Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMANTAUAN titik panas (hotspot) menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar seperti NOAA-20, S-NPP, TERRA, dan AQUA terus menjadi salah satu metode utama dalam mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah, termasuk di Kepulauan Riau. Teknologi ini memberikan gambaran awal mengenai lokasi yang mengalami peningkatan suhu signifikan dibandingkan dengan area di sekitarnya.
Melalui sistem penginderaan jauh, satelit mampu mendeteksi anomali suhu panas yang kemudian diidentifikasi sebagai hotspot. Data ini menjadi indikator awal adanya aktivitas pembakaran atau kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan dilakukan secara rutin, baik pada siang maupun malam hari, sehingga memungkinkan cakupan observasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Keunggulan dari penggunaan sensor VIIRS dan MODIS adalah kemampuannya dalam memantau wilayah yang sulit dijangkau secara langsung. Dengan dukungan beberapa satelit yang beroperasi secara bergantian, informasi hotspot dapat diperbarui secara berkala dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kepentingan mitigasi bencana.
Namun demikian, metode ini juga memiliki keterbatasan. Wilayah yang tertutup awan tebal atau berada dalam kondisi blank zone tidak dapat terdeteksi secara optimal oleh satelit. Hal ini menyebabkan kemungkinan adanya titik panas yang tidak terpantau, sehingga diperlukan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Suratman dari BMKG Bandara Hang Nadim Batam menjelaskan bahwa data hotspot dari satelit sangat penting sebagai langkah awal dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. “Data hotspot dari satelit VIIRS dan MODIS sangat membantu dalam mendeteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan. Namun, akurasinya tetap dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama jika wilayah tertutup awan sehingga tidak semua titik panas dapat terpantau,” ujarnya, Kamis (26/3).
Ia menambahkan, informasi hotspot yang diperoleh kemudian akan dikoordinasikan dengan instansi terkait, seperti pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana, untuk dilakukan pengecekan langsung di lapangan. Langkah ini penting guna memastikan apakah titik panas tersebut benar merupakan kebakaran atau hanya sumber panas lainnya.
Dengan adanya dukungan teknologi satelit, diharapkan proses deteksi dini kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan meluasnya kebakaran, terutama pada musim kemarau yang rawan terjadi karhutla.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, mengingat dampaknya yang luas terhadap lingkungan, kesehatan, serta aktivitas transportasi, khususnya penerbangan di wilayah Batam dan sekitarnya. (H-2)
Menurut BMKG, cuaca di Kepulauan Riau saat ini lebih dominan berawan tebal karena kecepatan angin yang cukup kencang di sekitar wilayah Kepri serta kelembapan udara yang relatif rendah
Peringatan tersebut disampaikan oleh Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Anisa S, berdasarkan hasil analisis data pasang surut air laut.
Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Pekanbaru dituding menjadi pemicu utama meningkatnya kerawanan kebakaran di area lahan gambut dan semak belukar.
BMKG deteksi 113 titik panas di Riau per 18 Maret 2026. Bengkalis dan Dumai mendominasi. Simak update pemadaman karhutla oleh tim gabungan BPBD di sini.
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
REGU pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Manggala Agni terus mengintensifkan upaya pemadaman di sejumlah titik api di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
LUAS kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau pada periode Januari-Februari 2026 mencapai 4.400 hektare dan 94% di antaranya berada di lahan gambut (4.173,82 ha).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved