Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Anak-anak Demak Bergulat dengan Keganasan Alam agar Tetap Bersekolah

Akhmad Safuan
29/1/2026 12:41
Anak-anak Demak Bergulat dengan Keganasan Alam agar Tetap Bersekolah
Anak-anak Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak setiap hari harus menyusuri jalan bebatuan terjal dan menghadapi hantaman gelombang agar sampai ke sekolah.(MI/Akhmad Safuan)

CUACA mendung ketika pagi hujan baru saja usai, jalan Pantura di Kabupaten Demak juga masih terlihat basah dengan angin berhembus cukup kencang dari arah laut utara yang sedang tidak baik-baik saja, gelombang tinggi sudah hampur sebulan menghempas ujung pantai membuat para nelayan menghentikan aktivitas melaut untuk sementara waktu.

Sejumlah anak sekolah masih duduk di bangku sekolah dasar di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak tampak tertatih-tatih menyusuri jalan desa membelah lautan yang terputus dengan bongkahan batu tidak beraturan, dan sesekali gempuran gelombang menghempas kaki mereka.

Tanpa menghiraukan gempuran ombak yang terus menerjang jalan dan kaki mereka, anak-anak masih duduk di bangku sekolah dasar tetap berjalan meskipun kadang harus merangkak menyusuri bebatuan yang terjal sepanjang satu kilometer agar tetap dapat berangkat sekolah pagi itu.

Tas ransel di punggung menambah berat langkah setiap kali harus menghadapi hembusan angin kencang, dengan tingkat sepanjang 2 meter di tangan terus menjajaki setiap jalan di ok alui untuk mengetahui kedalaman lumpur atau air yang merendam jalan bebatuan itu, kilat mata semangat untuk tetap belajar tergambar mengalahkan penderitaan dialami setiap harinya.

Seorang anak Bakri (9) dengan sorot mata tajam tampak membimbing adik perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD, tangan kirinya yang kecil terus menggenggam erat tangan sang adik agar tidak terjatuh, sedang tangan kanannya memegang tongkat kayu untuk menjajaki jalan yang berlumpur maupun tergenang air laut.

"Tetap hari berangkat sekolah seperti ini, harus berjalan menyusuri jalan yang basah oleh hempasan air laut, bahkan kadang sekolah dengan baju basah karena terhempas gelombang tang menghantam dari sisi kiri dan kanan," ujar Bakri 

Hal serupa diungkapkan rekannya Shokib, bahwa sejak lahir hingga saat ini sudah menghadapi kondisi desanya yang terputus dengan daratan di desanya, sedangkan sekolah terdekat berada sekitar 1 kilometer dari tempat tinggalnya denfan melintasi jalan yang sudah terputus dan rusak berat. "Dulu masih dapat dilintasi motor, sekarang untuk jalan kaki saja susah," tambahnya.

Kadang merasa hidup ini tidak adil, ungkap Shokib, bahkan setiap melintasi jalan untuk berangkat sekolah kadang harus menangis karena diterjang ombak yang menghempas, tetapi hanya ini yang bisa dilakukan agar tetap dapat bersekolah, meskipun kadang harus diantar jemput orang tua manakala gelombang besar datang.

"Di rumah kami hanya sedikit ada tanah, tetapi dikepung air hingga kami tinggal di rumah panggung, bahkan setiap jalan harus berjuang menahan dingin karena angin sangat kencang kaduknkelalui sela-sela dinding bambu atau papan," katanya.

Meskipun Para orang tua harus merasakan kekhawatiran setiap melepas putra-putrinya berangkat ke sekolah, namun mereka tidak dapat berbuat banyak menghadapi keganasan alam yang telah menggerus desa mereka, bahkan 13 keluarga yang berada di Dukuh Tambaksari saat ini harus menghadapi hidup diatas rumah panggung karena rob sudah menjadi langganan.

"Mau bagaimana lagi, kadang hati ini menangis setiap kali melihat anak-anak harus berjuang berjalan menyusuri jalan desa yang terputus sebagian dan harus menembus hempasan gelombang kaut," kata Ahmad, seorang warga.

Menurut Solikhin, warga lainnya di tengah musim baratan dan cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir saat ini, kondisi semakin terasa berat karena tidak hanya hugan badai, tetapi warga juga menghadapi gelombang tinggi di perairan utara yang menghempas desa setiap harinya.

Kepala Desa Bedono Agus Salim mengatakan kondisi Dukuh Tambaksari saat ini terpisah dari kawasan lainnya, akibat jalan terputus diterjang gelombang sehingga belasan keluarga harus berjuang hidup dan mati setiap harinya menghadapi alam yang tidak bersahabat, bagian untuk keluar masuk desa terpaksa menggunakan perahu karena jalan satu-satunya terputus.

"Ketika gelombang besar terjadi, terpaksa anak-anak tidak berani sekolah dan dalam kondisi normal merehabilitasi tetap harus berjuang menyusuri jalan yang berat agar dapat sampai ke sekolah," ujar Agus Salim.

Selain tidak ada lokasi untuk relokasi, belasan keluarga yang masih bertahan juga enggan untuk keluar dari kampubg halamannya tersebut, maka harapan satu-satunya adalah meminta perhatian pemerintah agar permasalahan ini dapat diselesaikan, karena untuk membangun jalan itu sudah dipastikan anggaran dimiliki desa tidak mencukupi. "Kami mohon Pemkab Demak melihat kondisi ini," Imbuhnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya