Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek menyebutkan Bibit Siklon Tropis 97S yang saat ini terpantau di wilayah utara Australia berpotensi menguat menjadi siklon tropis dalam beberapa hari ke depan.
Meski begitu, sistem cuaca ini berbeda dengan Siklon Tropis Seroja yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2021.
Sti Nenot’ek menyampaikan hal itu dalam Zoom Meeting bersama sejumlah pemangku kepentingan di Kupang, Sabtu (17/1).
Ia menjelaskan, posisi Bibit Siklon Tropis 97S saat ini berada di sekitar Darwin, Australia, dengan jarak sekitar 800 kilometer dari Kota Kupang, jauh di luar radius inti siklon tropis yang umumnya hanya berkisar 150-200 kilometer. Dengan jarak tersebut, wilayah NTT tidak berada pada lintasan langsung sistem siklon ini.
Meski bibit siklon ini diperkirakan meningkat statusnya menjadi siklon tropis hingg 23 Januari 2026, dampak yang dirasakan di NTT bersifat tidak langsung. "Kondisi ini berbeda dengan Siklon Seroja yang terbentuk sangat dekat dan masuk ke daratan NTT,” ujar Sti Nenot’ek.
BMKG memprediksi Bibit Siklon Tropis 97S berpotensi menguat menjadi siklon tropis pada Senin (19/1) atau Selasa (20/1) mendatang.
Namun, meskipun mengalami penguatan, sistem cuaca ini diperkirakan tetap bergerak di perairan utara Australia dan tidak mendekati wilayah NTT secara signifikan.
Adapun dampak cuaca yang saat ini dirasakan masyarakat NTT, khususnya di wilayah selatan seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan bagian selatan, Rote Ndao, dan Sabu Raijua, berupa awan tebal disertai hujan ringan hingga lebat. Hujan dilaporkan terjadi sejak malam hingga siang hari di sejumlah wilayah.
Sementara itu, kondisi cuaca di wilayah Flores, Lembata, Alor, dan Pantar relatif lebih baik dibandingkan wilayah selatan NTT.
Menurut Sti Nenot'ek, hujan yang melanda wilayah selatan NTT saat ini dipicu oleh konvergensi dan belokan angin (shear line) akibat pengaruh Bibit Siklon Tropis 97S tersebut.
Kondisi ini juga diperkuat oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase 6, Gelombang Ekuatorial Rossby, serta suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar NTT.
Untuk periode 16-19 Januari 2026, cuaca di NTT diprakirakan berawan dengan potensi hujan ringan hingga lebat di beberapa wilayah. Sementara pada 20-22 Januari 2026, BMKG memperkirakan hampir seluruh wilayah NTT berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang.
Dia juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Masyarakat diminta tidak panik karena sistem cuaca ini tidak berdampak langsung seperti Siklon Tropis Seroja 2021.
Sebagai perbandingan, Siklon Tropis Seroja pada 2021 terbentuk sangat dekat dengan wilayah NTT dan bahkan melintasi daratan, khususnya di sekitar Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, sehingga menimbulkan dampak langsung berupa hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Berbeda dengan itu, Bibit Siklon Tropis 97S saat ini berada cukup jauh dari NTT. Dampak yang ditimbulkan diperkirakan tidak langsung, terutama berupa peningkatan curah hujan yang lebih dominan terjadi di wilayah selatan NTT, seperti Rote Ndao, Sabu Raijua, dan selatan Pulau Sumba.
Sementara itu, Marcel, perwakilan BPBD Provinsi NTT, menyampaikan pihaknya telah mencermati rilis prakiraan cuaca dan gelombang laut dari BMKG Stasiun Meteorologi El Tari Kupang.
“Kami sudah mulai mengeluarkan imbauan, termasuk larangan sementara aktivitas melaut di wilayah berisiko. Selain itu, meskipun dampak lebih dominan di wilayah selatan, seluruh kabupaten dan kota tetap kami minta meningkatkan kesiapsiagaan,” ujar Marcel. (H-2)
Selain pengaruh siklon tropis, kondisi cuaca ekstrem juga dipicu oleh menguatnya Monsun Asia serta aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin.
BMKG mengungkapkan bahwa kemunculan tiga bibit siklon tropis, masing-masing bernomor 94W, 92S, dan 98P, memicu belokan serta perlambatan angin yang membentuk daerah konvergensi.
Peringatan ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana sejak awal, terutama melalui kebijakan tata guna lahan yang berbasis sains dan bukti ilmiah.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi cuaca signifikan ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis Luana yang terpantau bergerak di selatan perairan Indonesia.
BMKG: potensi cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis 91S saat ini terpantau aktif di Samudra Hindia barat daya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berpeluang jadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
Bibit Siklon Tropis 94W saat ini terdeteksi di Samudra Pasifik sebelah utara Papua dengan tekanan 1005 hektopaskal dan kecepatan angin berkisar antara 20 hingga 25 knot.
BMKG melaporkan Indonesia tengah dikepung oleh tiga bibit siklon tropis aktif yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap gelombang tinggi
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mendeteksi pembentukan Siklon Tropis Luana atau Siklon Luana yang menyebabkan angin kencang di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG: potensi cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis 91S saat ini terpantau aktif di Samudra Hindia barat daya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berpeluang jadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
Sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan Nusa Tenggara Barat sempat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.
BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, seiring masih signifikannya pengaruh dinamika atmosfer global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved