Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, seiring masih signifikannya pengaruh dinamika atmosfer global, regional, dan lokal terhadap kondisi cuaca nasional.
Prakiraan cuaca BMKG menyebut pada skala global, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian besar perairan Indonesia turut memperkaya kandungan uap air di atmosfer.
Dari sisi dinamika intra-musiman, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif melintasi Laut Maluku, Maluku Utara, Laut Halmahera, perairan utara Maluku Utara hingga Papua, serta pesisir utara Papua.
"Aktivitas ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut. Gelombang ekuator juga terpantau aktif dan memperkuat proses konvektif di sejumlah kawasan," ungkap BMKG dalam keterangan resmi, Senin (19/1).
BMKG mencatat kombinasi MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia barat Sumatra, sebagian wilayah Sumatra, sebagian Kalimantan, Maluku Utara, serta perairan utara Papua. Kombinasi dinamika atmosfer tersebut berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah terdampak.
Selain itu, Siklon Tropis Nokaen yang berada di Laut Filipina, utara Maluku Utara, diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara sekitar 1000 hPa, dengan arah gerak ke barat laut. Keberadaan siklon ini berpengaruh terhadap pembentukan pola angin, khususnya di wilayah utara Indonesia bagian timur.
BMKG juga memantau keberadaan Bibit Siklon 96S yang diprakirakan bergerak persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara sekitar 1002 hPa. Sistem ini memengaruhi pola angin dan pembentukan daerah konvergensi yang memanjang dari pesisir barat Sumatra, Riau, Jambi hingga Lampung, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Seram, Laut Arafura, hingga Papua Barat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan sepanjang daerah konvergensi.
Dalam sepekan ke depan, BMKG juga mengidentifikasi potensi peningkatan seruakan dingin atau cold surge dari Benua Asia. "Indikasi ini terlihat dari perbedaan tekanan udara yang cukup tinggi di wilayah Gushi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan," ungkapnya.
Kondisi tersebut memperkuat masuknya monsun Asia yang bergerak lebih cepat dan mudah melintasi ekuator melalui Selat Karimata. Dampaknya, potensi kejadian cuaca ekstrem diperkirakan meningkat di wilayah selatan Indonesia, khususnya Sumatra bagian selatan dan Pulau Jawa.
Untuk periode 19 hingga 22 Januari 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang yang berpeluang terjadi di Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk hujan lebat hingga sangat lebat dengan status siaga di Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Sementara itu, potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua.
Memasuki awal tahun 2026, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba serta risiko bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
"Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, wisata, dan perayaan," jelasnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk aktif memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman [www.bmkg.go.id](http://www.bmkg.go.id), aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial @infobmkg. Selain itu, BMKG menyediakan layanan Digital Weather for Traffic yang terintegrasi secara nasional untuk memberikan informasi cuaca khusus jalur perjalanan, mulai dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir, yang dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG maupun laman signature.bmkg.go.id/dwt. (H-3)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi mendominasi sejumlah wilayah Minggu, 18 Januari 2026.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi cuaca signifikan masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Sabtu, 17 Januari 2026.
CUACA ekstrem di Jawa Tengah masih berpotensi berlangsung hingga Minggu (18/1).
MUNCULNYA Bibit Siklon Tropis 96S di selatan wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) memicu cuaca buruk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca signifikan di sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat, 16 Januari 2026.
BMKG mengatakan potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya di sebagian besar Sumatra, Jawa bagian barat, serta wilayah tengah dan timur Indonesia
Direktorat Meteorologi Publik BMKG menyebut dalam sepekan ke depan, kombinasi gelombang atmosfer, yakni low fequency, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial cukup konsisten.
Daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Laut Arafura, di Laut Banda, di Laut Andaman, di Laut China Selatan, dan di Laut Filipina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved