Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Bahan Pokok Langka, Kota Takengon, Aceh Tengah Hampir Lumpuh, Harga Beras Rp500.000/15 Kg

Amiruddin Abdullah Reubee
16/12/2025 08:22
Bahan Pokok Langka, Kota Takengon, Aceh Tengah Hampir Lumpuh, Harga Beras Rp500.000/15 Kg
Ilustrasi(Dok Istimewa)

FENOMENA siklon senyar yang berujung puncak banjir bandang pada Rabu dan Kamis 27 November telah berlalu. Di balik hari-hari setelah bencana melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat itu, sekarang menyisakan kehancuran, kedukaan, kesedihan dan keterpurukan ekonomi hingga terancam kelaparan di tanah ibu pertiwi.

Jutaan roda perekonomian anak bangsa yang sebelumnya melahirkan devisa negara. Dalam waktu sekejap kini harus terhenti dan senyap tiada berdaya. 

Belum lagi ribuan wanita hamil dan bayi tidak berdosa harus hilang asupan gizi dari air susu ibunya. Itu disebabkan kebutuhan makanan berprotein penuh gizi si ibu telah langka. Namun Entah kapan penderitaan mereka akan sirna. 

Mengapa tidak, sesuai penelusuran Media Indonesia, Senin (15/12) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, ketersediaan berbagai barang kebutuhan pokok atau bahan makanan semakin langka. Lalu terjadi peningkatan sangat luar biasa sehingga sulit terjangkau oleh warga. 

Misalnya di Kota Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah, setelah kawasan itu terkurung longsor dan jembatan putus, harga beras sudah mencapai Rp 400.000 hingga Rp 500.000/sak (ukuran 15 kg). Harga tersebut sungguh memberatkan bila dibandingkan sebelum bencana banjir yang harganya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 225.000/sak.

Lalu lalu elpiji ukuran 15 kg (gas bright) dari sebelumnya Rp 180.0000 hingga 200.000/tabung, kini naik menjadi Rp 500.000/tabung. Kemudian elpiji ukuran 3 kg (gas melon) dari sebelumnya Rp 20.000/tabung, sekarang naik menjadi Rp 220.000/tabung.

Kemudian harga telor ayam mencapai Rp 120.000 hingga Rp 160.000/papan (30 butir), dari sebelumnya Rp 55.000 hingga Rp 57.000/papan. Berikutnya harga ikan asin kwalitas sedang (standar) sudah mencapai Rp 200.000/kg dari sebelum banjir Rp 80.000/kg.

Sedangkan ikan segar selama banjir putus total, tidak pedagang dari kawasan pesisir yang bisa menembus dataran tinggi gayo itu. 

Kenaikan harga juga terjadi pada tempe, yaitu dari biasanya 25.000/batang (ukuran telapak tangan) kini naik menjadi Rp 10.000/batang. Selain bahan makanan pokok, kenaikan harga juga disusul kayu bakar yang menjadi 35.000/ikat (ukuran 3 kali masak keluarga) 

Padahal sebelumnya kayu itu jarang di jual. Kalaupun ada yang jual paling sekitar 5.000 atau 7.000/ikat. Larisnya kayu bakar itu karena warga sudah beralih akibat kelangkaan elpiji. 

"Untuk mempertahankan kebutuhan keluarga tidak ada jalan lain kecuali harus membeli walau dengan harga mahal. Ini bukan pilihan, tapi keterpaksaan yang harus dijalani" tutur Rahmi Zul Maulida, Dosen Pendidikan Matematika UIN Sultanah Nahrasiah Lhok Seumawe, yang juga tokoh Masyarakat asal Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. 

Dikatakannya tingginya harga itu tidak bisa dihindari. Kondisi pasar Kata Takengon sudah hampir lumpuh yakni tidak banyak kedai bahan pokok yang masih buka. Sedangkan sebagian lainnya sudah tutup karena kehabisan stok barang. 

Seperti warung nasi, warung kopi hampir tidak ada lagi yang aktif. Mereka lebih milih tutup usaha akibat ketiadaan barang atau krisis bahan baku. 

Untuk membeli bahan pokok pangan saja lebih banyak digelar atau dijual di pinggiran jalan. Merekapun para pedagang itu pun tidak memiliki stok besar. 

Pasalnya barang-barang beras minyak, telor, ikan asin dan lainnya itu di beli dari pasar dadakan Kamp sebuah kawasan tengah hutan pegunungan perbatasan Kabupaten Bener Meriah-Kabupaten Aceh Utara. Untuk menjangkau Kamp harus menempuh perjalanan puluhan km atau satu hari pulang-pergi jalan kaki. 

Pasar Kamp itu timbul dadakan atas inisiatif pedagang Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang berjualan di jalur itu untuk meringankan pedagang dari Bener Meriah serta Aceh Tengah. 

Pedagang dari Aceh Tengah kalau berbelanja barang dagangan di Kamp harus menempuh jalan kaki menghabiskan waktu satu hari. Kalau menggunakan sepeda motor hanya boleh separuh jalan. 

Rahmi berharap penderitaan yang sudah lebih setengah bulan segera akan berakhir. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat tanah gayo itu sekarang sudah sekarat. Bahkan mereka yang sebelumnya pergi ke kebun kopi atau menanam sayuran sekarang semuanya terhenti. 

"Cukuplah penderitaan ini. Kami mohon pemerintah bukalah mata hati selebar-lebarnya. Kalaupun tidak meningkatkan status musibah ini sebagai bencana nasional, bukalah pintu izin kepada negara luar untuk membantu kami. Bagai mana kami berharap dari kondisi penanganan tanggap darurat ini, sudah 19 hari bencana ini, baru 1 kg beras kami terima bantuan" tutur warga Kota Takengon lainnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik