah air semakin baik. Agung memiliki tugas berat karena bulutangkis merupakan harapan olahraga Indonesia.

“Harapan saya kepada bapak ketua umum, jangan mendengar hanya sebagian orang. Tapi beliau itu punya kaki tangan, minta supaya mereka menyelidiki. penting loh, naif banget kalau dengar dari satu kelompok,” kata Ketua Harian Klub Jaya Raya Imelda Wigoena dalam diskusi bertajuk Perjuangan Klub dalam Melahirkan Pahlawan Bulutangkis Indonesia, Kamis (12/11).

Agung terpilih sebagai ketum baru PBSI periode 2020 sampai 2024 pada munas, Jumat (6/11). Agung terpilih secara aklamasi setelah pesaingnya, Ari Wibowo, gagal lolos verifikasi.

“Saya percaya ke depannya bisa lebih bagus. harus bisa mendengarkan semua. PBSI itu adalah orang tua, klub dan atlet-atlet itu anak-anak dan cucu-cucu,” kata Imelda.

Hal yang sama diungkapkan Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin. Harapan klub tidak muluk untuk ketua umum PBSI yang baru. Dia meminta, Agung bisa merangkul semua pihak dan memerhatikan atlet.

“Tidak mau berharap muluk-muluk, yang penting jadi ketua yang baik bagi semua, pemain, agar mereka bisa menunjukkan performance-nya dengan baik. Jangan menutup pintu untuk pemain berkiprah ke dunia,” ujarnya.

Baca juga : Grand Desain Olahraga Tulang Punggung Mencapai Prestasi

Yoppy kemudian menyoroti proses Munas PBSI lalu. Menurutnya, klub sudah seharusnya mendapat hak suara untuk memilih pemimpin yang bisa membawa bulutangkis Indonesia terus berjaya. Menurutnya, klub adalah pihak yang paling berpengaruh terhadap prestasi atlet.

“Menurut saya masuk akal sekali (mendapat hak suara). Kami yang mendidik atlet dari usia dini kemudian menjadi pemain elite setelah 10 sampai 12 tahun mereka membela negara, kami berjuang berdarah-darah, tapi nanti juga cuma bisa pasrah. Kalau bisa mendapat hak suara, itu sangat masuk akal,” ujarnya.

“Tapi bukan artinya gampang diraih. Butuh perjuangan bertahun-tahun untuk mendapatkan itu. karena kami harus melobi kanan-kiri ke atas ke bawah. karena pasti kan ada yang menentang, kami harus meyakinkan mereka,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Yoppy menjelaskan, klub butuh 10 tahun untuk menempa calon atlet dari titik nol. Waktu tersebut diperlukan untuk membuat pebulutangkis Indonesia hingga mampu berprestasi.

Menurut Yoppy, klub juga harus memperjuangkan atlet tak hanya lewat pembinaan, melainkan membentuk karakter atlet.

"10 tahun itu tidak sebentar. Dalam masa waktu yang lama itu, banyak tantangan yang klub rasakan untuk menghasilkan seorang atlet agar bisa berprestasi," ucap Yoppy. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya