Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Impor Kepri Tembus US$1,86 Miliar, Industri Aktif tapi Ketergantungan Bahan Baku masih Tinggi

Hendri Kremer
29/12/2025 19:53
Impor Kepri Tembus US$1,86 Miliar, Industri Aktif tapi Ketergantungan Bahan Baku masih Tinggi
Perkembangan ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Riau pada November 2024. Nilai ekspor tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring aktivitas perdagangan dan industri yang tetap terjaga.(Dok BPS Kepulauan Riau )

NILAI impor Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Oktober 2025 tercatat mencapai US$1.866.025.235,82. Capaian ini menegaskan posisi Kepri sebagai salah satu pintu masuk utama perdagangan internasional nasional, sekaligus mencerminkan tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal dari luar negeri.

Struktur ekonomi Kepri yang ditopang sektor industri manufaktur, galangan kapal, elektronik, dan industri berorientasi ekspor di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun menjadikan impor sebagai komponen penting dalam rantai produksi. Aktivitas impor yang tinggi menunjukkan roda industri masih bergerak aktif.

Namun, pengamat ekonomi Kepulauan Riau, Mustaqim, menilai capaian tersebut juga menjadi sinyal kuat masih tingginya ketergantungan industri daerah terhadap pasokan luar negeri.

“Angka impor yang menembus US$1,86 miliar ini menandakan industri Kepri masih berjalan. Tetapi di sisi lain, ini juga menjadi alarm bahwa struktur industri kita masih sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor,” katanya, Senin (29/12) kepada Media Indonesia.

Namun demikian, tingginya nilai impor juga perlu dicermati dari aspek ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Tanpa penguatan industri hulu dan pemanfaatan bahan baku dalam negeri, impor yang tinggi berpotensi memengaruhi keseimbangan perdagangan daerah apabila tidak diimbangi dengan kinerja ekspor yang memadai.

Pemerintah daerah terus mendorong penguatan struktur industri melalui peningkatan investasi, pengembangan industri bernilai tambah, serta optimalisasi peran kawasan perdagangan bebas agar aktivitas impor dapat memberikan dampak positif yang lebih luas terhadap perekonomian daerah.

Menurutnya, tanpa penguatan industri hulu dan rantai pasok lokal, tingginya impor berpotensi menekan keseimbangan neraca perdagangan daerah apabila tidak diimbangi peningkatan ekspor bernilai tambah.

“Kepri jangan hanya menjadi pintu masuk barang impor. Harus ada dorongan agar kawasan industri benar-benar menghasilkan nilai tambah dan memperkuat ekspor,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Gubernur Kepulauan Riau Amsar Ahmad menilai tingginya nilai impor mencerminkan dinamika industri dan perdagangan yang masih kuat di daerah. Namun, ia menegaskan impor harus diarahkan untuk mendorong produksi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Impor masih dibutuhkan untuk menopang industri, terutama bahan baku dan barang modal. Tetapi yang terpenting, aktivitas impor ini harus mampu menggerakkan produksi dan ekspor, bukan sekadar perdagangan,” katanya.

Gubernur menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk terus memperkuat iklim investasi, mendorong hilirisasi industri, serta meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor dan menjaga keseimbangan perdagangan.

Ke depan, tantangan utama Kepri adalah memastikan tingginya arus impor dapat berkontribusi langsung pada peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan struktur industri daerah, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan. (HK/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik