Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SUASANA berbeda menyambut bulan suci Ramadan dirasakan para penyintas longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kesedihan mendalam masih dirasakan para keluarga korban dalam tragedi yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari lalu dan merenggut lebih dari 80 orang jiwa.
Mereka sangat kehilangan orang-orang terdekat yang selama ini hidup bersama. Salah satunya dirasakan Yayah, 50, warga kampung Babakan yang hingga kini masih belum bisa percaya atas musibah yang merenggut banyak anggota keluarganya.
Menjelang Ramadan, Yayah mengatakan, keluarganya biasa selalu berkumpul dan makan bersama, hingga membicarakan berbagai rencana saat menjalani bulan puasa. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan.
"Masih trauma, rasanya seperti mimpi tapi nyata. Biasanya jelang Ramadan kumpul sama ibu dan saudara. Sekarang semuanya sudah ninggalin," kata Yayah, Rabu (18/2).
Dalam musibah longsor tersebut, Yayah kehilangan tujuh anggota keluarga. Satu orang merupakan ibu kandungnya, sementara enam orang lainnya merupakan keluarga dari pihak suami.
"Ibu kandung terus dari keluarga suami, dua keluarga ada enam orang. Jadi total tujuh orang yang meninggal dalam kejadian itu," tuturnya.
Ia menuturkan, sebelum musibah terjadi, aktivitas sehari-hari selalu dilakukan bersama keluarga. Mulai dari pergi ke kebun, mencari rumput, hingga makan bersama. "Ke mana-mana sama ibu. Mau ke kebun, cari rumput bareng. Mau makan juga selalu bareng," ucapnya.
Sementara itu, korban lainnya, Imar juga mengalami kenyataan pahit kehilangan keluarga. Ia menyebut, keluarga besarnya tewas akibat terjangan longsor. Dari enam korban, hingga saat ini masih ada satu korban yang belum ditemukan.
"Dua keluarga enam orang korban. Tapi masih ada satu yang belum ketemu bernama Tedri Mauludin yang masih sekolah di kelas 5 SD," kata Imar.
Imar mengaku, jelang Ramadan kali ini ia hanya bisa berusaha tabah demi anak dan cucunya. Biasanya jelang Ramadan, keluarganya selalu menggelar makan bersama dan saling berkunjung ke rumah keluarga. Namun kini, kebiasaan tersebut tak lagi bisa dilakukan seperti dulu.
"Masih terasa sedih, biasa berkumpul tapi sekarang jadi sepi. Tapi saya harus tabah sama anak sama cucu," tambah Imar.
Rumah keluarga Yayah dan Imar luluh lantak setelah diterjang longsor dari atas bukit Gunung Burangrang. Hampir selama tiga pekan, keluarga yang tersisa tinggal di pengungsian. Namun mereka kini telah tinggal sementara di rumah kontrakan sambil menunggu hunian tetap dari pemerintah. (E-2)
Tema Ramadan sebagai bulan kemanusiaan dipilih untuk menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah personal, tetapi juga penguatan kepedulian sosial.
Sampah organik rumah tangga didominasi oleh sampah dapur dan sisa makanan saat berbuka puasa maupun sahur
MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan mulai menghadirkan berbagai program tematik untuk menarik pengunjung sekaligus memfasilitasi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.
Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas sosial sekaligus kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.
Menko Muhaimin menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi nasional dalam penanggulangan kemiskinan.
Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi gotong royong dan solidaritas yang telah menjadi identitas bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved