INDISEN kebakaran yang melanda fasilitas produksi sandal Swallow (PT Garuda Mas Perkasa) di Medan pada Januari 2026 bukan sekadar kebakaran gedung biasa. Petugas pemadam kebakaran (Damkar) menghadapi tantangan ekstrem yang membuat api berkobar lebih dari 12 jam.
Secara teknis, ini dikategorikan sebagai High-Load Hydrocarbon Fire. Sebagai jurnalis teknologi, kami membedah faktor sains material dan logistik yang menyebabkan eskalasi api menjadi sangat sulit dikendalikan.
1. Faktor Material: Sifat Kimia Karet (The Fuel)
Sandal Swallow terbuat dari campuran High-Grade Natural Rubber (Polisoprena) dan bahan sintetis. Ketika terbakar, material ini tidak berperilaku seperti kayu atau kertas.
Fenomena "Liquefied Fire"
Karet memiliki titik leleh sebelum menjadi abu. Saat terbakar, tumpukan sandal akan mencair menjadi cairan panas yang mengalir (seperti lava). Cairan karet yang terbakar ini mengalir ke area lain yang belum terbakar, menyebarkan api secara horizontal di lantai pabrik, membuat penyekatan api (fire break) menjadi sangat sulit.
Perbandingan Teknis: Kebakaran Biasa vs Kebakaran Karet
| Parameter | Kebakaran Kayu/Kertas (Kelas A) | Kebakaran Pabrik Karet (Kelas B/Special) |
|---|---|---|
| Nilai Kalor (Energi Panas) | Sedang (~18 MJ/kg) | Sangat Tinggi (~45 MJ/kg) - Setara Bensin |
| Respon Terhadap Air | Menyerap air, api padam | Hydrophobic (Menolak air). Air seringkali hanya menggenang di atas, sementara api menyala di bawahnya. |
| Produksi Asap | Abu-abu/Putih, partikel sedang | Hitam Pekat, mengandung Karbon Hitam, Sulfur Dioksida, & Minyak. |
| Mekanisme Penyebaran | Loncatan bunga api | Aliran lelehan material (Flowing melt) |
2. Faktor Logistik: Densitas Penyimpanan
Pabrik sandal umumnya memiliki gudang penyimpanan barang jadi (Finished Goods) yang ditumpuk tinggi (high-rack storage).
- Thermal Re-radiation: Dalam tumpukan sandal yang padat, panas dari satu palet yang terbakar akan memantul ke palet di sebelahnya dan di atasnya, mempercepat flashover (titik di mana seluruh ruangan menyala serentak).
- Sulit Dijangkau: Air dari nozzle pemadam seringkali hanya membasahi bagian luar tumpukan (kulit luar), sementara inti tumpukan (deep seated fire) tetap membara.
3. Bahaya Kimia Asap (Toxic Plume)
Yang membuat situasi "parah" bagi warga sekitar Medan Deli bukan hanya apinya, tapi asapnya. Pembakaran karet melepaskan senyawa karsinogenik:
Sulfur Dioksida (SO2)
Menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan dan mata.
Karbon Monoksida (CO)
Gas pembunuh senyap, konsentrasi tinggi akibat pembakaran tidak sempurna.
PAHs (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons)
Partikel mikro yang menempel di paru-paru dan tanah, bersifat racun jangka panjang.
Information Gain: Solusi Pemadaman (Foam vs Water)
Mengapa air saja tidak cukup? Karena karet mengandung minyak. Menyiram air dalam volume besar kadang justru memicu Steam Explosion atau membuat lelehan karet mengapung dan menyebar.
Teknik pemadaman paling efektif untuk pabrik seperti Swallow adalah menggunakan AFFF (Aqueous Film Forming Foam). Busa khusus ini bekerja dengan cara "menyelimuti" permukaan karet, memutus suplai oksigen, dan menahan uap beracun agar tidak keluar. Inilah sebabnya Damkar Medan membutuhkan waktu lama; mereka harus memadukan strategi pendinginan (air) dan isolasi oksigen (busa/pasir).
Kesimpulan Investigasi
Keparahan kebakaran pabrik Swallow di Medan adalah akumulasi dari tiga faktor fatal: Nilai kalor karet yang setara bensin, sifat lelehan cair yang menyebarkan api, dan asap beracun yang menghambat visibilitas petugas. Ini adalah pengingat keras bagi industri polimer untuk memperketat sistem sprinkler otomatis berbasis busa, bukan sekadar air.
