Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Tips Berbagi THR untuk Keponakan agar Dompet tidak 'Boncos' saat Lebaran

mediaindonesia.com
05/3/2026 15:16
Tips Berbagi THR untuk Keponakan agar Dompet tidak 'Boncos' saat Lebaran
Ilustrasi(Antara)

Tradisi Bagi-bagi THR Keponakan: Sejarah, Etika, dan Tips Mengelola Anggaran

Tradisi "salam tempel" atau bagi-bagi THR (Tunjangan Hari Raya) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Di tahun 2026 ini, meski teknologi semakin canggih dengan kehadiran THR digital, esensi kebahagiaan saat melihat binar mata keponakan menerima amplop tetap tidak tergantikan. Namun, bagaimana agar tradisi ini tetap bermakna tanpa membuat dompet "kering" pasca-lebaran?

Sejarah Singkat: Dari Mataram hingga Dompet Digital

Tradisi ini berakar dari budaya Timur Tengah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal. Di era Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16, para raja dan bangsawan sering membagikan hadiah kepada anak-anak pengikutnya sebagai bentuk rasa syukur setelah sebulan berpuasa.

Pakar antropologi Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo menjelaskan budaya THR pertama kali muncul pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan aparatur negara. 

Hingga saat ini masyarakat masih mempertahankan tradisi memberikan uang baru sebagai bentuk kasih sayang dan persaudaraan antar anggota keluarga.

Kini, tradisi tersebut berevolusi mengikuti zaman. Jika dulu masyarakat sibuk mengantre untuk menukar uang baru di bank, sekarang banyak yang mulai beralih ke fitur "Angpau Digital" melalui e-wallet atau QRIS yang lebih praktis dan minim risiko kehilangan.

Panduan Nominal THR Sesuai Jenjang Usia

Kategori Usia Estimasi Nominal (Rupiah) Tujuan Edukasi
Balita/Prasekolah Rp5.000 - Rp10.000 Pengenalan warna dan bentuk uang.
Anak SD Rp20.000 - Rp50.000 Belajar transaksi sederhana (jajan).
Remaja (SMP/SMA) Rp50.000 - Rp100.000 Manajemen keinginan vs kebutuhan.

Tips Mengelola Anggaran THR agar Tidak "Boncos"

Agar tidak terjebak dalam perilaku impulsif, perencana keuangan menyarankan untuk mengalokasikan maksimal 15-20% dari total pendapatan THR pribadi Anda untuk pos berbagi keluarga. Penting untuk diingat bahwa prinsip keadilan tidak selalu berarti sama rata. Memberi nominal yang berbeda berdasarkan usia adalah hal yang wajar dan dapat dijelaskan kepada anak-anak agar tidak menimbulkan kecemburuan.

Mengajarkan Literasi Keuangan Sejak Dini

Momen bagi-bagi THR adalah waktu terbaik untuk mengajarkan anak tentang literasi keuangan. Alih-alih membiarkan mereka menghabiskan semuanya untuk mainan, arahkan keponakan untuk membagi uang mereka ke dalam tiga pos:

  • Simpan (Tabungan): Untuk keinginan jangka panjang.
  • Belanja (Kebutuhan Saat Ini): Untuk apresiasi diri setelah berpuasa.
  • Berbagi (Sedekah): Untuk menumbuhkan empati sosial.

Kesimpulan

Tradisi bagi-bagi THR untuk keponakan adalah simbol kasih sayang dan perekat silaturahmi. Baik diberikan secara fisik dalam amplop lucu maupun secara digital, nilai keikhlasan tetap menjadi yang utama. Dengan perencanaan anggaran yang matang, Anda tetap bisa berbagi kebahagiaan tanpa mengganggu stabilitas finansial di masa depan.

FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan

1. Kapan waktu terbaik memberikan THR? Biasanya dilakukan saat momen sungkeman atau kumpul keluarga besar di hari pertama atau kedua lebaran.

2. Apakah keponakan yang sudah kuliah masih perlu diberi? Tergantung tradisi keluarga, namun biasanya pemberian berhenti saat keponakan sudah memiliki penghasilan sendiri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya