Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Lamang Panganan Tradisional yang tak Lekang oleh Zaman

Denny Susanto
12/3/2026 22:34
Lamang Panganan Tradisional yang tak Lekang oleh Zaman
Lamang, panganan khas Banjar.(MI/Denny Susanto)

RAMADHAN Cake Fair atau dikenal dengan sebutan Pasar Wadai oleh masyarakat Banjar, kembali digelar. Event itu menyajikan beragam kuliner tradisional dan modern berupa lauk-pauk, aneka kue dan minuman hingga jajanan pasar. 

Pasar Wadai muncul mulai dari kawasan-kawasan kuliner diakomodir pemerintah daerah juga pedagang musiman kuliner khas Ramadan yang dapat dijumpai di banyak lokasi, mulai pinggiran jalan protokol hingga permukiman penduduk.

Pasar Wadau di Kalimantan Selatan menyajikan aneka kuliner tradisional khas banjar antara lain amparan tatak pisang, sari muka lakatan, sari muka hijau, sari pengantin, putri selat, lapis india, lapis hula hula, kue lam, nangka susun, pisang sagu, keraraban dan tentunya wadai bingka. 

Seolah tak lekang zaman ditengah banyaknya kuliner modern, aneka kuliner tradisional ini tetap mendapat tempat di hati dan banyak diburu masyarakat, baik untuk alasan nostalgia maupun merasakan kelezatan rasa yang khas. Karena beberapa jenis kuliner tradisional hanya muncul saat Ramadan. 

Salah satu panganan tradisional yang banyak diburu untuk takjil atau hidangan berbuka puasa adalah lamang. Yaitu penganan dari beras ketan yang dicampur dengan santan dan rempah-rempah, digulung dengan balutan daun pisang dan dibakar atau panggang dalam ruas bambu. Lemang merupakan hidangan tradisional yang populer di berbagai daerah di Indonesia termasuk Kalsel.

Lamang juga kerap disajikan pada acara-acara besar seperti aruh bagi masyarakat dayak ataupun kenduri/selamatan bagi masyarakat melayu banjar bersama jajanan lainnya yang disebut wadai 40 jenis. Lamang yang cukup populer berasal dari Kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Daerah ini juga dikenal dengan kuliner ketupat Kandangan.

Di Kota Banjarbaru, di Jalan Panglima Batur terdapat sebuah stan yang menjual lamang yang langsung dibawa dari Kota Kandangan. Iwan, 40 penjual lamang mengatakan dirinya sengaja berjualan lamang saat momen Ramadan. 

"Lamangnya dibuat di Kandangan, dibawa ke sini pakai mobil. Di Banjarbaru kita jualan setahun sekali aja tiap Ramadan dan alhamdulillah lumayan laku," ujar Iwan.

Ia menjelaskan, keunikan lamang khas Kandangan yang berbahan dasar beras ketan, rempah dan santan, kemudian dimasak dalam bambu muda, sehingga menghasilkan tekstur gurih dan lembut. Lamang Kandangan disajikan dengan sambal kacang tanah dan telur asin (hintalu jaruk), memberikan perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dan wangi khas.

"Kalau lamang khas kandangan itu harus dimakan pakai telur asin, bumbu kacang tanah atau sambal sate," ungkapnya. 

Setiap hari, Iwan membawa 20 bambu berisi lamang untuk dijual per harinya. Untuk lamang dijual mulai harga Rp20 ribu per potong, telur asin Rp6 ribu, bumbu kacang dan sambal kacang dari harga Rp5 ribu sampai Rp10 ribu.

Lina, 28 warga Kota Banjarbaru memgaku dirinya dan keluarga sangat menyukai panganan lamang karena rasanya yang gurih. Terlebih pada hari biasa penjual lamang sulit ditemui. 

"Kami suka mencari makanan tradisional untuk berbuka termasuk lamang. Apalagi banyak makanan tradisional hanya ada saat Ramadhan seperti sekarang ini," ungkapnya. (DY/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya