Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Respons Budaya Pasca-bencana, Sinema untuk Pemulihan Sosial Sumatra

Aries Wijaksena
22/12/2025 15:22
Respons Budaya Pasca-bencana, Sinema untuk Pemulihan Sosial Sumatra
.(Istimewa)

Masyarakat sipil mengambil peran aktif dalam mendukung percepatan pemulihan pascabanjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera melalui inisiatif bertajuk Charity Film Screening Pray for Sumatera. 

Gerakan ini lahir dari solidaritas publik dan kepedulian lintas komunitas budaya guna merespons kebutuhan mendesak warga, khususnya pada fase pemulihan sosial yang masih berlangsung di wilayah-wilayah terdampak bencana.

Inisiatif kemanusiaan ini digagas secara kolektif oleh empat festival film daerah, yakni Aceh Film Festival, Medan Film Festival, West Sumatera Film Festival, dan Lake Toba Film Festival. 

Dalam gerakan ini, film tidak hanya diposisikan sebagai medium hiburan semata, melainkan sebagai instrumen kesadaran sosial dan ruang pertemuan warga untuk membangun solidaritas lintas wilayah dalam menghadapi krisis kemanusiaan serta tantangan ekologis yang kian nyata.

Pada penyaluran donasi Tahap I, bantuan masyarakat yang dihimpun melalui rekening Yayasan Aceh Dokumenter dibagi secara proporsional ke tiga wilayah terdampak utama, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penggalangan dana dilakukan melalui program pemutaran lima film pendek produksi sineas lokal di berbagai daerah di Indonesia yang tidak terdampak bencana. 

Selain melalui apresiasi karya, donasi juga mengalir dari partisipasi langsung masyarakat yang menyalurkan bantuan secara empatik bagi para korban.

Khusus untuk wilayah Sumatera Utara, Medan Film Festival dan Lake Toba Film Festival menyalurkan donasi kepada Sanggar Pelita, sebuah ruang belajar komunitas di kawasan bantaran Sungai Deli, Kota Medan. Banjir besar yang terjadi pada 26 November 2025 lalu menyebabkan kerusakan berat pada fasilitas sanggar, sehingga aktivitas belajar anak-anak dan relawan sempat terhenti total. Sebagai respons pemulihan awal, donasi senilai Rp8.750.000 dalam bentuk barang kebutuhan penunjang kegiatan diserahkan pada Sabtu (20/12) untuk mengaktifkan kembali ruang belajar tersebut.

Selain dukungan material, pihak penyelenggara juga menggelar pemutaran film khusus anak-anak di Sanggar Pelita sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial. Penayangan film-film yang sarat pesan pendidikan ini bertujuan untuk menghadirkan kembali rasa aman, kegembiraan, serta memantik semangat belajar anak-anak pascatrauma bencana. Pendekatan budaya ini dinilai efektif untuk membantu masyarakat terdampak agar dapat bangkit dengan lebih tangguh melalui media yang edukatif.

Perwakilan pendiri Sanggar Pelita, TM Taslim, menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Indonesia atas dukungan yang diberikan melalui gerakan ini. “Terima kasih kepada masyarakat Indonesia atas donasi dan kepeduliannya. Bantuan ini sangat membantu dan memberi semangat baru bagi kami sebagai relawan untuk kembali bangkit, merawat semangat anak-anak agar tumbuh menjadi orang-orang baik dan manusia yang tangguh, demi Indonesia yang sehat, sejahtera, adil, dan makmur,” ujar Taslim dalam keterangannya, Senin (22/12).

Inisiatif Pray for Sumatera ini sekaligus menjadi pengingat bagi publik mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan pendidikan kebencanaan sejak usia dini. Melalui kolaborasi masyarakat sipil, gerakan ini menegaskan bahwa respons budaya dan kerja kolektif merupakan bagian krusial dari ekosistem pemulihan bencana di Indonesia. Solidaritas lintas komunitas ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan fisik maupun sosial masyarakat agar dapat bangkit kembali dengan kemandirian yang lebih kuat. (P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik