Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA dua bulan berlalu setelah banjir melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, kondisi penyintas tidak jauh berubah. Bukan saja rumah terbawa banjir dan lumpuhnya aktivitas perekonomian, fasilitas pendidikan putra putri mereka juga berantakan.
Penelusuran Media Indonesia pada Sabtu (24/1) di SD Negeri Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, meskipun Proses Belajar Mengajar (PBM) sudah mulai sejak 5 Januari 2026, tapi kondisi masih cukup menyedihkan. Sekolah darurat yang dibangun di bawah tenda putih bantuan Unicef melalui Program Kementerian Pendidikan itu masih serba krisis dan mengharukan.
Pemerintah seperti abai atau tidak terlihat karena sekolah itu nun jauh dibalik lumpur banjir dan terhalang kayu gelondongan liar. Mulai dari fasilitas sekolah, keadaan murid hingga nasib guru laksana hidup di rimba tak memiliki pemimpin.
Misalnya, dari semua 6 kelas kelompok belajar di sekolah tenda itu, hanya 3 lokal yang memiliki papan tulis. Sedangkan 3 lagi tidak memiliki papan tempat baca tulis pembelajaran. Padahal itu fasilitas paling kecil dan bukan pengadaan rumit. Karena tanpa papan tulis, para siswa itu hanya mendengar penjelasan guru yang berdiri di depan.
"Baru ada 3 papan tulis manual pakai spidol. Hendaknya ada sumbangsih atau bantuan donasi 3 papan tulis lagi, untuk kelancaran belajar anak-anak kami. Kami sangat mengharapkan bantuannya, " tutur Akhmad S Pd, Kepala SD Negeri Babo, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang, kepada Media Indonesia, Sabtu (24/1).
Dikatakan Akhmad, siswa juga harus duduk lesehan dengan alas plastik terpal. Pasalnya tidak ada kursi tempat duduk sebagaimana layaknya ruang belajar standar kurikulum pendidikan. Anak-anak hanya menggunakan meja lipat kecil untuk menulis sambil duduk lesehan. Bukan hanya murid, untuk guru juga tidak ada meja dan kursi tempat duduk.
Kondisi paling mengkhawatirkan lagi adalah ketika hujan deras, di alas plasti berlantai tanah itu terjadi lembab, karena air mengalir dari luar tenda. Kemudian suara kebisingan siraman hujan pada atap terpal hingga mengusik kenyamanan belajar mengajar.
Lebih parah lagi saat terik matahari menerpa atap tenda yang tidak memiliki plafon. Suasana cukup panas hingga bercucuran membasahi baju. "Makanya kalau sudah pukul 10.00 Wib cuaca sudah panas. Jam belajar segera diakhir. Anak-anak sudah diperbolehkan pulang," kata Akhmad.
Dikatakannya, untuk pakaian seragam, tas, alat tulis dan meja lipat lesehan ukuran kecil merupakan sumbangsih dari Namira Islamic Shool Medan, Sumatera Utara. Sedangkan fasilitas tempat Mandi Cuci dan Kakus (MCK) dari bantuan Komunitas Weekdays Adventure Indoonesia (Indonesia Offroad FederationFederation-IOF, Jakarta).
"Kami membantu satu unit MCK dengan fasilitas 2 unit kakus. Di awal-awal sekolah darurat di mulai juga menyediakan jaringan internet starlink. harapannya adalah sekolah SD, SMP, SMA dan Madrasah Aliyah Swasta di lapangan satu lokasi itu bisa beroperasi dan anak kembali bersekolah," tutur Asep Sujana, relawan Komunitas Weekdays Adventure Indonesia (Indonesia Offroad FederationFederation-IOF, Jakarta).
Dari pengamatan Media Indonesia, keadaan paling mengharukan adalah dialami para guru dan tenaga kependidikan di SD Negeri Babo tersebut. Mereka yang rumahnya juga telah hancur dan rata dengan tanah, setelah banjir surut hanya tersisa baju di badan.
Lalu semua busana dan pakaian seragam dinas sekolah juga musnah ditelan banjir besar akhir November 2025 itu. Untungnya mereka sempat menyelamatkan diri tiga hari tiga malam ke lokasi lain.
Untuk pergi ke sekolah untuk mengajar, kini hanya bisa menggunakan baju sumbangan dari donatur yang datang. Itu juga bukan baju baru dari mall atau toko pakai jadi. Busana yang mereka pakai untuk pergi mengajar di depan muridnya hanya pakaian bekas layak pakai.
Karena itu tampak pemandangan warna-warni berbagai bentuk dan beragam model busana. Bahkan ada yang harus menggunakan baju kaus dan tidak bersepatu sebagaimana layaknya penampilan guru.
Meskipun demikian ada 8 orang guru dan 2 tenaga kependidikan sekolah setempat tetap hadir dengan aktif dan disiplin sebagai tauladan untuk siswanya. Tujuan mereka adalah agar roda pendidikan putra putri setempat kembali menimba ilmu sebagaimana biasa.
"Tidak ada lagi seragam dinas sekolah. Yang ada hanya busana bantuan donatur yang menyambangi ke sini. Bukan saja guru SD, untuk yang mengajar di SMP, SMA dan Madarasah Aliyah juga demikian, " tambah Akhmad dengan suara serah dan raut wajah baru.
Budayawan dari Universitas Syiah Kuala (USK), M Adli Abdullah mengatakan, dunia pendidikan hal yang harus disegerakan melakukan pemulihan setelah berakhir bencana. Pasalnya mengabaikan pendidikan berarti membiarkan kebodohan generasi bangsa.
"Rasul menegaskan, pendidikan merupakan kewajiban mutlak, berlangsung seumur hidup dari buaian hingga liang kubur, dan itu jalan menuju surga," tutur Adli Abdullah.
Dosen Senior USK itu juga mencontohkan Kaisar Hirohito, paska perang Dunia II, yang mengumpulkan 45.000 guru yang tersisa di seluruh negera matahari terbit itu. Kaisar dengan penuh harapan mengatakan, kepada seluruh pasukan dan juga rakyatnya, bahwa kepada guru lah sekarang mereka akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.
"Karena itu dari yang diperkirakan mereka dalam waktu 50 tahun tidak akan bangkit. Tenyata tempo 20 tahun saja meraih kemajuan dan keberhasilan luar biasa, diluar dugaan para pakar dunia, " jelas lelaki yang dikenal memahami sosial budaya masyarakat Serambi Mekkah itu. (H-1)
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan sampai saat ini jumlah sekolah yang sudah beroperasi pascabencana banjir bandang dan longsor di Sumatra.
Pada masa tanggap darurat, Program Peduli Bencana Sumatera #KuatBersama telah menjangkau 50.695 penerima manfaat
EIGER Adventure melalui kampanye EIGER Share menyalurkan sekitar 5 ton bantuan pakaian baru. Terdiri dari 19.000 potong lebih, mencakup jaket, kaos, kemeja, dan juga tas.
SERUAN penetapan banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi bencana nasional masih terus digelorakan.
Kenaikan harga kebutuhan pokok cabai merah lantaran pasokannya yang mulai berkurang dari daerah penghasil setelah terputusnya akses jalan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved