Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM tiga tahun berturut-turut dari 2016 sampai 2018 ajang balap Moto-GP dikuasai tim Honda Repsol dengan pembalap Marc Marquez yang bernomor 93.
Tampaknya ajang Moto-GP 2019, diprediksi masih akan didominasi tim Honda yang mengandalkan pembalap utamanya Marquez dan Jorge Lorenze, mantan pembalap Ducati dan juga Yamaha.
Menanggapi redupnya prestasi tim Yamaha yang masih mengandalkan pembalap kawakan Valentino Rossi yang berusia 40 tahun dan Maverick Vinales, tim Yamaha masih optimistis dalam menghadapi Moto-GP musim ini.
Bos Yamaha Lin Jarvis menyatakan bahwa timnya tidak perlu melakukan re-volusi besar kendaraan tunggangan pembalapnya demi meraih gelar juara kembali pada Moto-GP 2019.
Pernyataan Jarvis disampaikan pada saat pengenalan kendaraan baru YZR-M1 dengan livery warna biru dalam event yang dihelat di Jakarta, Senin (4/2).
“Sejujurnya, kami tidak membutuhkan revolusi saat ini. Kami membutuhkan evolusi yang kuat. Pada akhir tahun lalu, kami sangat dekat,” ucap Jarvis.
“Saya kira kami tidak membutuhkan revolusi apa pun, tapi semoga semuanya berjalan baik,” tambah Jarvis.
Tim-tim peserta Moto-GP 2019 dijadwalkan akan melakoni uji coba pramusim di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, pada 6-8 Februari mendatang.
Tes di ‘Negeri Jiran’ tersebut bakal menjadi uji coba kedua terakhir sebelum musim kompetisi Moto-GP 2019 resmi bergulir di Qatar, pada 8-10 Maret.
Sementara itu, Rossi mengakui Marquez dan Lorenzo akan menjadi pesaing terkuat dalam pacuan juara dunia 2019.
“Semua orang menantikan tim Honda karena ekspektasi yang besar kepada Jorge bersama Repsol Honda. Menurut saya, mereka memiliki tim yang kuat dengan Lorenzo dan Marquez. Mereka ialah yang terkuat di atas kertas,” ujar Rossi. (Opn/R-3)
Sejak merilis gitar akustik, elektrik, dan ampli pertamanya pada 1966, Yamaha secara konsisten menjadi bagian dari perjalanan musik global.
Meski sepanjang kariernya di MotoGP terbiasa dengan mesin Inline4, Quartararo membantah jika performa buruk itu disebabkan oleh proses adaptasi gaya balap.
Fabio Quartararo mengakui bahwa kehadiran mesin V4 membawa tantangan teknis yang sangat berbeda dibandingkan mesin inline-4 yang selama ini ia kendarai.
Kolaborasi ini jadi bentuk nyata kedekatan Yamaha dengan gaya hidup anak muda masa kini yang identik dengan ruang kreatif seperti cafe.
Pada uji coba sebelumnya di Misano, Quartararo kurang puas dengan performa V4.
Keputusan memakai mesin V4 juga dipengaruhi evaluasi terhadap pembalap wildcard Yamaha yang melakukan serangkaian uji coba.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved