Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Pakar UGM Ingatkan Dampak Godzilla El Nino terhadap Padi dan Jagung

Agus Utantoro
03/4/2026 18:43
Pakar UGM Ingatkan Dampak Godzilla El Nino terhadap Padi dan Jagung
Seorang petani menggembala ternak kerbaunya di persawahan tadah hujan yang mengering.(Dok. Antara)

KEMUNCULAN kembali fenomena El Nino yang disertai peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik diprediksi akan mengganggu pola cuaca global secara ekstrem. Fenomena yang kini dikenal dengan istilah 'Godzilla El Nino' ini menggambarkan intensitas anomali iklim yang sangat kuat dan berpotensi mengancam stabilitas pangan.

Fenomena ini diperkirakan membawa dampak signifikan bagi negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada kestabilan musim. Sektor pertanian menjadi sektor yang paling rentan akibat ketergantungan tinggi pada ketersediaan air. Kekeringan berkepanjangan berisiko menurunkan produktivitas sekaligus mengganggu ketahanan pangan nasional.

Intensitas Godzilla El Nino dan Pemanasan Global

Guru Besar bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa El Nino merupakan siklus iklim alami. Namun, pemanasan global membuat pola kemunculannya menjadi lebih dinamis, cepat, dan sulit diprediksi.

“Istilah ‘Godzilla El Nino’ merujuk pada intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya. Kondisi ini membawa konsekuensi serius bagi sektor pertanian. Dampaknya pasti terasa langsung ke sisi produksi,” ujar Prof. Bayu pada Jumat (2/4).

Ancaman Gagal Panen Padi dan Jagung

Menurut Prof. Bayu, komoditas pangan utama seperti padi dan jagung adalah yang paling terdampak karena membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar selama fase pertumbuhan. Jika suplai air menurun drastis, tanaman tidak dapat berkembang optimal dan berisiko mengalami kerusakan permanen.

“Padi dan jagung sangat rentan. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung pada gagal panen,” tuturnya. Hal ini tidak hanya mengancam stok pangan, tetapi juga memukul ekonomi petani karena biaya produksi yang telah dikeluarkan berpotensi hilang tanpa hasil.

Penurunan ketersediaan air menyebabkan kualitas produksi menurun dan pendapatan petani merosot tajam akibat risiko gagal panen pasca-tanam.

Strategi Mitigasi dan Adaptasi

Menghadapi ancaman ini, Prof. Bayu menekankan pentingnya langkah mitigasi yang terintegrasi, antara lain memperkuat koordinasi antara petani dan penyuluh pertanian untuk akses informasi cuaca real-time dan mengoptimalkan program pompanisasi, irigasi tetes, dan penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan. Pemerintah melalui BMKG diharapkan memberikan peringatan dini yang akurat hingga menjangkau tingkat desa.

Ia menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal pengalaman menghadapi El Nino pada tahun 2024. Inovasi irigasi hemat air dan pengembangan varietas unggul sudah tersedia, namun efektivitasnya bergantung pada kapasitas adaptasi petani di lapangan.

“Peran penyuluh sangat krusial sebagai jembatan inovasi. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah cuaca ekstrem,” pungkasnya. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya