Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA siklon senyar yang berujung puncak banjir bandang pada Rabu dan Kamis 27 November telah berlalu. Di balik hari-hari setelah bencana melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat itu, sekarang menyisakan kehancuran, kedukaan, kesedihan dan keterpurukan ekonomi hingga terancam kelaparan di tanah ibu pertiwi.
Jutaan roda perekonomian anak bangsa yang sebelumnya melahirkan devisa negara. Dalam waktu sekejap kini harus terhenti dan senyap tiada berdaya.
Belum lagi ribuan wanita hamil dan bayi tidak berdosa harus hilang asupan gizi dari air susu ibunya. Itu disebabkan kebutuhan makanan berprotein penuh gizi si ibu telah langka. Namun Entah kapan penderitaan mereka akan sirna.
Mengapa tidak, sesuai penelusuran Media Indonesia, Senin (15/12) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, ketersediaan berbagai barang kebutuhan pokok atau bahan makanan semakin langka. Lalu terjadi peningkatan sangat luar biasa sehingga sulit terjangkau oleh warga.
Misalnya di Kota Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah, setelah kawasan itu terkurung longsor dan jembatan putus, harga beras sudah mencapai Rp 400.000 hingga Rp 500.000/sak (ukuran 15 kg). Harga tersebut sungguh memberatkan bila dibandingkan sebelum bencana banjir yang harganya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 225.000/sak.
Lalu lalu elpiji ukuran 15 kg (gas bright) dari sebelumnya Rp 180.0000 hingga 200.000/tabung, kini naik menjadi Rp 500.000/tabung. Kemudian elpiji ukuran 3 kg (gas melon) dari sebelumnya Rp 20.000/tabung, sekarang naik menjadi Rp 220.000/tabung.
Kemudian harga telor ayam mencapai Rp 120.000 hingga Rp 160.000/papan (30 butir), dari sebelumnya Rp 55.000 hingga Rp 57.000/papan. Berikutnya harga ikan asin kwalitas sedang (standar) sudah mencapai Rp 200.000/kg dari sebelum banjir Rp 80.000/kg.
Sedangkan ikan segar selama banjir putus total, tidak pedagang dari kawasan pesisir yang bisa menembus dataran tinggi gayo itu.
Kenaikan harga juga terjadi pada tempe, yaitu dari biasanya 25.000/batang (ukuran telapak tangan) kini naik menjadi Rp 10.000/batang. Selain bahan makanan pokok, kenaikan harga juga disusul kayu bakar yang menjadi 35.000/ikat (ukuran 3 kali masak keluarga)
Padahal sebelumnya kayu itu jarang di jual. Kalaupun ada yang jual paling sekitar 5.000 atau 7.000/ikat. Larisnya kayu bakar itu karena warga sudah beralih akibat kelangkaan elpiji.
"Untuk mempertahankan kebutuhan keluarga tidak ada jalan lain kecuali harus membeli walau dengan harga mahal. Ini bukan pilihan, tapi keterpaksaan yang harus dijalani" tutur Rahmi Zul Maulida, Dosen Pendidikan Matematika UIN Sultanah Nahrasiah Lhok Seumawe, yang juga tokoh Masyarakat asal Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.
Dikatakannya tingginya harga itu tidak bisa dihindari. Kondisi pasar Kata Takengon sudah hampir lumpuh yakni tidak banyak kedai bahan pokok yang masih buka. Sedangkan sebagian lainnya sudah tutup karena kehabisan stok barang.
Seperti warung nasi, warung kopi hampir tidak ada lagi yang aktif. Mereka lebih milih tutup usaha akibat ketiadaan barang atau krisis bahan baku.
Untuk membeli bahan pokok pangan saja lebih banyak digelar atau dijual di pinggiran jalan. Merekapun para pedagang itu pun tidak memiliki stok besar.
Pasalnya barang-barang beras minyak, telor, ikan asin dan lainnya itu di beli dari pasar dadakan Kamp sebuah kawasan tengah hutan pegunungan perbatasan Kabupaten Bener Meriah-Kabupaten Aceh Utara. Untuk menjangkau Kamp harus menempuh perjalanan puluhan km atau satu hari pulang-pergi jalan kaki.
Pasar Kamp itu timbul dadakan atas inisiatif pedagang Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang berjualan di jalur itu untuk meringankan pedagang dari Bener Meriah serta Aceh Tengah.
Pedagang dari Aceh Tengah kalau berbelanja barang dagangan di Kamp harus menempuh jalan kaki menghabiskan waktu satu hari. Kalau menggunakan sepeda motor hanya boleh separuh jalan.
Rahmi berharap penderitaan yang sudah lebih setengah bulan segera akan berakhir. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat tanah gayo itu sekarang sudah sekarat. Bahkan mereka yang sebelumnya pergi ke kebun kopi atau menanam sayuran sekarang semuanya terhenti.
"Cukuplah penderitaan ini. Kami mohon pemerintah bukalah mata hati selebar-lebarnya. Kalaupun tidak meningkatkan status musibah ini sebagai bencana nasional, bukalah pintu izin kepada negara luar untuk membantu kami. Bagai mana kami berharap dari kondisi penanganan tanggap darurat ini, sudah 19 hari bencana ini, baru 1 kg beras kami terima bantuan" tutur warga Kota Takengon lainnya. (H-2)
Bantuan sebanyak 3 ton itu berupa makanan siap saji, obat-obatan, filter air, beras hingga school kit. Pesawat ATR tersebut juga akan membawa bantuan menuju Bener Meriah, Takengon
Pemerintah mempercepat pemulihan layanan vital di wilayah terdampak bencana di Aceh.
Saat terjadi bencana banjir dan longsor di Aceh, akses menuju Takengon terputus sehingga satu-satunya cara untuk mengangkut bantuan, seperti pangan, hanya bisa menggunakan pesawat.
Danau Laut Tawar, Gua Loyang Koro, Pantan Terong serta Pasar Sayur atau pasar buah di tengah kota Takengon Ibukota Kabupaten Aceh Tengah menarik perhatian wisatawan.
Harga kebutuhan pokok yang dijual di gerakan pangan murah seperti minyak goreng, Rp19 ribu per liter, gula pasir Rp18 ribu per kilogram, tepung Rp10 ribu per kilogram.
Sidak ini merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi potensi penimbunan, permainan harga, maupun kelangkaan bahan pangan
Kenaikan harga di pasar tradisional terjadi pada telur, daging ayam, bawang merah, bawang putih, daging sapi, beras premium dan sayuran
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, komoditas seperti beras, daging ayam, telur ayam, gula, dan daging sapi masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan.
Pemkot Batam menambah pasokan cabai dari Lombok, dan petani lokal diperkirakan memasuki masa panen pada Desember.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved