Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI impor Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Oktober 2025 tercatat mencapai US$1.866.025.235,82. Capaian ini menegaskan posisi Kepri sebagai salah satu pintu masuk utama perdagangan internasional nasional, sekaligus mencerminkan tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal dari luar negeri.
Struktur ekonomi Kepri yang ditopang sektor industri manufaktur, galangan kapal, elektronik, dan industri berorientasi ekspor di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun menjadikan impor sebagai komponen penting dalam rantai produksi. Aktivitas impor yang tinggi menunjukkan roda industri masih bergerak aktif.
Namun, pengamat ekonomi Kepulauan Riau, Mustaqim, menilai capaian tersebut juga menjadi sinyal kuat masih tingginya ketergantungan industri daerah terhadap pasokan luar negeri.
“Angka impor yang menembus US$1,86 miliar ini menandakan industri Kepri masih berjalan. Tetapi di sisi lain, ini juga menjadi alarm bahwa struktur industri kita masih sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor,” katanya, Senin (29/12) kepada Media Indonesia.
Namun demikian, tingginya nilai impor juga perlu dicermati dari aspek ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Tanpa penguatan industri hulu dan pemanfaatan bahan baku dalam negeri, impor yang tinggi berpotensi memengaruhi keseimbangan perdagangan daerah apabila tidak diimbangi dengan kinerja ekspor yang memadai.
Pemerintah daerah terus mendorong penguatan struktur industri melalui peningkatan investasi, pengembangan industri bernilai tambah, serta optimalisasi peran kawasan perdagangan bebas agar aktivitas impor dapat memberikan dampak positif yang lebih luas terhadap perekonomian daerah.
Menurutnya, tanpa penguatan industri hulu dan rantai pasok lokal, tingginya impor berpotensi menekan keseimbangan neraca perdagangan daerah apabila tidak diimbangi peningkatan ekspor bernilai tambah.
“Kepri jangan hanya menjadi pintu masuk barang impor. Harus ada dorongan agar kawasan industri benar-benar menghasilkan nilai tambah dan memperkuat ekspor,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Gubernur Kepulauan Riau Amsar Ahmad menilai tingginya nilai impor mencerminkan dinamika industri dan perdagangan yang masih kuat di daerah. Namun, ia menegaskan impor harus diarahkan untuk mendorong produksi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Impor masih dibutuhkan untuk menopang industri, terutama bahan baku dan barang modal. Tetapi yang terpenting, aktivitas impor ini harus mampu menggerakkan produksi dan ekspor, bukan sekadar perdagangan,” katanya.
Gubernur menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk terus memperkuat iklim investasi, mendorong hilirisasi industri, serta meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor dan menjaga keseimbangan perdagangan.
Ke depan, tantangan utama Kepri adalah memastikan tingginya arus impor dapat berkontribusi langsung pada peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan struktur industri daerah, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan. (HK/E-4)
MEMASUKI awal tahun 2026, tekanan inflasi di Kepulauan Riau (Kepri) perlu diwaspadai seiring masih tingginya harga pangan serta tren kenaikan harga emas dunia.
BMKG Kelas I Hang Nadim Batam mengimbau nelayan dan pengguna jasa transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di perairan Kepulauan Riau (Kepri).
PERKEMBANGAN transaksi digital di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan lonjakan signifikan.
Bea Cukai Kepulauan Riau berhasil menggagalkan penyelundupan 281.583 benih bening lobster di Perairan Utara Bintan.
Kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap masyarakat sekitar yang telah mendukung keberlangsungan usaha tambak udang vaname di Desa Lanjut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved